Tahukan Anda? Water Bombing Karhutla Habiskan Anggaran Lebih dari Rp100 Juta per Jam

rifqi • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:41 WIB
Pemadaman karhutla di Tumbang Nusa melalui jalur udara.(Arief Prathama/Kalteng Pos)
Pemadaman karhutla di Tumbang Nusa melalui jalur udara.(Arief Prathama/Kalteng Pos)

PALANGKA RAYA-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah membutuhkan biaya besar, terutama untuk operasi udara menggunakan helikopter water bombing. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalteng menyebut biaya operasional satu helikopter water bombing dapat mencapai lebih dari Rp100 juta per jam.

Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib mengatakan, besarnya biaya tersebut menjadi salah satu alasan pencegahan harus diperkuat sejak awal sebelum kebakaran meluas.

“Sepengetahuan saya, rata-rata di atas Rp100 juta per jam untuk satu helikopter. Kalau sehari terbang enam sampai tujuh jam, tinggal dikalikan saja. Dan itu dilakukan setiap hari selama operasi berlangsung,” ujarnya, Kamis (7/8/2026).

Operasional Udara Ditanggung Pemerintah Pusat

Toyib menjelaskan, seluruh operasional helikopter water bombing yang digunakan dalam penanganan karhutla Kalteng dibiayai pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menurutnya, BNPB melakukan kontrak dengan pihak ketiga untuk penyediaan helikopter. Setelah mendapatkan persetujuan dan surat penugasan, armada tersebut diserahkan kepada Satgas Karhutla Pemprov Kalteng untuk digunakan dalam penanganan di lapangan.

“Seratus persen dari BNPB. Mereka yang melakukan kontrak dengan pihak ketiga. Setelah ada persetujuan dan surat penugasan, helikopter diserahkan kepada Satgas Karhutla Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk digunakan di lapangan,” jelasnya.

Menurut Toyib, operasi water bombing memang sangat membantu dalam penanganan karhutla, terutama di kawasan yang sulit dijangkau personel darat.

Helikopter dapat lebih dulu menjangkau titik api sebelum tim darat mampu mencapai lokasi. Selain itu, water bombing dinilai efektif membantu mengendalikan kebakaran di lahan gambut yang masih mengeluarkan asap tebal. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa api masih dapat bertahan di bawah permukaan tanah.

“Sering kali tim darat belum sempat mencapai lokasi karena medan yang sulit, sehingga helikopter water bombing lebih dulu melakukan pemadaman. Pada lokasi yang masih mengeluarkan asap tebal, yang menandakan api masih besar di bawah permukaan, water bombing sangat membantu meringankan pekerjaan Satgas Darat,” jelasnya.

Bahkan, kata Toyib, di kawasan yang sulit dijangkau dan minim sumber air, dukungan helikopter menjadi sangat penting untuk mengendalikan api.

“Dalam kondisi tertentu, terutama saat cuaca sangat panas, kemampuan personel di lapangan juga terbatas. Jika tim darat kesulitan menjangkau lokasi atau tidak sanggup lagi beroperasi secara maksimal, maka water bombing menjadi solusi untuk membantu pengendalian kebakaran,” katanya.

Namun, Toyib menegaskan bahwa operasi udara tersebut pada dasarnya lebih berfungsi untuk memperlambat penyebaran api. Untuk kebakaran gambut dalam skala luas, hujan tetap menjadi faktor utama yang dapat memadamkan api secara menyeluruh.

“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, untuk kebakaran lahan gambut dalam skala luas, yang benar-benar mampu memadamkan adalah hujan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembasahan yang dilakukan tim Satgas Darat maupun udara dapat berlangsung berjam-jam. Namun, kondisi cuaca panas membuat air cepat menguap sehingga lahan kembali mengering.

“Upaya yang dilakukan Satgas Darat maupun udara sebenarnya lebih kepada memperlambat penyebaran dan perluasan kebakaran. Api ditahan agar tidak semakin meluas dan asap tidak semakin besar,” katanya.

Biaya Operasi Darat

Sementara untuk operasi darat, pembiayaannya berasal dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota. Pemprov Kalteng juga turut membantu daerah yang memiliki keterbatasan anggaran dengan menambah personel dan regu pemadam.

Khusus BPB-PK Provinsi Kalteng, Toyib menyebut anggaran yang telah dikeluarkan untuk mendukung Satgas Darat mencapai lebih dari Rp1 miliar.

“Untuk BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah untuk Satgas Darat saja sudah lebih dari Rp1 miliar,” ungkapnya.

Ia mengatakan total keseluruhan biaya penanganan karhutla belum dapat dipastikan karena operasi masih berjalan dan kebutuhan personel dapat bertambah mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
bnpb kebakaran karhutla water bombing