PALANGKA RAYA –Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga habitat satwa liar. Asap yang menyebar dari lokasi kebakaran dikhawatirkan membuat satwa meninggalkan habitatnya dan meningkatkan potensi konflik dengan manusia.
Hal tersebut disampaikan Co-CEO Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation Jamartin Sihite saat ditemui di kawasan hutan UPR, tepatnya di belakang Gedung Pusat Pengembangan Iptek dan Inovasi Gambut (PPIIG), Rabu (2/9/2026).
Baca Juga: Orangutan yang Terjebak di Tengah Lahan Terbakar di Sampit Ternyata Memeluk Anaknya
Menurut Jamartin, karhutla memberikan dampak terhadap satwa dalam dua bentuk. Pertama, api secara langsung menghancurkan pohon yang menjadi habitat, tempat bermain, sekaligus sumber makanan satwa.
“Kebakaran membuat pohon hancur, rumah satwa liar hancur, tempat dia bermain hancur, tempat dia cari makan hancur. Tapi yang kedua, asapnya. Asap itu melewati batas-batas tempat terbakar,” ujarnya.
Asap Karhutla Bisa Picu Konflik Satwa dan Manusia
Jamartin menilai paparan asap perlu mendapat perhatian serius karena jangkauannya dapat lebih luas dibandingkan titik kebakaran. Kondisi tersebut dapat membuat satwa panik dan bergerak keluar dari habitatnya.
Apabila satwa mulai mendekati kawasan permukiman atau aktivitas manusia, potensi konflik pun semakin besar.
“Yang paling parah sebenarnya ketika asap melebar ke mana-mana, satwa akan terpapar. Itu bisa membuat mereka panik dan kemudian bisa keluar dari habitatnya dan mulai terjadi konflik,” jelasnya.
Baca Juga: Anak Monyet di Sampit Diselamatkan Usai Habitatnya Sudah Terbakar
Karena itu, ia berharap kebakaran dapat segera dikendalikan sehingga satwa liar tidak semakin terdampak dan terpaksa meninggalkan habitat alaminya.
Orangutan di Pusat Rehabilitasi Mulai Batuk dan Flu
Sementara itu, BOS Foundation terus memantau kondisi orangutan yang berada di pusat rehabilitasi. Pemantauan dilakukan untuk mendeteksi gangguan kesehatan yang mungkin muncul akibat paparan asap karhutla.
Vitamin diberikan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh satwa. Setiap individu juga dipantau untuk mengetahui kemungkinan munculnya gangguan pernapasan.
“Di pusat rehabilitasi kita coba kasih vitamin, tapi juga kita pantau orangutan supaya kita tahu berapa yang sudah kena ISPA, apakah sudah batuk-batuk, flu atau sudah sesak napas. Satu-satu kita lihat dan treatment-nya beda-beda,” katanya.
Baca Juga: Seekor Tenggiling Mati Mengenaskan Akibat Amukan Karhutla Sampit
Jamartin menyebut hingga saat ini belum ada orangutan dari alam yang masuk ke pusat rehabilitasi akibat terdampak karhutla. Namun, beberapa orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi mulai mengalami gejala seperti batuk dan flu yang diduga berkaitan dengan paparan asap.
“Yang dari alam masuk ke pusat rehabilitasi belum ada dan semoga tidak ada. Kalau yang di rehabilitasi, sudah ada yang mulai batuk-batuk dan mulai flu. Itu semuanya biasanya karena asap,” ungkapnya.
Hampir 400 Orangutan dalam Fasilitas Rehabilitasi
Di wilayah Kalimantan Tengah, BOS Foundation saat ini menangani sekitar 200 orangutan yang berada di pusat rehabilitasi.
Jika digabungkan dengan fasilitas rehabilitasi di Kalimantan Timur, jumlah orangutan yang berada dalam penanganan BOS Foundation mencapai hampir 400 ekor.
Baca Juga: Satwa Liar di Kotim Kembali Jadi Korban Karhutla
Kondisi kabut asap akibat karhutla pun menjadi salah satu faktor yang harus terus dipantau untuk memastikan kesehatan satwa tetap terjaga.
Jamartin juga menyoroti tantangan penanganan karhutla di kawasan lahan gambut. Menurutnya, pengalaman kebakaran besar pada 2015 dan 2019 menunjukkan bahwa pemadaman di lahan gambut membutuhkan penanganan khusus, terutama pada kawasan dengan lapisan gambut yang dalam.
Karena itu, langkah yang dinilai penting saat ini adalah melokalisasi kebakaran agar api tidak semakin meluas. Salah satunya dengan membuat jalur untuk menghambat penjalaran api.
“Pemadaman gambut bukan persoalan yang mudah. Pengalaman kita 2015, 2019 dan sekarang menunjukkan susah sekali pemadaman gambut, apalagi gambut dalam. Karena itu kita berharap adalah lokalisasi saja kebakarannya, jangan ke mana-mana,” tuturnya.
Baca Juga: Inovasi Cairan Shabodama Diklaim Mampu Tekan Penggunaan Air untuk Padamkan Karhutla Gambut
Selain metode pemadaman konvensional, tim di lapangan juga mencoba metode menggunakan air yang dicampur bahan sabun khusus.
Menurut Jamartin, metode tersebut merupakan hasil riset yang dikembangkan untuk membantu penanganan kebakaran di lahan gambut. Bahan yang digunakan disebut dapat terdegradasi setelah diaplikasikan di alam.
“Teman-teman di sini mencoba metode yang sudah lewat riset dengan menggunakan air sabun, tapi sabunnya khusus. Jadi ketika disemprotkan ke alam itu akan terdegradasi,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana