SEORANG raja mengadakan sayembara untuk mencari calon menantu. Syaratnya sederhana, tetapi sangat berat: peserta harus menyeberangi sebuah kolam yang dipenuhi buaya dan binatang buas lainnya.
Banyak pemuda datang. Mereka berdiri di tepi kolam, tetapi tak seorang pun berani melangkah.
Tiba-tiba, seorang pemuda tercebur ke dalam kolam.
Ia berenang sekuat tenaga. Dengan susah payah ia menghindari binatang-binatang buas hingga akhirnya berhasil mencapai seberang.
Semua orang bersorak.
Raja berkata, "Selamat! Engkau pantas menjadi menantuku."
Namun pemuda itu justru diam. Dengan kondisi yang masih terengah-engah dan sedikit emosi dia menoleh dan berkata, "Siapa yang mendorong saya?!"
Dalam hidup, terkadang kita juga seperti pemuda itu.
Kita ingin dekat dengan Allah, tetapi selalu merasa belum siap. Ingin rajin salat, tetapi menunda. Ingin membaca Al-Qur'an, tetapi merasa belum punya waktu. Ingin meninggalkan kebiasaan buruk, tetapi selalu berkata, "Nanti saja."
Lalu Allah menghadirkan seseorang yang "mendorong" kita.
Bisa jadi seorang teman yang mengingatkan salat. Orang tua yang menasihati. Guru yang mengajarkan kebaikan.
Bahkan terkadang, sebuah ujian yang membuat kita kembali mengangkat tangan dan berdoa kepada Allah.
Awalnya mungkin terasa seperti gangguan. Kita bahkan bisa merasa tidak nyaman. Namun, boleh jadi dorongan itu justru menjadi jalan keselamatan.
Tidak semua orang yang mendorong kita sedang menjatuhkan.
Ada yang mendorong agar kita bergerak. Ada yang menegur agar kita sadar. Ada yang mengingatkan karena ingin melihat kita lebih dekat kepada Allah Azza wa Jalla.
Barakallahu fiikum. (*)
Editor : Agus Pramono