Akankah perguruan tinggi di Kalimantan Tengah dipimpin dengan cara berpikir masa lalu untuk menghadapi tantangan masa depan? Pertanyaan ini layak diajukan ketika dinamika global bergerak begitu cepat, teknologi mengubah wajah pendidikan tinggi, dan tuntutan masyarakat terhadap mutu perguruan tinggi yang semakin tinggi. Di tengah perubahan besar tersebut, suksesi kepemimpinan perguruan tinggi bukan lagi sekadar agenda administratif, melainkan momentum strategis menentukan arah masa depan akademik.
Usia sejumlah perguruan tinggi di Kalimantan Tengah khususnya Univwrsitas Palangka Raya (UPR) yang semakin matang semestinya menjadi simbol kedewasaan institusi. Kampus yang semakin tua tidak boleh menjadi institusi yang kehilangan daya gerak, apalagi terjebak pada romantisme masa lalu. Justru kematangan usia harus melahirkan keberanian untuk berubah. Sebab institusi pendidikan tidak ditentukan oleh berapa lama ia berdiri, melainkan oleh sejauh mana ia mampu menjawab tantangan zaman.
Kalimantan Tengah sedang berdiri di persimpangan sejarah pembangunan.
Dengan kekayaan sumber daya alam, posisi strategis dalam lanskap nasional, serta peluang besar sebagai wilayah pertumbuhan baru, daerah ini menyimpan potensi menjadi salah satu “raksasa masa depan” Indonesia.
Namun, sebesar apa pun sumber daya yang dimiliki, tidak akan bermakna tanpa kualitas sumber daya manusia yang unggul. Di titik inilah perguruan tinggi menjadi penentu arah: mencetak generasi yang cerdas, adaptif, inovatif, dan memiliki keberanian memimpin perubahan.
Karena itu, suksesi kepemimpinan perguruan tinggi harus dibaca sebagai kebutuhan sejarah, bukan sekadar pergantian jabatan.
Kampus membutuhkan pemimpin yang bukan hanya memahami tata kelola akademik, tetapi memiliki visi masa depan dan keberanian melakukan transformasi.
Dunia pendidikan tinggi membutuhkan pemimpin yang inklusif, terbuka terhadap kolaborasi, dekat dengan aspirasi generasi muda, serta mampu menjadikan kampus sebagai ruang tumbuh bersama, bukan ruang eksklusif segelintir kelompok.
Namun, harus ditegaskan bahwa tuntutan akan pemimpin muda tidak boleh dipahami secara dangkal sebagai soal angka usia semata. Perguruan tinggi tidak membutuhkan sekadar figur muda, tetapi figur yang memiliki rekam jejak integritas, kapasitas akademik, dan riwayat kepemimpinan yang teruji.
Mampu berkolaborasi dengam seluruh unsur masyarakat dan pemerintah serta tidak memandang inklusifitas hanya sebagai slogan, sehingga mampu mewujudkan kampus berdampak secara terukur dan optimal.
Kampus masa depan membutuhkan pemimpin yang menjunjung tinggi nilai kesetaraan, menghargai keberagaman pandangan, memberi ruang bagi semua elemen akademik untuk tumbuh, serta memandang perbedaan sebagai kekuatan institusi, bukan sebagai ancaman. Sebab, kepemimpinan akademik sejatinya bukan tentang siapa yang paling kuat mempertahankan pengaruh, melainkan siapa yang paling mampu menciptakan iklim akademik yang sehat, adil, produktif dan aman.
Harapan terhadap perubahan kepemimpinan kampus kini bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Sebab perguruan tinggi yang gagal melahirkan kepemimpinan progresif hanya akan menjadi institusi yang besar secara usia, tetapi kecil dalam pengaruh sejarah. Dan Kalimantan Tengah terlalu besar potensinya untuk dipimpin oleh cara berpikir yang takut pada perubahan. (*)
Penulis adalah dosen di Universitas Palangka Raya
Editor : Ayu Oktaviana