DERBI London Utara belum dimainkan, tetapi kursi panas di Tottenham Hotspur sudah lebih dulu “meledak”.
Thomas Frank resmi dipecat setelah Spurs terjerembap ke peringkat 16 Premier League, hanya lima poin di atas zona degradasi.
Kekalahan 1-2 dari Newcastle menjadi palu terakhir bagi manajemen klub. Rangkaian hasil buruk membuat tekanan suporter memuncak.
Dalam laga terakhirnya, sebagian fans mencemooh Frank dan menyanyikan nama Mauricio Pochettino—sebuah sinyal kerinduan pada era yang lebih stabil.
Secara statistik, performa Spurs di bawah Frank memang jauh dari harapan. Dari 38 pertandingan di semua kompetisi, ia hanya mencatatkan 13 kemenangan.
Di Premier League musim ini, Tottenham cuma meraih tujuh kemenangan dan belum sekalipun menang sepanjang 2026.
Namun yang paling mencolok adalah aspek finansial. Spurs merekrut Frank dari Brentford dengan membayar klausul pelepasan 6,7 juta pounds.
Ia dikontrak hingga Juni 2028 dengan gaji sekitar 8 juta pounds per tahun. Selama masa kerjanya, Frank sudah menerima sekitar 6 juta pounds.
Jika Spurs harus membayar penuh sisa kontraknya, total pengeluaran klub terkait Frank bisa mencapai 30,7 juta pounds (sekitar Rp702,6 miliar).
Dengan 13 kemenangan, setiap hasil positif praktis “berharga” sekitar 2,36 juta pounds atau Rp54 miliar. Angka itu menggambarkan betapa mahalnya eksperimen yang gagal di London utara.
Kini Spurs harus bergerak cepat mencari pengganti, terlebih mereka akan menghadapi Arsenal dalam derbi London Utara pekan depan.
Retak di Ruang Ganti: Empat Pemain yang Pernah Berselisih dengan Thomas Frank
Krisis Tottenham bukan hanya soal hasil di papan skor. Di balik performa buruk, hubungan Thomas Frank dengan sejumlah pemain ternyata tidak selalu harmonis.
Manajer asal Denmark itu disebut sempat berselisih dengan empat pemain selama delapan bulan masa kepemimpinannya di Spurs.
Insiden pertama melibatkan Micky van de Ven dan Djed Spence saat kekalahan 0-1 dari Chelsea pada November lalu.
Keduanya langsung masuk ke terowongan stadion alih-alih menghampiri suporter yang mencemooh, tindakan yang disebut tidak sesuai instruksi pelatih.
Yves Bissouma juga pernah bersitegang dengan Frank terkait masalah disiplin.
Gelandang asal Mali itu dicoret dari skuad saat menghadapi PSG di Piala Super Eropa setelah beberapa kali terlambat datang ke sesi latihan.
Sementara itu, penyerang muda Mathys Tel menunjukkan ketidaksenangannya saat diganti dalam laga kontra West Ham pada Januari.
Ia terlihat kesal ketika ditarik keluar pada menit ke-62 dan dilaporkan hampir tidak merespons Frank saat digantikan.
Rangkaian ketegangan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan Frank bukan hanya mengangkat performa tim, tetapi juga menjaga soliditas ruang ganti.
Dalam situasi tim yang terpuruk, gesekan kecil bisa menjadi bara yang mempercepat kejatuhan.
Arteta Soal Pemecatan Frank: “Kami Semua Rentan”
Di tengah panasnya rivalitas London utara, Mikel Arteta justru menunjukkan empati. Pelatih Arsenal itu mengaku sedih mendengar kabar pemecatan Thomas Frank oleh Tottenham.
“Selalu menjadi kabar yang sangat menyedihkan ketika seorang kolega tidak lagi melanjutkan pekerjaannya,” ujar Arteta, seperti dikutip dari ESPN.
Menurutnya, Frank adalah pelatih berkualitas yang sudah membuktikan kapasitasnya di Premier League. Namun Arteta juga menegaskan realitas keras dunia kepelatihan.
“Anda harus memenangkan banyak pertandingan, karena pada akhirnya jika tidak, Anda tidak akan bertahan. Itulah kenyataan pekerjaan kami,” katanya.
Pemecatan Frank menjadikannya manajer ketujuh Premier League yang kehilangan pekerjaan musim ini.
Kompetisi yang ketat membuat posisi pelatih sangat rentan, bahkan bagi mereka yang punya reputasi bagus.
Arteta sendiri pernah merasakan tekanan serupa ketika Arsenal sempat terpuruk di posisi ke-15 pada musim pertamanya.
Kini The Gunners justru memimpin klasemen dan bersaing di empat kompetisi.
Menjelang derbi London Utara, Arsenal masih menunggu kondisi Bukayo Saka dan Martin Ødegaard.
Namun satu hal jelas: di Premier League, tak ada kursi yang benar-benar aman. (psn/net)
Editor : Petrus