Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Menikmati Sensasi Mendaki Gunung Rego di Malam Hari

Ayu Oktaviana • Selasa, 2 September 2025 | 15:10 WIB
Penulis (berdiri, kanan) bersama kelompok pendaki yang sama-sama bermalam di Gunung Rego, Tanjung Palas Utara, Bulungan, Kaltara, pada sabtu malam (3/5/2025).
Penulis (berdiri, kanan) bersama kelompok pendaki yang sama-sama bermalam di Gunung Rego, Tanjung Palas Utara, Bulungan, Kaltara, pada sabtu malam (3/5/2025).

 

Senja belum sepenuhnya menelan langit ketika perjalanan kami dimulai. Jarum jam nyaris tegak lurus ke angka enam sore saat roda motor mulai menggilas jalan tanah di tengah bentangan perkebunan sawit di Karang Agung, Tanjung Palas Utara, Sabtu (3/5) lalu.

Nur Aeni, Bulungan


JALUR becek dan licin membuat motor kerap oleng, ban terperosok ke lumpur, sementara tawa dan keluhan saling bersahutan.

Pendakian malam menuju Gunung Rego pun dimulai, dengan kenyamanan yang jauh dari harapan, tetapi justru di situlah kisahnya mulai terajut.

Tiba-tiba, bau hangus tercium samar. Seperti ada sesuatu yang terbakar dari dalam mesin motor Lia, menambah ketegangan di awal perjalanan.

“Koplingnya mulai selip,” gumam Lia, berusaha menjaga keseimbangan saat motor matic-nya nyaris tak mampu menanjak.

Sontak aku yang dibonceng Lia, melompat dari motor. Di tanjakan seperti ini, bukan cuma pendaki yang diuji. Kuda besi itu pun harus berjuang, seolah ikut mendaki bersama kami.

Karena motor tak lagi sanggup mendaki, kami akhirnya menyerah. Mesin dimatikan, dan kendaraan dititipkan di tepi kebun sawit, beralaskan tanah basah yang mulai menggelap.

Kami lanjut berjalan kaki, menapaki jalur tanah merah yang makin menanjak, sambil menahan napas yang mulai memburu. Sekitar 15 hingga 20 menit kemudian, kami tiba di kaki Gunung Rego.

Senja menyapa dan samar-samar terdengar lantunan adzan Maghrib dari desa sekitar. Kami memutuskan untuk istirahat dan salat.

“Kita salat di sini ya,” kata Herman, leader kami. Usai salat bergantian. Kami kembali melanjutkan perjalanan.

Langit makin gelap, udara mulai berubah, lebih lembap, lebih sunyi. Di sinilah pendakian sesungguhnya akan dimulai.

Tak ada lagi deru mesin, hanya suara langkah, desah napas, dan desir angin yang menyelusup di antara rumput liar di kaki gunung. Senter di kepala menjadi satu-satunya cahaya yang memecah gelap malam itu.

“Mantap kali wey,” seru Reza yang baru pertama kali mendaki Gunung Rego.
Pukul 18.05, perjalanan dari kaki Gunung Rego menuju puncak resmi dimulai. Kami melangkah memasuki pintu rimba.

Kanopi alami dari pepohonan yang menjulang, memayungi jalur tanah setapak. Awalnya, trek masih bersahabat. Landai, cukup memberi waktu tubuh menyesuaikan ritme.

Tapi jangan salah, meski tak curam, napas mulai tersengal sejak langkah pertama. Udara di rimba terasa pekat.

Seakan kami berebut oksigen dengan akar, batang, dan daun yang tumbuh lebat di sepanjang jalur.

Bonus kenyamanan itu tak bertahan lama.
Setelah beberapa menit, kami disambut tanjakan curam yang menantang. Jalur berubah menjadi dinding tanah padat yang lembap dan licin, ditutupi guguran daun-daun kering yang mengelabui pijakan.

Kami mulai merangkak, mencengkeram batang kayu dan akar untuk bertahan dalam gelap malam, sambil menahan napas yang makin pendek.

“Kalau capek istirahat aja. Jangan dipaksakan,” ujar Herman. Kami pun menuruti sarannya.
Malam memang memperlambat segalanya. Pendakian yang biasanya bisa ditempuh lebih ringan saat siang, kini terasa dua kali lipat menguras tenaga.

Terlebih dengan beban logistik dan perlengkapan pendakian yang kami gendong.

“Sebentar lagi sampai, lima menit lagi,” selorohku, mencoba menyemangati.

Kalimat itu bukan pernyataan ilmiah, melainkan mantra khas pendaki yang kerap diulang-ulang meski jaraknya mungkin masih jauh.

Tujuannya bukan untuk menipu, tapi sekadar menjaga semangat tetap hidup di tengah tubuh yang mulai lunglai.

Langkah demi langkah, kami terus menanjak, tapi ritmenya tak lagi cepat. Kami lebih banyak berhenti, mengambil jeda pendek untuk mengatur napas dan menenangkan detak jantung.

Kami tidak ingin ambil risiko. Jalur makin menanjak, tubuh mulai kelelahan, istirahat pun jadi pilihan paling bijak malam itu.

“Setengah perjalanan lagi. Santai aja, kalau capek istirahat,” kata Herman lagi.

Perjalanan berlanjut, tiga jam kami menanjak dalam gelap. Selain trek terjal dan akar pohon mencuat, beberapa kali kami harus merangkak melewati batang pohon rebah.

Jalan mulai melandai. Dari cahaya senter yang menyorot ke depan, samar-samar tampak pucuk-pucuk merah di ujung ranting, dan lumut hijau menyelimuti sisi kiri-kanan jalur setapak. Tanda itu familiar, puncak sudah dekat.

“Nah kalau ada tanaman ini (pucuk merah) dan lumut sebantar lagi summit,” ucap Lia penuh semangat.

“Yoi,” kataku menimpali.

Tanpa banyak kata, aku buru-buru meraih gawai dari saku celana cargoku untuk mengabadikan momen tersebut.

Sontak kamera ponselku menangkap wajah bahagia Lia, Amita, Reza dan Herman. Namun, kami sedikit terkejut karena samar-samar cahaya lampu tenda dari puncak mulai terlihat.

“Sepertinya ada pendaki lain,” kata Amita. “Oh ada orang juga kah?” tanya Herman yang berjalan paling belakang sebagai sweeper. Benar saja, beberapa tenda berdiri tenang diterpa angin malam.

Kami disambut hangat oleh pendaki lain yang sudah lebih dulu tiba sejak jam empat sore.

Mereka dari Tana Tidung dan Tanjung Selor. Kami pun bergegas menyiapkan tenda dan bekal untuk istirahat.

Di ketinggian 481 mdpl itu, rasa asing segera larut dalam kehangatan pertemanan sesama pendaki.

Meski berbeda waktu sampai, tapi malam itu kami berbagi langit yang sama, di puncak Gunung Rego yang bersahaja namun penuh cerita.

“Bukan tentang seberapa tingginya gunung itu, tapi tentang bagaimana alam merendahkan ego dan meninggikan rasa syukurmu,” ucapku. (jpg/abw)

 

Photo
Photo
Editor : Ayu Oktaviana
#puncak #tanjung selor #pendaki #bulungan #Gunung Rego #detak jantung #pendakian #Menanjak #Rumput Liar #batang pohon #perkebunan sawit