Wapres Gibran Cek Orangutan Terdampak Karhutla di Nyaru Menteng, Bawa Obat hingga Nebulizer

rifqi • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 18:00 WIB
Wapres Gibran yakni meninjau langsung Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng.(Setpres)
Wapres Gibran yakni meninjau langsung Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng.(Setpres)

PALANGKA RAYA -Pekatnya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak menghalangi Wakil Presiden Gibran Rakabuming untuk melanjutkan kunjungan kerja ke Kalimantan Tengah, Kamis (10/9/2026).

Salah satu agenda Gibran yakni meninjau langsung Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng yang dikelola Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Palangka Raya. Kunjungan tersebut untuk memastikan orangutan ikut mendapat penanganan di tengah dampak karhutla yang melanda sejumlah wilayah Kalteng.

Gibran datang bersama dokter hewan dan pegiat perlindungan satwa dari Jakarta. Ia berdialog dengan dokter hewan, relawan, serta tim BOSF yang selama ini menangani orangutan di pusat rehabilitasi tersebut.

“Penanganan karhutla harus menyeluruh. Manusia harus terlindungi, tetapi satwa dan habitatnya juga tidak boleh kita abaikan. Saya ingin memastikan kebutuhan perawatan di sini benar-benar terpenuhi,” ujar Gibran.

Bawa Obat dan Nebulizer untuk Orangutan

Dalam kunjungan tersebut, Wapres turut menyerahkan sejumlah bantuan untuk menunjang perawatan satwa. Bantuan yang diberikan antara lain obat-obatan, bawang bombai, serta alat nebulizer yang digunakan untuk membantu penanganan orangutan yang mengalami gangguan pernapasan.

Baca Juga: Karhutla Kotim Makin Mengkhawatirkan, BKSDA Sampit: 5 Orangutan dan 1 Tenggiling Diselamatkan

Gibran kemudian melihat langsung aktivitas perawatan di Forest School BOSF Nyaru Menteng. Saat ini, lokasi tersebut menjadi tempat pembinaan 17 orangutan.

Ia juga meninjau area Karantina Individu Orangutan untuk melihat proses nebulisasi atau pemberian uap kepada satwa yang membutuhkan penanganan.

Di kawasan karantina tersebut, sekitar 90 orangutan menjalani perawatan di sejumlah kandang yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat. Satwa liar juga menghadapi ancaman ketika habitat, sumber pakan, dan sumber air mereka terdampak kebakaran serta asap.

Karena itu, Gibran menekankan penanganan satwa harus berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan. 

Satwa yang berhasil diselamatkan tetap membutuhkan habitat yang layak agar dapat bertahan hidup dalam jangka panjang.

Baca Juga: Orangutan yang Terjebak di Tengah Lahan Terbakar di Sampit Ternyata Memeluk Anaknya

“Perlindungan satwa dan pemulihan lingkungan adalah hal penting yang saling terkait. Termasuk penyembuhan hewan yang terluka serta penyediaan kembali sumber pakan, air dan ekosistem bagi satwa,” tegasnya.

Pemulihan Karhutla Tak Cukup Selamatkan Satwa

Menurut Gibran, upaya pemulihan pascakarhutla harus mencakup ekosistem secara keseluruhan. Ketersediaan pakan, air dan habitat menjadi bagian penting agar satwa tidak kehilangan ruang hidup setelah api padam.

Ia juga memberikan apresiasi kepada dokter hewan, relawan, yayasan, pegiat konservasi dan seluruh pihak yang selama ini berada di garis depan dalam merawat serta menyelamatkan satwa terdampak bencana.

“Terima kasih kepada para dokter hewan, pecinta hewan, relawan, yayasan dan seluruh tim yang terus melakukan perawatan untuk melindungi satwa Indonesia. Aksi nyata Bapak Ibu semua sangat berarti,” pungkasnya.

Baca Juga: Anak Monyet di Sampit Diselamatkan Usai Habitatnya Sudah Terbakar

Kunjungan Gibran ke Nyaru Menteng menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman api dan perlindungan masyarakat dari paparan asap.

Pemulihan lingkungan dan perlindungan satwa juga menjadi bagian penting. 

Bagi orangutan, keberhasilan penanganan karhutla bukan sekadar mengobati satwa yang sakit akibat asap, tetapi juga memastikan hutan kembali menjadi ruang hidup dengan ketersediaan sumber pangan dan air yang memadai. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
gibran rakabuming Nyaru Menteng karhutla orangutan satwa liar