PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) tak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga satwa liar yang dilindungi. Sebanyak 47 orangutan yang dirawat di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap karhutla.
Ketua Pengurus Yayasan BOS, Dr. Ir. Jamartin Sihite, mengatakan puluhan orangutan tersebut mengalami gejala klinis seperti batuk dan flu. Mereka merupakan bagian dari 224 orangutan yang saat ini dirawat di pusat rehabilitasi tersebut.
Baca Juga: Orangutan Novita Alami Luka Bakar Hingga 20 Persen, Terancam Cacat Permanen
“Secara akumulatif ada 47 orangutan yang menunjukkan gejala klinis ISPA seperti batuk dan flu. Setiap hari kami berikan terapi flu, vitamin, madu, hingga sirup herbal dari bawang bombai untuk meredakan peradangan. Beberapa di antaranya yang kondisinya cukup terganggu juga harus menggunakan nebulizer,” ujar Jamartin saat diwawancarai di Kantor BKSDA Kalteng, Kamis (8/10/2026).
Untuk mengurangi paparan asap di area kandang dan sekolah hutan Nyaru Menteng, Yayasan BOS memasang sistem pengabut air. Menurut Jamartin, upaya tersebut mampu menurunkan indeks kualitas udara di sekitar area aktivitas orangutan hingga 100–150 satuan.
Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng merupakan salah satu pusat rehabilitasi BOS
Foundation di Kalimantan Tengah.
Kegiatan rehabilitasi dan perawatan orangutan tetap berjalan dengan pemantauan yang
disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Kegiatan Sekolah Hutan saat ini masih berlangsung seperti biasa dengan durasi hingga tujuh
jam. Apabila kondisi asap memburuk, durasi kegiatan akan dievaluasi kembali dengan
mempertimbangkan kualitas udara serta kesehatan dan kesejahteraan orangutan sebagai
prioritas utama.
Baca Juga: Karhutla Ancam Habitat Satwa, Asap Bisa Picu Konflik Orangutan dengan Manusia
Jumlah Orangutan Dalam Perawatan
Kalimantan Tengah - Nyaru Menteng: 225 orangutan
Kalimantan Timur - Samboja Lestari: 110 orangutan
Total orangutan dalam perawatan BOS Foundation: 335 individu orangutan.
Dampak Karhutla Tak Berakhir Saat Api Padam
Karhutla mengancam kelangsungan hidup orangutan bukan hanya ketika api melalap hutan. Kebakaran juga menyebabkan hilangnya habitat, sumber pakan, tempat berlindung, serta ruang gerak satwa.
Paparan asap turut berisiko mengganggu kesehatan orangutan, sementara perubahan habitat secara cepat dapat mempersulit mereka bertahan hidup.
Pengalaman Yayasan BOS dalam menangani kebakaran besar pada 2015 dan 2019 menunjukkan dampak karhutla terhadap orangutan dan habitatnya dapat berlangsung jauh setelah api padam.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman. Pencegahan, deteksi dini, kesiapsiagaan, perlindungan habitat, serta keterlibatan masyarakat di sekitar kawasan hutan menjadi bagian penting untuk melindungi satwa liar di Kalteng. (*)
Editor : Ayu Oktaviana