Belajar dari Kabut Asap: Apa yang Perlu Kita Benahi Bersama?

Edy Jumrio • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 18:30 WIB

 

Edy
Edy

Oleh; Edy Jumrio

KABUT asap kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah. Udara yang seharusnya kita hirup dengan nyaman berubah menjadi sumber kekhawatiran. Aktivitas sehari-hari terganggu, anak-anak harus menyesuaikan kegiatan belajar, masyarakat menghadapi risiko kesehatan, dan para petugas kembali berjuang memadamkan api.

Setiap kali kabut asap datang, kita berharap hujan segera turun dan udara kembali bersih. Harapan itu wajar. Namun, ada pertanyaan yang tidak boleh kita lupakan, setelah kabut asap mereda, apa yang benar-benar kita perbaiki agar masalah yang sama tidak terus berulang?

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan persoalan sederhana. Ada kondisi lahan, cuaca, aktivitas manusia, pengelolaan lingkungan, dan berbagai faktor lain yang perlu diperhatikan. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Pencegahan, pengawasan, evaluasi, dan perlindungan masyarakat juga perlu berjalan secara berkelanjutan.

Belajar dari kabut asap berarti melihat persoalan ini bukan hanya sebagai kejadian tahunan, melainkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki cara kita menjaga lingkungan dan melindungi kehidupan masyarakat.

Memahami Besarnya Persoalan Karhutla

Besarnya persoalan karhutla di Kalimantan Tengah dapat dilihat dari pemberitaan Kalteng Pos pada 14 Oktober 2026. Berdasarkan laporan tersebut, tercatat 4.512 kejadian kebakaran dengan luas lahan terbakar mencapai 14.989,41 hektare selama periode 1 Januari hingga 29 September 2026.

Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan persoalan kecil. Di balik angka kejadian dan luas lahan yang terbakar, terdapat lingkungan yang rusak, aktivitas masyarakat yang terganggu, serta pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk mencegah kebakaran berikutnya.

Tentu, angka-angka itu perlu dibaca bersama dengan informasi mengenai lokasi kebakaran, penyebab kejadian, upaya pencegahan, dan hasil penanganannya. Data bukan hanya untuk menunjukkan seberapa besar masalah yang terjadi, tetapi juga menjadi dasar untuk menentukan tindakan yang lebih tepat.

Jika kebakaran berulang di wilayah yang sama maka kita perlu bertanya, Apakah wilayah tersebut sudah mendapatkan perhatian khusus? Apakah upaya pencegahan telah diperkuat? Apakah pengawasan berjalan dengan baik? Dan apakah ada perubahan yang dapat diukur dari tahun ke tahun?

Pertanyaan seperti ini bukan untuk mencari kesalahan semata. Tujuannya adalah memastikan bahwa pengalaman dari kebakaran sebelumnya benar-benar digunakan untuk memperbaiki penanganan pada masa berikutnya.

Ketika Karhutla Mengganggu Mata Pencaharian

Dampak karhutla tidak selalu terlihat dalam bentuk hutan yang terbakar atau langit yang tertutup asap. Sebagian dampaknya muncul dalam kehidupan ekonomi masyarakat, termasuk mereka yang menggantungkan penghasilan pada lingkungan.

Kalteng Pos pada 13 Oktober 2026 memberitakan kesulitan peternak lebah madu di Kalampangan, Palangka Raya, melalui artikel berjudul “Karhutla Bikin Lebah Mati, Peternak Madu Kalteng Tekor: Gagal Panen, Biaya Pakan Jalan Terus”.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa lingkungan bukan sekadar ruang hidup, melainkan juga sumber penghidupan. Ketika lingkungan rusak, dampaknya dapat menjalar ke pendapatan keluarga dan keberlanjutan usaha masyarakat.

Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla tidak seharusnya hanya dilihat dari berapa banyak api yang berhasil dipadamkan atau berapa luas lahan yang ditangani. Kita juga perlu memperhatikan apakah masyarakat dapat kembali bekerja, apakah mata pencaharian mereka terlindungi, dan apakah kerugian yang mereka alami dapat dikurangi.

Pencegahan kebakaran dengan demikian bukan hanya urusan lingkungan. Ini juga berkaitan dengan perlindungan ekonomi dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Menjaga Pendidikan di Tengah Kabut Asap

Salah satu kelompok yang ikut merasakan dampak kabut asap adalah anak-anak. Ketika kualitas udara memburuk, kegiatan belajar di sekolah dapat terganggu dan pembelajaran jarak jauh menjadi salah satu langkah yang perlu ditempuh untuk melindungi kesehatan mereka.

Kalteng Pos memberitakan perpanjangan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi peserta didik PAUD, SD, dan SMP di Palangka Raya ketika kualitas udara berada dalam kategori berbahaya.

Namun, pembelajaran jarak jauh bukan tanpa tantangan. Tidak semua anak memiliki jaringan internet yang stabil, perangkat belajar yang memadai, atau suasana rumah yang mendukung kegiatan belajar. Karena itu, perlindungan kesehatan perlu berjalan bersama dengan upaya menjaga agar anak-anak tetap memperoleh hak pendidikan.

Sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah perlu saling mendukung agar perubahan cara belajar tidak membuat anak-anak semakin tertinggal. Informasi mengenai kebijakan belajar juga perlu disampaikan secara jelas sehingga keluarga dapat mempersiapkan diri.

Pada saat yang sama, kita perlu bertanya lebih jauh, bagaimana agar kegiatan belajar tidak terus-menerus terganggu oleh persoalan lingkungan yang sama? Menjaga pendidikan ketika kabut asap terjadi memang penting, tetapi mencegah kabut asap agar anak-anak dapat belajar dengan aman juga sama pentingnya.

Menjaga Kesehatan Masyarakat di Tengah Kabut Asap

Kabut asap bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi perhatian serius bagi kesehatan masyarakat.

Kalteng Pos pada 15 Oktober 2026 menerbitkan artikel berjudul “Kabut Asap Bikin 940 Warga Terserang ISPA, Puskesmas Kayon Buka Rumah Oksigen Gratis”. Pemberitaan tersebut menyoroti kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan upaya Puskesmas Kayon di Palangka Raya menyediakan rumah oksigen gratis bagi warga yang membutuhkan.

Informasi ini mengingatkan kita bahwa ketika kabut asap terjadi, masyarakat  membutuhkan perlindungan dan akses layanan kesehatan yang memadai. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki gangguan kesehatan perlu mendapat perhatian khusus karena dapat lebih rentan terhadap dampak buruk kualitas udara.

Penyediaan rumah oksigen merupakan salah satu bentuk pelayanan untuk membantu warga. Namun, perlindungan kesehatan juga perlu dilakukan melalui penyampaian informasi kualitas udara yang mudah dipahami, penyediaan layanan kesehatan, dan langkah pencegahan agar masyarakat tidak terus-menerus terpapar asap.

Di sini, kita perlu melihat dua kebutuhan sekaligus: pertolongan bagi masyarakat yang sudah terdampak dan pencegahan agar jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan tidak terus bertambah. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Menjaga kesehatan masyarakat bukan hanya tentang menyediakan pertolongan ketika warga mengalami gangguan pernapasan. Kita juga perlu berusaha menciptakan lingkungan yang lebih aman agar masyarakat dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa terus dibayangi kabut asap.

Membangun Kepercayaan melalui Evaluasi dan Transparansi

Penanganan karhutla membutuhkan kerja banyak pihak. Pemerintah, petugas lapangan, masyarakat, dan pihak yang memiliki atau mengelola lahan mempunyai peran masing-masing. Namun, kerja bersama juga perlu disertai keterbukaan agar masyarakat mengetahui apa yang telah dilakukan dan hasil apa yang sudah dicapai.

Pada 15 Oktober 2026, Kalteng Pos memberitakan aksi sejumlah organisasi masyarakat Dayak dan mahasiswa di depan Kantor Gubernur Kalimantan Tengah. Mereka menyampaikan tuntutan terkait evaluasi penanganan karhutla, transparansi anggaran, penegakan hukum, dan kebutuhan peralatan pemadam yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Aspirasi masyarakat seperti ini perlu dipandang sebagai bagian dari perhatian publik terhadap persoalan bersama. Ketika masyarakat meminta penjelasan dan evaluasi, hal itu dapat menjadi kesempatan bagi pihak berwenang untuk menyampaikan hasil kerja, menjelaskan kendala, serta menunjukkan bagian mana yang perlu diperbaiki.

Kepercayaan publik tidak hanya tumbuh dari pernyataan bahwa penanganan sudah dilakukan. Kepercayaan juga dibangun ketika masyarakat dapat melihat hasilnya, memahami langkah yang diambil, dan mengetahui apa yang akan diperbaiki.

Oleh karena itu, evaluasi perlu menjadi proses yang nyata, bukan sekadar kegiatan administratif. Hasil evaluasi seharusnya dapat membantu menjawab pertanyaan sederhana: apa yang berhasil, apa yang belum berhasil, dan apa yang akan dilakukan secara berbeda agar kebakaran tidak terus berulang?

Evaluasi yang Bisa Diukur, Bukan Sekadar Diucapkan

Berbagai upaya penanganan karhutla patut diperhatikan, termasuk kerja petugas di lapangan dan pelayanan bagi masyarakat terdampak. Namun, ketika persoalan yang sama kembali terjadi, kita juga perlu memastikan bahwa setiap pengalaman benar-benar menjadi bahan perbaikan.

Lalu, ada beberapa hal yang menjadi perhatian kita bersama. Pertama, Apa hasil evaluasi pencegahan karhutla dari tahun ke tahun? Apakah wilayah yang berulang kali mengalami kebakaran telah mendapatkan penanganan khusus? Apa perubahan yang sudah dilakukan setelah kejadian sebelumnya?

Kedua, Bagaimana pengawasan terhadap aktivitas pembukaan dan pengelolaan lahan dilaksanakan? Berapa banyak laporan yang ditindaklanjuti? Bagaimana hasil pemeriksaan dan penegakan hukum disampaikan kepada publik dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku?

Ketiga, Bagaimana perlindungan kesehatan masyarakat dijalankan ketika kualitas udara memburuk? Apakah informasi kualitas udara disampaikan secara jelas dan tepat waktu? Apakah kelompok rentan mendapatkan informasi, pelayanan, dan dukungan yang memadai?

Keempat, Bagaimana pemerintah memastikan anak-anak tetap memperoleh hak pendidikan, ketika sekolah harus menerapkan pembelajaran jarak jauh? Perlu ada perhatian terhadap keterbatasan jaringan internet, perangkat belajar, serta kondisi keluarga yang berbeda-beda.

Kelima, Apa indikator keberhasilan penanganan karhutla selain jumlah personel, operasi pemadaman, dan luas lahan yang berhasil ditangani? Masyarakat juga perlu mengetahui apakah kejadian berulang dapat dikurangi, pencegahan semakin baik, dan dampak terhadap kehidupan masyarakat berhasil ditekan.

Pertanyaan ini kiranya dapat menjadi bahan perhatian dan refleksi kita bersama. Berbagai upaya yang telah dilakukan tentu patut dihargai, sekaligus perlu terus dievaluasi agar ke depan semakin baik. Dengan keterbukaan informasi dan hasil yang dapat diukur, kita dapat bersama-sama melihat kemajuan yang telah dicapai serta hal-hal yang masih perlu diperbaiki demi melindungi masyarakat dan mencegah karhutla berulang.

Evaluasi dapat menjadi kesempatan bagi semua pihak untuk belajar dari pengalaman, mengenali hal-hal yang masih perlu ditingkatkan, dan merumuskan langkah perbaikan yang lebih tepat.

Melalui evaluasi yang terbuka dan berkelanjutan, kita dapat melihat perubahan apa yang telah dilakukan, bagaimana setiap pihak menjalankan perannya, serta sejauh mana kemajuan yang dicapai dapat diketahui oleh masyarakat.

Dengan demikian, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya dilihat dari upaya memadamkan api, tetapi juga dari semakin kuatnya langkah pencegahan, berkurangnya risiko kebakaran berulang, dan semakin baiknya perlindungan terhadap masyarakat.

Bercermin, Belajar dan Berbenah Bersama

Masyarakat dapat berperan dalam mencegah karhutla melalui kebiasaan menjaga lingkungan, tidak membakar lahan sembarangan, melaporkan titik api, dan menyebarkan informasi yang benar. Namun, upaya bersama perlu disertai pemahaman bahwa setiap pihak memiliki peran, kewenangan, dan tanggung jawab yang berbeda.

Pemerintah perlu memperkuat pencegahan, pengawasan, evaluasi, dan perlindungan masyarakat. Pihak yang mengelola lahan perlu memenuhi kewajibannya, sementara petugas di lapangan membutuhkan dukungan yang memadai untuk menjalankan tugas. Masyarakat pun dapat berkontribusi melalui tindakan nyata sesuai dengan kemampuannya.

Karena itu, ajakan untuk bercermin hendaknya menjadi kesempatan bagi semua pihak untuk memperbaiki keadaan, bukan untuk menyamakan seluruh tanggung jawab. Kerja sama akan lebih bermakna apabila disertai pembagian peran yang jelas dan kesediaan setiap pihak untuk terus meningkatkan upayanya.

Kita tentu berharap hujan segera membantu meredakan kabut asap. Namun, hujan saja tidak cukup untuk memastikan persoalan ini tidak kembali terjadi. Kalimantan Tengah membutuhkan pencegahan yang lebih kuat, pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan, penegakan aturan yang adil, serta perlindungan masyarakat yang berkelanjutan.

Kabut asap seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak selesai ketika langit kembali cerah. Justru, ketika keadaan mulai membaik, kita memiliki kesempatan untuk mengevaluasi pengalaman sebelumnya dan memperbaiki langkah-langkah yang masih perlu ditingkatkan.

Ketika kabut asap kembali datang, perhatian kita kiranya tidak hanya tertuju pada kapan hujan turun, tetapi juga pada apa yang telah kita pelajari dan benahi sejak kebakaran sebelumnya. Evaluasi yang terbuka dan berkelanjutan dapat membantu kita melihat kemajuan, mengenali kekurangan, dan menentukan langkah yang lebih tepat.

Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga tentang seberapa sungguh-sungguh kita belajar, berbenah, dan mencegah agar kebakaran tidak terus berulang.(*)

 *) Penulis adalah Dosen STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya

Editor : Agus Pramono
kabut asap karhutla