Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Skandal Ilmuwan Gadungan Indonesia Gegerkan Konferensi Dunia di Denmark, Diduga Pakai AI dan Ganti Identitas

Miftahul Ilma • Selasa, 26 Mei 2026 | 11:00 WIB
Potongan gambar skandal ilmuwan gadungan. (Instagram @mandharabrasika)
Potongan gambar skandal ilmuwan gadungan. (Instagram @mandharabrasika)

 

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Dunia akademik Indonesia diguncang kabar memalukan dari panggung internasional. 

Sejumlah peserta asal Indonesia diduga melakukan pemalsuan identitas hingga fabrikasi riset dalam ajang konferensi ilmiah bergengsi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Kasus ini ramai dibahas peneliti hingga influencer media sosial setelah sejumlah peserta konferensi menemukan banyak kejanggalan dari presentasi kelompok tersebut. 

Dugaan manipulasi itu bahkan disebut dilakukan secara terorganisir di hadapan ribuan ilmuwan dunia.

Influencer Instagram @ricaasrosa menyebut kasus tersebut sebagai kabar memilukan bagi dunia penelitian Indonesia. 

Ia mengungkap adanya peserta yang diduga menggunakan identitas berbeda hanya dengan mengganti jilbab dan name tag saat tampil di sesi presentasi berbeda.

“Ini heartbreaking news banget di dunia peneliti dan akademisi Indonesia. Satu orang yang sama presentasi dengan dua judul berbeda di tempat berbeda dan dia ganti jilbab untuk mengelabui identitasnya,” ujarnya mengutip unggahannya di Instagram, Selasa (26/5/2026). 

Tak hanya identitas yang dipersoalkan, hasil penelitian yang dipresentasikan juga diduga palsu. 

Beberapa peserta konferensi mulai curiga karena figur data hingga poster penelitian dianggap tidak masuk akal dan terindikasi dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurut Rica, sistem seleksi konferensi ilmiah memang berbeda dengan jurnal akademik. Peserta umumnya hanya diminta mengirim abstrak singkat sekitar 300 kata sehingga detail data penelitian tidak diperiksa secara menyeluruh.

“Conference itu fungsinya untuk sharing information, kolaborasi dan networking. Jadi filternya cuma submit abstrak doang, beda kalau submit paper jurnal yang direview detail,” jelasnya.

“Kalau hal-hal seperti ini dibiarkan, ini bisa menjadi bibit koruptor dan mafia akademisi di masa depan,” lanjutnya. 

Kasus ini diungkap akun Instagram @mandharabrasika. Dalam unggahannya, salah seorang peserta konferensi mengaku sempat mengonfrontasi langsung salah satu terduga pelaku bernama Prihantini terkait isi penelitian yang dipresentasikan.

“Saya minta dia menjelaskan figures dan poster-posternya, tapi dia tidak bisa menjelaskan sama sekali,” bunyi tulisan dalam postingan itu. 

Dalam unggahan itu disebutkan, abstrak penelitian diduga dibuat oleh seseorang bernama Rifaldy Fajar. Penelitian tersebut disebut menggunakan data hasil generate AI atau fabrikasi tanpa riset nyata di lapangan.

Yang membuat heboh, lokasi penelitian yang dicantumkan tersebar di berbagai negara seperti Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Bangladesh, Sudan Selatan, Kenya hingga Nepal. Namun seluruh penelitinya berasal dari Indonesia tanpa kolaborator lokal maupun penjelasan etik penelitian.

Tak hanya itu, afiliasi lembaga penelitian yang dicantumkan juga dipertanyakan keberadaannya. Salah satu nama yang muncul adalah Al-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation, Jakarta, Indonesia yang disebut tidak ditemukan jejak resminya.

Kasus ini semakin menjadi perhatian karena diduga berkaitan dengan travel grant atau bantuan biaya perjalanan konferensi internasional. 

Dengan abstrak dan penelitian yang terlihat meyakinkan, kelompok tersebut diduga memperoleh pendanaan untuk menghadiri konferensi di luar negeri secara gratis.

“Gratis, karena yang bayar mahal adalah Indonesia yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia,” tulis akun tersebut.

Skandal ini memicu kekhawatiran besar di kalangan akademisi. Banyak pihak menilai dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku, tetapi juga seluruh peneliti Indonesia yang tengah berjuang membangun reputasi di level internasional.

Di tengah jumlah ilmuwan Indonesia yang masih minim di panggung global, kasus ini dikhawatirkan membuat kredibilitas akademisi Indonesia dipertanyakan bahkan berpotensi mempersulit peneliti Indonesia mengikuti forum ilmiah internasional di masa depan. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
#konferensi ilmiah #International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) #artificial intelligence #penelitian #ilmuwan