PALANGKA RAYA – Kepulan asap dan kobaran api menyelimuti kawasan Petuk Katimpun, Palangka Raya. Di tengah situasi itu, muncul sosok yang tak biasa.
Mengenakan kostum biru-merah lengkap dengan lambang Superman, seorang remaja tampak ikut berjibaku menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sosok tersebut adalah Rudiyansah, remaja asal Petuk Katimpun yang aksinya di tengah karhutla menarik perhatian dan menggegerkan media sosial.
Baca Juga: Pesan Rudiyansah Superman di Momen Hari Kemerdekaan Indonesia: Saya Akan Lawan!
Kehadirannya dengan kostum superhero membuat suasana penanganan karhutla menjadi pemandangan yang tidak biasa.
Namun, di balik kostum Superman yang dikenakannya, tersimpan pengalaman panjang Rudiyansah dengan ancaman karhutla.
Remaja yang lahir pada 28 Januari 2009 itu masih berusia sekitar enam tahun ketika Palangka Raya dilanda kabut asap hebat pada 2015.
Kala itu, ia belum memahami banyak hal tentang karhutla. Yang ia rasakan hanya satu: asap membuat ruang geraknya terbatas.
“Pengalaman 2015, sampai kabut asap. Gak bisa keluar rumah,” kenangnya.
Pengalaman masa kecil tersebut rupanya membekas hingga sekarang. Ketika karhutla kembali mengancam lingkungan tempat tinggalnya, Rudiyansah tidak memilih diam. Ia ikut turun ke lapangan bersama masyarakat dan mereka yang berjibaku memadamkan api.
Tumbuh di Lingkungan Pejuang Api
Rudiyansah merupakan anak ketiga sekaligus anak bungsu dari pasangan Mulyadi dan Sunarti. Sang ayah bukan sosok yang asing dalam penanganan karhutla.
Mulyadi merupakan Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Petuk Katimpun. Lingkungan keluarga dan tempat tinggal membuat Rudiyansah cukup dekat dengan berbagai aktivitas pencegahan dan penanganan kebakaran.
Sejak 2023, Rudiyansah mulai ikut terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan penanganan karhutla.
Kini, remaja yang berstatus sebagai pelajar SMAN 10 Palangka Raya itu tak hanya melihat bagaimana orang-orang dewasa berhadapan dengan api. Ia turut mengambil bagian sesuai kemampuannya.
Bagi Rudiyansah, karhutla bukan persoalan baru. Ada memori tentang kabut asap 2015 yang pernah membuatnya tidak bisa bebas beraktivitas. Karena itu, ketika api kembali muncul, ia memilih berada di barisan yang berusaha menghentikannya.
Superman dari Kostum Lari
Ada cerita sederhana di balik kostum Superman yang dikenakannya. Kostum tersebut ternyata bukan dibeli khusus untuk turun memadamkan karhutla. Rudiyansah membelinya sekitar dua bulan sebelumnya untuk mengikuti sebuah kegiatan lari.
"Harganya sekitar Rp180 ribu,"katanya.
Baca Juga: Merah Putih Berkibar di Lokasi Karhutla,Relawan Palangka Raya Minta Pemerintah Pusat Lebih Perhatian
Tak disangka, pakaian yang awalnya digunakan untuk mengikuti even lari itu justru menjadi kostum yang membuat namanya dikenal ketika turun ke lokasi karhutla.
Di tengah asap dan lahan yang terbakar, lambang Superman di dadanya menjadi perhatian. Sejumlah foto dan video aksinya kemudian beredar di media sosial.
Superman memang hanya karakter fiksi. Ia dikenal sebagai pahlawan dengan kekuatan luar biasa untuk melindungi manusia.
Rudiyansah tentu tidak memiliki kekuatan super untuk memadamkan api hanya dengan satu gerakan.
Tetapi hari itu, ia memiliki sesuatu yang tidak kalah penting: keberanian untuk turun tangan.
Kehadiran Rudiyansah di tengah karhutla Petuk Katimpun akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang remaja yang mengenakan kostum superhero. Ada pesan yang lebih dalam dari aksinya.
Karhutla adalah ancaman yang berulang. Bagi sebagian orang, dampaknya mungkin hanya terlihat sebagai lahan yang terbakar.
Namun bagi Rudiyansah, asap karhutla adalah bagian dari pengalaman masa kecil yang pernah membatasi kehidupannya.
Kini, ketika ancaman itu kembali muncul, ia tidak lagi hanya menjadi anak kecil yang berlindung dari asap. Ia memilih turun dan ikut melawan.
Ia mengaku lebih memilih membantu petugas daripada menghabiskan waktu di rumah bermain telepon seluler.
“Aku setelah pulang sekolah suka membantu saja, daripada di rumah main HP, lebih baik membantu mereka. Apalagi ini masuk wilayah saya,” katanya.
Mulyadin mengatakan putranya sudah cukup memahami aktivitas pemadaman karena sering ikut turun ke lapangan.
“Kalau anak saya ini dia paham sudah. Sebabnya setiap dia pulang sekolah enggak ada kegiatan, pasti dia ikut terus. Jadi dia sudah paham,” ujar Mulyadin.
Dengan kostum Superman yang dibelinya seharga Rp180 ribu, Rudiyansah mungkin tidak benar-benar memiliki kekuatan seperti superhero dalam film.
Namun di tengah panasnya karhutla Petuk Katimpun, keberaniannya menjadi simbol bahwa melawan kebakaran bukan hanya tugas petugas, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan keberanian masyarakat.(*)
Editor : Agus Pramono