Inovasi Cairan Shabodama Diklaim Mampu Tekan Penggunaan Air untuk Padamkan Karhutla Gambut

rifqi • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 11:54 WIB
Cairan Shabodama sudah dipraktikkan saat memadamkan karhutla di lahan gambut.(Humas)
Cairan Shabodama sudah dipraktikkan saat memadamkan karhutla di lahan gambut.(Humas)

PALANGKA RAYA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut, terus didorong melalui pengembangan metode dan teknologi pemadaman. Salah satunya melalui pemanfaatan cairan khusus Shabodama yang dicampurkan dengan air.

Inovasi tersebut dikembangkan AKBP Dr. Edia Sutaata, personel Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) yang sehari-hari bertugas sebagai Kabagwassidik Ditreskrimsus Polda Kalteng. Pengembangan dilakukan bersama tim peneliti dari Universitas Palangka Raya (UPR).

Edia mengatakan, cairan tersebut telah melalui serangkaian riset dan uji coba untuk melihat efektivitasnya dalam menangani kebakaran, terutama pada medan yang sulit seperti lahan gambut maupun tanah mineral.

Inovasi tersebut dikembangkan AKBP Dr. Edia Sutaata (kanan).
Inovasi tersebut dikembangkan AKBP Dr. Edia Sutaata (kanan).

“Berdasarkan uji coba lapangan dan riset akademik yang telah ditempuh sejak tahun 2019, cairan ini memiliki sejumlah keunggulan komparatif dibandingkan metode konvensional,” kata Edia saat melakukan peninjauan di lokasi lahan pascaterbakar bersama tim peneliti lingkungan, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, Shabodama memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya ramah lingkungan, lebih cepat meresap ke dalam lahan, serta dapat menghemat penggunaan air ketika pemadaman dilakukan di tengah kondisi kemarau.

“Ini adalah solusi taktis bagi penanggulangan karhutla di lahan gambut. Dua ribu liter air bersih dicampur dengan dua liter cairan Shabodama sudah mampu menghasilkan daya padam yang masif dan cepat,” bebernya.

Edia menjelaskan, penggunaan cairan tersebut dalam penanganan karhutla bukan merupakan hal yang baru. Riset dan penerapan di lapangan telah dilakukan sejak 2015 di sejumlah wilayah Kalteng.

Pengujian dan penerapannya antara lain dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau ketika Edia menjabat sebagai Waka Polres Pulang Pisau, kemudian di Kota Palangka Raya, Sampit, hingga Pangkalan Bun. Pengembangan metode tersebut terus dilakukan hingga saat ini.

Tak hanya diterapkan di Kalteng, Edia menyebut efektivitas metode tersebut juga telah mendapat perhatian dari daerah lain. Cairan Shabodama bahkan telah dikirim untuk dilakukan uji coba dalam penanganan karhutla di Provinsi Riau.

“Efektivitas metode ini bahkan telah dikirim dan diuji coba untuk penanggulangan karhutla di Provinsi Riau,” pungkasnya.(*)

Editor : Agus Pramono
shabodama karhutla gambut akbp edia sutaata karhutla