Petani Kalteng Kesulitan Air, Pemerintah Siapkan Pompa dan Perpipaan

Dea Umilati • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 13:40 WIB
Kemarau mengancam lahan pertanian.(Facebook Tarmizi Atjeh)
Kemarau mengancam lahan pertanian.(Facebook Tarmizi Atjeh)

PALANGKA RAYA – Kemarau panjang mulai berdampak terhadap aktivitas pertanian di Kalimantan Tengah. 

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalteng Rendy Lesmana mengatakan, persoalan kekurangan air menjadi keluhan yang banyak disampaikan petani selama musim kemarau. 

Baca Juga: Kemarau Panjang, Petani Kalteng Kesulitan Air, Sejumlah Irigasi Mulai Mengering

Untuk mengantisipasi keterbatasan air, pemerintah telah menyiapkan pompa air serta dukungan perpipaan di sejumlah lokasi pertanian yang membutuhkan.

Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi solusi sementara, khususnya bagi lahan yang masih memiliki sumber air yang dapat dipompa dan dialirkan ke area pertanian.

“Jauh-jauh hari kita sudah menyediakan air pump, air pompa perpipaan, menambah dukungan. Beberapa titik-titik ada yang misalkan dari Menteri Pertanian yang diberikan secara langsung,” ungkap Rendy.

Meski demikian, pompa tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Peralatan tersebut hanya dapat digunakan apabila masih tersedia sumber air yang bisa diambil.

Di wilayah yang sumber airnya sudah sangat terbatas atau kualitas air mulai payau, penanganannya menjadi lebih sulit.

“Permasalahannya juga kan tidak semudah itu, karena wilayah-wilayah kita kebanyakan memang kekurangan air,” katanya, Minggu (13/9/2026).

Baca Juga: Kemarau Jadi Tantangan Petani Melon Sampit, Air Sulit tetapi Buah Lebih Manis

Harapan pada Musim Tanam Oktober-Maret

Di tengah kondisi kemarau, pemerintah kini mengarahkan perhatian pada musim tanam Oktober-Maret (Okmar). Rendy berharap hujan mulai turun pada September hingga Oktober sehingga petani kembali memiliki kesempatan mengolah lahan.

“Kalau melihat tradisi BMKG, September sampai bulan Oktober nanti semoga sudah bisa ada turun hujan. Walaupun memang El Nino masih tetap moderat dan bisa diprediksi sampai tahun depan, tetapi kalau sudah ada hujan diperkirakan di bulan Oktober, kita masih ada musim tanam berikutnya,” ujar Rendy.

Menurutnya, musim tanam Okmar menjadi kesempatan untuk kembali meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian setelah petani melewati periode kemarau.

“Musim tanam kita kan Okmar, Oktober-Maret. Jadi kita masih ada musim tanam berikutnya yang bisa meningkatkan lagi,” katanya.

Rendy menyebut fenomena El Nino turut memberikan pengaruh terhadap kondisi pertanian saat ini. Meski demikian, pemerintah masih berharap perubahan kondisi cuaca dapat memberikan kesempatan bagi petani untuk kembali menanam.

Ia menegaskan, petani yang masih memiliki sumber air tetap dapat melakukan penanaman. Namun, bagi lahan yang sudah mengalami kekurangan air, menunggu musim tanam berikutnya menjadi pilihan.

“Kalau tersedia sih berani mereka nanam, tapi kalau sekarang ya mudah-mudahan harapannya kita di Oktober-Maret, karena memang prioritasnya Oktober-Maret,” pungkasnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
pertanian sumber air musim kemarau musim tanam