Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Harga Cabai Melonjak Drastis, Berikut Daftar Harga Bahan Pokok Jelang Natal dan Tahun Baru 2026 di Palangka Raya

Agus Pramono • Rabu, 10 Desember 2025 | 09:30 WIB
Harga cabai naik jelang Natal 2025.AGUS PRAMONO/KALTENG POS
Harga cabai naik jelang Natal 2025.AGUS PRAMONO/KALTENG POS

 

PALANGKA RAYA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memperketat pemantauan stabilitas harga bahan pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru 2026.

Pada Selasa (9/12/2025), Tim Pemantauan yang dipimpin Staf Ahli Gubernur Kalteng Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Besar, Pasar Kahayan, serta Gudang Bulog Palangka Raya. Hasilnya, sejumlah komoditas strategis terpantau mengalami kenaikan cukup signifikan, terutama cabai dan bawang.

Dalam keterangannya, Yuas Elko menyebut lonjakan harga cabai menjadi komoditas yang paling mencolok.

“Kalau kita melihat harganya, khususnya komoditas cabai itu, memang agak naik. Dari Rp60.000–80.000 per kilogram sekarang naik menjadi Rp110.000 sampai Rp120.000,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kenaikan tersebut dipicu faktor cuaca serta ketergantungan pasokan dari luar daerah, terutama Banjarmasin.

Persediaan beras aman

Stok bahan pangan pokok, terutama beras, berada dalam kondisi aman.

“Bulog sudah menyatakan stok beras kita mencapai 15.135 ton. Kalau dihitung-hitung, dengan konsumsi saat ini, stok itu mampu memenuhi kebutuhan hingga enam bulan,” jelasnya.

Pada Januari 2026, Bulog juga dijadwalkan kembali menerima tambahan pasokan sekitar 12 ribu ton.

Menghadapi potensi gejolak harga jelang puncak Nataru, Pemprov Kalteng menyiapkan sejumlah langkah intervensi.

“Ada pasar murah atau pasar penyeimbang. Kunjungan Bapak Gubernur ke daerah-daerah juga selalu disertai operasi pasar, baik berupa paket maupun komoditas bahan pangan,” ujar Yuas.

Sementara itu, Pimpinan Wilayah Bulog Kalteng, Budi Sultika, menegaskan kembali bahwa stok beras sangat mencukupi.

“Kami menguasai 15.135 ton se-Kalteng yang disimpan di sembilan titik gudang. Inflasi kita tidak terkait dengan beras, dan di pasar pun harga beras relatif stabil,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penyerapan gabah lokal akan kembali dilakukan pada Maret 2026 seiring musim panen.

“Rata-rata penyaluran kita 35 ton per hari, sekitar 1.000 ton per bulan. Tahun ini tidak ada impor, semua dari petani lokal kecuali stok lama tahun 2024,” tambahnya.


Elpiji subsidi tembus 40 ribu

Sementara untuk elpiji 3 kilogram, harga di tingkat pangkalan stabil di Rp22.000, namun ditemukan harga eceran yang mencapai Rp40.000.

“Itu aneh. Mungkin ada oknum tertentu yang menjual berantai. Polri sudah melakukan pengawasan terhadap pangkalan dan agen,” katanya.

Terkait dampak cuaca ekstrem, Pemprov menyerahkan penyesuaian pola tanam kepada Dinas Pertanian bersama rekomendasi BMKG.

“Harus tahu jadwal tanaman yang cocok di musim penghujan atau pancaroba. Itu ranah Dinas Pertanian untuk memberi arahan agar dampak cuaca tidak memperburuk produksi pangan,” jelas Yuas.

Daftar harga di pasar

Sebagai informasi, berdasarkan hasil pemantauan di dua pasar utama Palangka Raya, yakni di Pasar Kahayan ayam ras naik dari Rp35.000/kg menjadi Rp36.000/kg, bawang merah naik dari Rp50.000/kg menjadi Rp60.000/kg.

Untuk cabai merah keriting naik dari Rp85.000/kg menjadi Rp100.000/kg, cabai rawit merah naik dari Rp100.000/kg menjadi Rp115.000/kg, sementara komoditas lainnya stabil.

Sedangkan di Pasar Besar daging ayam ras dari Rp33.000/kg menjadi Rp36.000/kg, beras karang dukuh dari Rp17.000 menjadi Rp18.000, beras mayang dari Rp18.000/kg menjadi Rp19.000/kg, beras siam Pamanukan dari Rp16.000/kg menjadi Rp17.000/kg.

Lalu untuk harga bawang merah dari Rp47.000/kg menjadi Rp60.000/kg, bawang putih dari Rp35.000/kg menjadi Rp38.000/kg, cabe rawit keriting dari Rp60.000/kg menjadi Rp80.000/kg, cabe rawit biasa dari Rp70.000/kg menjadi Rp110.000/kg, sementara komoditas lainnya masih stabil.

Selain itu, Pemprov juga terus memfasilitasi kerja sama business to business antara pelaku usaha di Kalteng dengan daerah pemasok untuk menutupi kekurangan komoditas tertentu.

“Kalau di sini kurang cabai, ya harus didatangkan dari daerah yang surplus. Kami memfasilitasi itu sejak 2021,” tegasnya.
Untuk komoditas yang rentan naik jelang Nataru, Yuas menyebut cabai rawit, cabai merah, cabai keriting, serta bawang merah sebagai komoditas paling sensitif.(ovi/ram)

Editor : Ayu Oktaviana
#pasar kahayan #bulog #ayam ras #cabai #bawang putih #faktor cuaca #produksi pangan #surplus #pelaku usaha #cabai rawit #inflasi #bawang merah #kalimantan tengah #stabilitas harga pangan #elpiji 3 kilogram #harga cabai #operasi pasar #bahan pangan pokok #pemprov kalteng #Yuas Elko #beras