KALTENG POS.JAWAPOS.COM-Sebagai seorang guru yang mengabdi di SMA Negeri 1 Seribu Riam, kabar rencana pembangunan gedung baru terutama laboratorium, UKS, dan fasilitas penunjang lainnya menyulut antusiasme yang tak tertahankan.
Ini bukan sekadar kegembiraan atas bangunan persegi dan atap baru, melainkan harapan akan sebuah koreksi atas ketimpangan fasilitas yang telah kami rasakan sejak sekolah ini berdiri.
Selama bertahun-tahun, ketiadaan ruang praktik yang memadai memaksa kami berimprovisasi; memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media ajar fisika dan mata pelajaran lain karena tidak ada pilihan lain.
Kreativitas lahir dari keterpaksaan, namun kami sadar bahwa improvisasi bukanlah pengganti standar pendidikan yang layak.
Ucapan terima kasih yang tulus perlu kami sampaikan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah yang telah merespons aspirasi kami melalui Program Revitalisasi Sekolah.
Kehadiran gedung laboratorium, UKS, dan fasilitas penunjang lainnya di SMA Negeri 1 Seribu Riam adalah bukti bahwa pemerintah tidak melupakan sekolah-sekolah di pelosok yang selama bertahun-tahun bertahan dengan kondisi seadanya tanpa sentuhan pembangunan berarti.
Apresiasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan bahwa perhatian terhadap ketimpangan fasilitas pendidikan di daerah terpencil akhirnya berbuah nyata, menjadi fondasi harapan baru bagi seluruh warga sekolah.
Oleh karena itu, revitalisasi ini harus dipandang sebagai momentum transformatif, bukan sekadar proyek fisik semata. Antusiasme saya disertai satu catatan kritis yang penting: kehadiran gedung baru tidak boleh berhenti pada seremonial peresmian atau kebanggaan visual sesaat.
Sejarah pendidikan kita penuh dengan catatan kesenangan sesaat atas pembangunan fisik. Banyak bangunan megah yang ujung-ujungnya terbengkalai, minim perawatan, atau bahkan dialihfungsikan karena ketidakjelasan program pemanfaatan kehilangan esensi sebagai ruang belajar.
Saya sangat berharap agar laboratorium dan UKS yang akan dibangun ini benar-benar hidup, bernapas, dan menjadi jantung pembelajaran, bukan monumen kosong yang hanya indah di foto dokumentasi.
Substansi dari revitalisasi ini terletak pada bagaimana fasilitas tersebut mampu menumbuhkembangkan pengetahuan siswa secara nyata.
Laboratorium bukan sekadar ruangan berisi alat-alat canggih, melainkan ruang di mana rasa ingin tahu diverifikasi melalui eksperimen, di mana teori bertemu praktik, dan di mana siswa belajar berpikir ilmiah dengan tangan mereka sendiri.
UKS bukan sekadar tempat istirahat saat sakit, melainkan pusat edukasi kesehatan dan kesejahteraan psikologis yang mendukung proses belajar.
Jika gedung-gedung ini kelak hanya menjadi pajangan tanpa kurikulum pendukung, pelatihan guru, dan komitmen pemeliharaan, maka ia hanyalah ilusi kemajuan yang pada akhirnya akan mengecewakan generasi penerus.
Namun, antusiasme terhadap gedung baru harus dibarengi dengan kesiapan sumber daya manusia yang mengoperasikannya.
Sejarah mengajarkan bahwa fasilitas tercanggih pun akan menjadi barang mati jika tidak disertai kompetensi guru yang memadai. Oleh karena itu, pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas pendidik melalui pelatihan intensif, bukan hanya saat peresmian, tetapi secara berkelanjutan.
Guru-guru yang selama ini terbiasa berimprovisasi dengan lingkungan sekitar perlu diberi ruang adaptasi agar transisi dari media ajar alamiah ke peralatan laboratorium berlangsung mulus, tanpa menghilangkan kreativitas yang telah terbentuk. Selain itu, pelibatan siswa dalam pengelolaan fasilitas sejak awal juga penting; rasa memiliki akan tumbuh ketika mereka dilibatkan sebagai subjek, bukan sekadar pengguna pasif.
Tanpa fondasi manusiawi ini, revitalisasi berisiko hanya memindahkan masalah ketimpangan dari ketiadaan fasilitas menjadi ketiadaan kemampuan memanfaatkannya.
Sebagai penutup, saya mengajak seluruh pemangku kepentingan, dari dinas pendidikan, kepala sekolah, hingga masyarakat untuk memastikan bahwa revitalisasi SMA Negeri 1 Seribu Riam adalah investasi substansial bagi masa depan anak-anak Seribu Riam.
Mari kita bangun tidak hanya dinding dan atapnya, tetapi juga jiwa, program, dan keberlanjutan pengelolaannya. Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah sekolah hebat bukanlah kemegahan bangunannya, melainkan seberapa dalam bangunan itu mampu mengakar pada kebutuhan belajar siswanya dan seberapa kuat ia bertahan melampaui waktu.
Revitalisasi ini bukan sekadar tentang mengganti atap bocor atau mengecat dinding usang; ia adalah janji moral kepada generasi penerus Seribu Riam bahwa pendidikan berkualitas bukanlah hak istimewa kota, melainkan hak dasar setiap anak bangsa.
Mari kita jadikan SMA Negeri 1 Seribu Riam sebagai bukti nyata bahwa keterbatasan geografis tidak pernah menjadi penghalang bagi kecemerlangan intelektual. Ketika kelak siswa-siswa kami melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga keyakinan bahwa dari tanah kelahiran mereka sendiri, mimpi-mimpi besar telah dipupuk dengan sungguh-sungguh.
Inilah warisan sejati yang harus kita tinggalkan: bukan gedung yang berdiri kokoh, melainkan manusia-manusia yang berdiri tegak karena fondasi pendidikannya tak pernah goyah oleh waktu dan jarak.(*)
*) Penulis adalah Warga Desa Muara Joloi Sekaligus Guru Honorer di SMA Negeri 1 Seribu Riam
Editor : Ayu Oktaviana