PALANGKA RAYA–Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menjelaskan kondisi karhutla Kalteng saat ini dibandingkan wilayah lain. Berdasarkan data yang disampaikannya, Kalteng berada di urutan kesembilan dalam jumlah kebakaran, meski secara luasan wilayah Kalteng relatif besar.
Ia mengatakan hotspot tidak selalu berarti kebakaran karena titik panas masih memerlukan verifikasi di lapangan.
Baca Juga: Tanggap Darurat Karhutla, 3.500 Mahasiswa Terima Bantuan Pangan dari Gubernur Agustiar Sabran
Agustiar menyebut data mengenai luas kebakaran di Kalteng berbeda berdasarkan sumber yang digunakan, mulai dari data BPBD hingga data Kementerian Kehutanan.
“Hotspot itu belum tentu kebakaran. Yang kebakaran itu fire spot namanya,” ujarnya.
Sementara terkait penanganan karhutla di kawasan hutan, Agustiar memastikan tidak ada persoalan izin yang menghambat upaya pemadaman.
Ia menyebut pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan terkait penanganan di kawasan tersebut. “Tidak ada masalah,” katanya.
Di sela-sela kesibukannya, Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran juga turun langsung ke lokasi Karhutla di Jalan Tjilik Riwut Km 16, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, Rabu (16/9/2026). Ia ikut berjibaku bersama petugas melakukan pemadaman api.
Keterlibatan langsung tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov Kalteng memperkuat penanganan karhutla, terutama di wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut dan membutuhkan penanganan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Petani Kalteng Kesulitan Air, Sejumlah Irigasi Mulai Mengering
Pemprov Kalteng sebelumnya menetapkan status tanggap darurat karhutla sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026.
Status tersebut menjadi dasar penguatan koordinasi, pengerahan personel serta dukungan sumber daya untuk menangani kebakaran di lapangan.
Agustiar menegaskan, pemadaman tidak boleh hanya berfokus pada api yang terlihat. Setelah api berhasil dikendalikan, lokasi bekas kebakaran harus tetap dipantau dan dilakukan pembasahan guna mencegah munculnya kembali titik api.
“Kita harus bekerja sampai tuntas. Setelah api padam, jangan langsung ditinggalkan. Pastikan lokasinya aman, sumber air tersedia, dan lakukan pemantauan secara berkelanjutan,” ujar Agustiar.
Menurutnya, penanganan di kawasan gambut memiliki tantangan tersendiri sehingga pembasahan lahan dan ketersediaan sumber air menjadi bagian penting dalam upaya mencegah api kembali muncul.
Selain penanganan di lapangan, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap dampak kabut asap bagi masyarakat.
Sebelumnya, pada 13 September 2026, Agustiar turun langsung membagikan masker, vitamin serta bubur kacang hijau kepada masyarakat di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya.
“Hari ini kita bersama-sama membagikan masker, vitamin hingga bubur kacang hijau. Bersama-sama kita berupaya menjaga kesehatan di tengah kondisi saat ini,” katanya.
Agustiar mengajak masyarakat dan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan serta berperan dalam mencegah terjadinya karhutla. Menurutnya, penanganan kebakaran membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, aparat, dunia usaha, masyarakat dan unsur terkait lainnya.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar kebakaran dapat dikendalikan secara menyeluruh sekaligus mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.(*)
Editor : Ayu Oktaviana