PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memastikan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilakukan secara intensif.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Alpius Patanan mengatakan, pemerintah telah melakukan pergeseran tahap pertama Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp3 miliar untuk mendukung operasi penanganan karhutla.
Anggaran tersebut semula direncanakan untuk mendukung operasi selama 70 hari terhitung sejak operasi dimulai pada 11 Juli 2026.
Terkhusus di di kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, kakteristik lahan gambut yang dalam membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan maksimal dan berkelanjutan.
Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, H. Edy Pratowo mengatakan, petugas gabungan hingga kini masih bekerja di lapangan untuk mengendalikan kebakaran di kawasan tersebut.
Hal itu disampaikannya saat menanggapi perkembangan karhutla Tumbang Nusa ketika ditemui di Aula Eka Hapakat, Kantor Gubernur Kalteng, Kamis (6/8/2026).
“Kan terus bekerja, tapi memang gambut itu harus dikerja maksimal, terus-menerus. Jadi bukannya disiram terus padam, tapi harus kita siram terus, kita jaga terus,” kata Edy.
Menurutnya, penanganan kebakaran di lahan gambut tidak dapat disamakan dengan kebakaran pada lahan biasa. Meski api di permukaan telah berhasil dipadamkan, proses pembasahan dan penjagaan tetap harus dilakukan untuk mencegah api kembali muncul.
“Sekarang kan sudah dilakukan, dijaga terus,” ujarnya.
Selain penanganan langsung di lapangan, Pemprov Kalteng juga memperkuat pemantauan karhutla melalui pusat monitoring yang mencakup seluruh 13 kabupaten dan satu kota di Kalimantan Tengah.
Melalui pemantauan tersebut, perkembangan kebakaran di berbagai wilayah dapat diketahui sehingga penanganan dapat segera dilakukan ketika muncul titik api.
Dalam penanganan karhutla, Pemprov Kalteng turut mendapatkan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), termasuk operasi water bombing dan teknologi modifikasi cuaca.
Edy menjelaskan, BNPB memiliki Dana Siap Pakai (DSP) yang dapat digunakan untuk membantu daerah dalam penanggulangan bencana setelah status bencana ditetapkan.
“Kalau water bombing, kemudian teknologi modifikasi cuaca itu sudah mereka. Mereka punya namanya DSP, Dana Siap Pakai untuk penanggulangan bencana. Jadi ketika bencananya sudah ditetapkan oleh daerah, maka mereka turun membantu,” jelasnya.
Di tengah penanganan karhutla Tumbang Nusa dan sejumlah wilayah lainnya, Edy juga menyoroti dampak kabut asap terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Pemprov Kalteng melalui perangkat daerah terkait diminta terus meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, terutama mengenai penggunaan masker ketika kualitas udara memburuk.
“Melalui dinas terkait kita mengimbau supaya mereka terus melakukan edukasi, mensosialisasikan. Kalau keluar rumah, anak-anak sekolah juga sebaiknya menggunakan masker ketika memang cuacanya sudah mengalami itu,” katanya.
Masyarakat juga diminta memperhatikan perkembangan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk mengetahui tingkat pencemaran udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
“Kan ada papan ISPU, standar pencemaran udara. Dilihat ini yang sehat, kurang sehat dan sebagainya. Anak-anak yang sekolah-sekolah gunakan masker,” tegasnya.
Pemprov Kalteng berharap upaya penanganan yang dilakukan secara terus-menerus, baik melalui operasi darat, water bombing, teknologi modifikasi cuaca maupun pemantauan, mampu mengendalikan karhutla di Tumbang Nusa serta menekan dampak kabut asap terhadap masyarakat.(*)
Editor : Ayu Oktaviana