Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata

Fokus Lagi

Agus Pramono • Sabtu, 6 September 2025 - 09:38 WIB
Agus Pramono
Agus Pramono

 

 

Oleh; Agus Pramono

GELOMBANG unjuk rasa akhirnya mereda. Indonesia aman, tenang, dan kembali ke rutinitas. Presiden Prabowo Subianto sudah berani meninggalkan Tanah Air untuk memenuhi undangan Xi Jinping.

8 jam di sana, hatinya sudah sedikit tenang. Sebelum berangkat, dengan gaya khasnya, beliau sudah menyampaikan komitmen pada rakyat Indonesia.

DPR RI juga mulai terlihat manusiawi. Beberapa hari lalu, mereka undang perwakilan mahasiswa ke gedung megahnya. Mendengar langsung aspirasi. Yah, semoga beneran didengar, bukan sekadar formalitas.

Sekarang, masyarakat cuma bisa menunggu sambil ngopi. Apakah aspirasi itu hanya ditampung atau bakal segera dieksekusi.

Kemarin saya sempat ngobrol sama Pak Zaenal, petani sayur di Palangka Raya. Dari obrolan soal pupuk, omzet bulanan, tiba-tiba dia nyeletuk soal demo.

Dengan wajah serius tapi enteng banget dia bilang; "Bubarkan aja DPR itu. Gak ada gunanya. Tapi polisi jangan."

Saya cuma bengong sebentar, lalu ketawa. Serius banget nadanya. Celetukan Pak Zaenal jelas nggak main-main. Tapi, celetukan itu bikin saya kepikiran bukan main. Ditulis nggak ya? Tulis, nggak, tulis, enggak, tulis.

Publik ternyata belum diam. Kritik terus dilontarkan. Media sosial dijadikan wadahnya. Setiap ada pejabat ngomong salah, langsung dikuliti. Seperti kemarin, potongan video Menteri Agama Nasaruddin Umar yang viral.

Begini kalimat yang ujung-ujungnya jadi bulan-bulanan netizen; "Kalau niatnya cari uang, jangan jadi guru, jadi pedagang saja lah. Tetapi Insyaallah, rezeki guru itu halalan thayyiban dan penuh keberkahan." Usai viral, Nasaruddin langsung minta maaf atas kalimatnya yang multitafsir itu.

Aksi demonstrasi 28 sampai 2 September ini harus dibayar mahal. Tercatat setidaknya ada 10 korban tewas dalam demo di berbagai kota. Dugaan kekerasan aparat terjadi dalam insiden di Jakarta dan Yogyakarta. Korban diduga dari amukan massa terjadi di Makassar.

Polri, menjadi institusi yang paling disorot. Meninggalnya driver ojol Affan Kurniawan menjadi pemicu gelombang unjuk rasa se-Indonesia.

Hal lain yang menarik perhatian, Rumah wakil rakyat jadi sasaran penjarahan. Pertama rumah Sahroni, lalu Uya Kuya, Eko Patrio, Nafa Urbach dan rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani juga tak luput dari sasaran. 

Kapolri juga bergerak cepat. Langsung memerintahkan sidang etik bagi anggotanya. Dilaksanakan secara transparan. Disiarkan langsung di Instagram Divisi Humas Polri.

Komandan Batalyon Resimen 4 Korps Brimob Polri Kompol Cosmas Kaju Gae diberhentikan dengan tidak hormat. Dia menangis mendengar putusan itu.

Pengemudi rantis Bripka Rohmat mendapat sanksi administratif berupa penempatan khusus di ruang Patsus selama 20 hari, dan mutasi dengan demosi selama tujuh tahun.

Kita juga apresiasi polisi yang sudah bekerja cepat menangkap oknum-oknum perusuh. Penjarah. Dan penghasut melalui dunia maya.

Alhamdulillah, per tanggal 5 September kemarin, tak ada lagi berita soal kericuhan. Tak ada lagi ada berita soal siapa lagi yang meninggal. 

Di Palangka Raya, para driver ojol berkumpul di Tugu Soekarno Jumat malam. Dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng.

 Mereka berdoa untuk rekan seprofesi yang mendahuluinya. Untuk Affan Kurniawan. Untuk Dandi yang tewas akibat dikeroyok massa demo. Dan untuk Umar Amarudin yang masih dirawat di rumah sakit.

Di Mapolda Kalteng, suasana begitu adem. Ada tablig akbar. Masyarakat tumpah ruah. Mereka bersalawat memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw.

Masyarakat juga melihat langsung ustaz idola sejuta emak-emak; Ustaz Hilman Fauzi. Begitu beliau buka ceramah, bawaannya pengen curhat aja.

Semoga, kerusuhan beberapa hari terakhir kemarin menjadi yang terakhir. Jangan terulang lagi. Kini saatnya pemerintah kembali fokus menjalankan program-programnya yang kadang kita mikir kapan realisasinya.

Anggota DPR RI juga fokus menjalankan fungsinya, meski sedikit mumet dan wajah kucel menyelesaikan 17+8 tuntutan. 

Lalu, masyarakat kembali fokus mikir cicilan bulanan. Polisi kembali fokus menjalankan tugasnya membantu pemerintah; Tanam jagung dan jualan beras.(*)

*) Penulis adalah Redaktur Pelaksana Kalteng Pos

Kapten Kav Zet Yakhin menyampaikan materi tentang kehidupan berbangsa, bernegara, dan pembinaan kesadaran bela negara.
Kapten Kav Zet Yakhin menyampaikan materi tentang kehidupan berbangsa, bernegara, dan pembinaan kesadaran bela negara.
Editor : Agus Pramono
#gubernur kalteng #polisi #mahasiswa #Ustaz Hilman Fauzi #Presiden Prabowo #ojol #demo #doengil #Mapolda Kalteng #pena #17 8 tuntutan rakyat