PALANGKA RAYA – Kawasan Tumbang Nusa kembali menjadi perhatian di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hampir setiap tahun terjadi. Karakteristik kawasan yang didominasi lahan gambut dinilai membuat wilayah tersebut sangat rentan terbakar, terutama ketika kondisi lahan mulai mengering.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, mengatakan kondisi gambut di Tumbang Nusa menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam melihat persoalan karhutla di kawasan tersebut.
Menurutnya, gambut yang memiliki kedalaman cukup tinggi dan semakin kering saat musim kemarau membuat risiko kebakaran meningkat. Ketika kandungan air di dalam gambut menurun, api juga berpotensi lebih sulit dikendalikan karena dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan.
“Menurut kami dari Walhi Kalimantan Tengah, berbicara kondisi karhutla di Tumbang Nusa saat ini memang menjadi salah satu hal yang memprihatinkan. Karena selain di sana gambutnya begitu dalam, juga didukung dengan kondisi yang saat ini semakin mengering dan rentan kebakaran,” kata Janang, Selasa (4/8/2026).
Walhi Soroti Aktivitas Perusahaan di Tumbang Nusa
Selain faktor cuaca dan kondisi gambut, Walhi Kalteng juga menyoroti aktivitas perusahaan yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembangunan infrastruktur berupa akses jalan dan kanal untuk mendukung aktivitas perusahaan.
Janang menilai pembukaan akses menuju lokasi perusahaan perlu dilihat secara menyeluruh karena perubahan bentang alam di kawasan gambut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap ekosistem yang sudah rentan.
“Berbicara adanya aktivitas perusahaan yang kemudian membuka jalan menuju lokasi perusahaannya di area Tumbang Nusa ini bisa diduga menjadi salah satu faktor yang kemudian memperparah kerusakan lahan gambut yang ada di sana,” ujarnya.
Menurut Janang, persoalan tidak hanya berkaitan dengan pembukaan jalan. Keberadaan kanal atau parit yang dibuat untuk menunjang aktivitas perkebunan juga perlu menjadi perhatian.
Kanal Dinilai Bisa Mempercepat Pengeringan Gambut
Walhi menilai kanalisasi di kawasan gambut berpotensi memengaruhi kondisi hidrologis ekosistem. Ketika air gambut berkurang, lahan di sekitar kanal dinilai dapat menjadi lebih kering dan lebih rentan terbakar.
“Apalagi bilamana perusahaan melakukan proses kanalisasi yang kemudian banyak mengakibatkan lahan gambut yang ada di sekitar kanal menjadi kering dan mudah terbakar,” tegas Janang.
Ia mengatakan persoalan kanalisasi di kawasan gambut selama ini menjadi salah satu hal yang terus dikritisi Walhi. Pengelolaan gambut, menurutnya, harus mempertimbangkan kondisi hidrologis agar ekosistem tidak semakin rusak dan rentan terhadap kebakaran.
“Infrastruktur begini merupakan hal yang terus dikritik oleh kami karena proses kanalisasi ini bagian dari upaya menjadikan gambut menjadi rentan untuk terjadi kebakaran dan sangat rentan untuk terjadi kerusakan yang begitu signifikan,” jelasnya.
Pemerintah Diminta Evaluasi Aktivitas Perusahaan
Karena itu, Walhi Kalteng mendorong pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan setelah api muncul. Upaya pencegahan juga harus diperkuat dengan melakukan pemantauan terhadap aktivitas perusahaan di kawasan yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap karhutla.
Menurut Janang, pengawasan diperlukan untuk melihat sejauh mana kegiatan perusahaan berdampak terhadap kondisi gambut dan lingkungan di sekitarnya.
Evaluasi juga dinilai penting untuk memastikan seluruh aktivitas perusahaan tetap sesuai dengan daya dukung lingkungan. Termasuk meninjau dampak pembukaan akses maupun kanalisasi terhadap kondisi hidrologis kawasan gambut.
“Sehingga penting kemudian agar pemerintah bisa melakukan evaluasi dan pemantauan terhadap aktivitas perusahaan tersebut karena mesti dilihat konteks yang kemudian bisa dilakukan evaluasi terhadap perizinan dan daya dukung lingkungan yang ada di sekitar situ,” pungkas Janang.(*)
Editor : Ayu Oktaviana