SAMPIT – Euforia menyambut Piala Dunia 2026 mulai terasa di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Event empat tahunan itu selalu ditunggu-tunggu berbagai kalangan. Baik muda maupun tua.
Tak hanya menjadi pembahasan para pecinta sepak bola, atmosfer pesta sepak bola terbesar dunia itu juga membawa berkah bagi para pedagang perlengkapan olahraga, terutama penjual jersey tim nasional.
Salah satunya dirasakan Rudi Abidinsyah. Pria yang telah berkecimpung dalam bisnis perlengkapan olahraga sejak 1994.
Menurutnya, setiap kali Piala Dunia digelar, penjualan jersey selalu mengalami peningkatan signifikan.
“Jelang Piala Dunia sangat berdampak ke penjualan. Biasanya yang paling banyak dicari itu jersey tim-tim favorit seperti Argentina, Portugal, dan Brasil,” ujarnya saat ditemui Rabu (3/6/2026).
Pira yang sudah berjualan sejak 1994 itu mengatakan, lonjakan pembeli biasanya mulai terasa saat turnamen memasuki fase gugur. Momen babak 16 besar hingga final menjadi periode paling ramai karena antusiasme masyarakat semakin tinggi mengikuti perjalanan tim kesayangannya.
“Paling sering itu saat 16 besar. Biasanya penjualan mulai ramai karena masyarakat sudah melihat tim mana yang berpeluang melaju jauh,” katanya.
Rudi yang berjualan di Jalan MT Haryono, komplek terminal bis Patih Rumbih itu menyebut harga perlengkapan sepak bola yang dijual cukup beragam.
Untuk jersey, harganya berkisar Rp50 ribu hingga Rp150 ribu per lembar. Sementara perlengkapan olahraga lainnya dibanderol mulai Rp100 ribu hingga Rp800 ribu.
Menurutnya, tren pembelian jersey tidak banyak berubah dari tahun ke tahun.
Mayoritas pembeli tetap memburu atribut tim-tim besar yang memiliki sejarah panjang di Piala Dunia.
“Biasanya yang digemari itu tim-tim yang pernah juara dunia. Setiap orang punya tim favorit masing-masing, tapi yang paling sering dicari memang negara-negara besar,” ujarnya pria pemilik pemilik sekolah sepak bola (SSB) Rudi Sport.
Meski demikian, Rudi menilai setiap penyelenggaraan Piala Dunia selalu menghadirkan nuansa berbeda. Munculnya generasi baru pemain dan penggemar sepak bola membuat euforia turnamen empat tahunan itu tidak pernah kehilangan daya tarik.
“Euforia selalu berbeda setiap Piala Dunia karena selalu muncul generasi baru. Jadi gairah dan antusiasme penggemar sepak bola itu selalu ada,” ungkapnya.
Sebagai pecinta sepak bola, Rudi mengaku sempat kecewa karena tim favoritnya, Italia, gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Namun hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk mengikuti turnamen.
“Tim favorit saya sebenarnya Italia, tapi karena tidak lolos, sekarang saya mendukung Belanda. Saya yakin tahun ini Belanda bisa juara,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya euforia Piala Dunia, Rudi juga menyimpan harapan besar terhadap sepak bola nasional. Ia berharap Timnas Indonesia dapat terus berkembang dan mampu mengamankan tiket menuju putaran final Piala Dunia pada masa mendatang.
“Harapan saya tahun depan Indonesia wajib bisa masuk Piala Dunia. Mudah-mudahan sepak bola kita semakin maju dan mampu bersaing di level internasional,” tandasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana