Tumbang Nusa Masih Rawan Terbakar Lagi, Angin Kencang dan Kabut Asap Hambat Water Bombing

Dea Umilati • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 08:31 WIB
Kondisi karhutla di Tumbang Nusa.(BPBD)
Kondisi karhutla di Tumbang Nusa.(BPBD)

 PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Tumbang Nusa masih menjadi perhatian serius.

Api yang sempat ditangani sejak pagi hingga sore itu menunjukkan pergerakan pada malam hari, dengan kobaran yang cepat merambat akibat hembusan angin kencang.

Kondisi tersebut diperparah dengan jarak pandang (visibility) di wilayah Palangka Raya yang dalam dua hari terakhir menurun jauh dari kondisi normal.

Situasi ini membuat operasi pemadaman melalui jalur udara menggunakan helikopter water bombing (WB) belum dapat dilakukan secara maksimal.

Baca Juga: 2000 ASN Pemprov Kalteng Dikerahkan ke Lokasi Karhutla Bantu Pemadaman

Kalaksa BP BPK Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, kebakaran yang terjadi tadi malam merupakan lanjutan dari titik api yang sebelumnya sudah menyala.

Upaya pemadaman sebenarnya telah dilakukan sejak pagi, namun pasukan darat menghadapi kendala ketika harus mendekati lokasi api.

“Kalau pasukan darat masuk mendekati titik itu berisiko bagi personel. Sementara dua hari ini visibility di Kota Palangka Raya menurun jauh dari standar biasanya,” katanya, Senin (31/8/2026).

Menurut dia, kondisi jarak pandang tersebut turut membatasi pergerakan satgas udara. Padahal, operasi water bombing menjadi salah satu upaya penting untuk menekan laju api di lokasi yang sulit dijangkau pasukan darat.

Akibatnya, pergerakan kepala api menjadi lebih cepat, terlebih ketika angin kencang bertiup di sekitar lokasi kebakaran.

“Optimalisasi WB melalui satgas udara tidak bisa dilakukan secara maksimal. Makanya pergerakan kepala apinya menjadi cepat karena didukung angin kencang di lokasi,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, pasukan darat menjadi tumpuan utama untuk menjaga api agar tidak semakin meluas. Namun, pengerahan personel juga harus memperhitungkan faktor keselamatan, terutama karena sebagian lokasi sulit didekati dan proses pemadaman telah berlangsung sejak pagi.

Toyib mengatakan, setelah pasukan bekerja sepanjang hari, strategi kemudian diarahkan pada penguatan penjagaan dan pembasahan di sejumlah titik yang dinilai rawan.

Malam tadi, katanya, sejumlah truk tangki dan armada pemadam kebakaran disiagakan di sepanjang kawasan Tumbang Nusa. Penempatan armada dilakukan pada sejumlah titik yang dinilai berpotensi menjadi jalur pergerakan api, terutama ketika kobaran mulai mendekati kawasan jembatan.

“Pasukan darat dari pagi sampai sore sudah mengalami kelelahan. Jadi malam tadi kami maksimalkan upaya dengan menyiagakan truk-truk tangki dan truk damkar di sepanjang daerah Tumbang Nusa yang kami anggap kepala apinya sudah mendekati jembatan,” jelasnya.

Pembasahan dilakukan satgas darat untuk mencegah api bergerak lebih jauh sekaligus menjaga agar kobaran tidak mendekati area yang memiliki risiko lebih besar.

Langkah tersebut menjadi penting karena operasi udara belum sepenuhnya dapat berjalan akibat faktor cuaca dan jarak pandang.

Di tengah kendala tersebut, dukungan helikopter untuk operasi water bombing kini mulai bertambah. Dari total lima unit WB yang tersedia, sebelumnya hanya tiga unit yang dapat dioperasikan karena dua lainnya menjalani perawatan.

Namun, satu unit helikopter yang sebelumnya menjalani maintenance kini telah kembali dapat digunakan. Dengan demikian, terdapat empat unit WB yang siap dikerahkan, sementara satu unit lainnya masih menjalani perbaikan karena harus melakukan penggantian mesin.

“Yang benar-benar maintenance tinggal satu unit lagi karena turun mesin, mengganti mesin. Mesinnya tipe standar Amerika sehingga administrasinya lebih ribet,” terang Toyib.

Helikopter tersebut, lanjut dia, bahkan sudah hampir satu bulan tidak beroperasi. Kembalinya satu unit helikopter diharapkan dapat memperkuat operasi pemadaman apabila kondisi jarak pandang memungkinkan.

Pasalnya, helikopter WB belum bisa bekerja secara optimal apabila jarak pandang masih berada di bawah batas aman. Saat ini, operasi udara baru dapat dilakukan apabila visibility di Palangka Raya berada di atas 1.500 meter.

“Sekarang ada empat unit yang siap bekerja. Tinggal menunggu visibility di Palangka Raya. Kalau visibility-nya di atas 1.500, heli WB bisa bekerja,” katanya.

Selain mengandalkan operasi darat dan udara, pemerintah juga terus memantau peluang turunnya hujan. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menjadi salah satu opsi mitigasi yang terus dipantau perkembangannya bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Kemudian TMC sampai saat ini kita memantau perkembangan potensi awal hujan oleh BMKG,” ujarnya.

Data akumulasi karhutla BPBD Kalteng hingga 30 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB menunjukkan persoalan kebakaran masih cukup besar.

Tercatat 49.551 hotspot, 2.222 kejadian karhutla, serta luas kebakaran berdasarkan laporan kabupaten/kota sekitar 6.358,71 hektare. Di sisi lain, data juga mencatat 70.470 kasus ISPA di Kalteng.

Kondisi di Tumbang Nusa menjadi perhatian karena kawasan tersebut kembali berhadapan dengan api ketika jarak pandang menurun dan angin mempercepat pergerakan kobaran.

Toyib menegaskan, pemerintah daerah tidak ingin hanya menunggu kondisi membaik. Dukungan pemerintah pusat terus dimanfaatkan untuk memperkuat penanganan di lapangan, sementara seluruh satgas diminta menjalankan skenario mitigasi yang telah disiapkan.

“Yang pasti pemerintah daerah juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat dalam memaksimalkan upaya di lapangan. Dengan hasil yang seperti sekarang kita tidak bisa berserah diri, tetapi terus memaksimalkan upaya sesuai dengan rencana mitigasi yang sudah kita siapkan,” tegasnya.(*)

Editor : Agus Pramono
waterbombing kalteng karhutla modifikasi cuaca tumbang nusa