Ada anak yang tumbuh lewat permainan, ada pula yang menemukan jalannya melalui selembar kertas dan sebatang pulpen. Bagi Yasmin Wazira, siswi SMA Negeri 2 Palangka Raya, coretan masa kecil itu menjadi pintu pertama menuju dunia literasi sebuah perjalanan yang pada akhirnya membawanya mewakili Kalimantan Tengah di tingkat nasional.
M RIFQI PADILA, Palangka Raya
SEMUA bermula dari kebiasaan sederhana saat berkunjung ke rumah kakek-nenek. Untuk menahan keusilan cucunya yang ingin bermain sepulang kerja, sang kakek selalu memberikan Yasmin kertas dan pulpen.
“Dari situ mulai suka coret-coret,” kenangnya. Orang tua yang melihat kebiasaan itu mulai merawat minatnya. Ibunya membelikan buku-buku dongeng bergambar seperti 366 Kisah Islam buku yang hingga kini masih disimpannya.
Kegemaran membaca perlahan membuat Yasmin nyaman tampil di depan umum. Suatu ketika ia melihat kakak kelas membawakan cerita di depan kelas, dan sejak saat itu ia tak pernah berhenti meminta gurunya agar diikutsertakan lomba.
“Dari kecil katanya aku orangnya nggak tahu malu,” ujarnya sambil tertawa.
Ia pun ikut lomba bercerita pertamanya di SD, membawakan legenda Hantuen. Meski demam dan sempat dibantu juri karena lupa bagian cerita, Yasmin pulang membawa juara harapan tiga pengalaman yang memantik semangatnya.
Memasuki SMP, kemampuan Yasmin semakin matang. Ia mengikuti storytelling bertema budaya di Dekranasda, membawakan cerita tentang produk rotan khas Kalteng, dan meraih juara tiga. Tak lama berselang, ia kembali mengikuti lomba bercerita Dispusip Kota dan memenangkan juara satu tingkat kota serta juara tiga tingkat provinsi. Dari titik ini, Yasmin merasa semakin yakin bahwa literasi adalah ruang di mana ia ingin tumbuh.
Di SMA, langkahnya semakin jauh. Yasmin mengikuti lomba resensi buku Dispusip Kota Palangka Raya. Ia menyusunnya menjadi resensi padat namun efektif, sehingga terpilih sebagai juara pertama dan mewakili Kalimantan Tengah di tingkat nasional. Tantangan terbesar justru datang saat proses pembuatan video resensi.
“Kalau presentasi biasa bisa lancar. Tapi begitu di depan kamera sering ngeblank,” tuturnya, awal Desember 2025 lalu. Namun ia tetap menyelesaikannya dengan usaha maksimal.
Upayanya berbuah manis. Yasmin masuk 20 besar nasional dan berangkat ke Festival Literasi 2025 di Hotel Grand Mercure, Jakarta. Di sana ia bertemu perwakilan dari berbagai provinsi, mengikuti bincang sastra bersama Maudy narasumber yang ia kagumi serta menikmati tayangan seluruh video peserta.
“Di sana kami cuma happy-happy. Semua akomodasi dari Perpusnas. Rasanya senang sekali bisa mewakili provinsi,” ujarnya.
Di balik pencapaian itu, ada sosok guru yang sejak awal memperhatikan bakat Yasmin: Leli Yusvita, M.Pd, Kepala Perpustakaan SMAN 2 Palangka Raya sekaligus guru Bahasa Inggris. Ia pertama kali melihat Yasmin ketika menjadi MC Pemilihan Duta Baca Kota Palangka Raya 2024.
“Saat itu saya kira dia siswi SMA karena cara membawakan acaranya formal dan sangat lancar,” ucap Leli.
Pertemuan kedua terjadi saat Leli menjadi juri storytelling SMP. Yasmin kembali tampil sebagai pembawa acara. Sejak saat itu, komunikasi keduanya intens.
“Saya mengharapkan dia masuk SMA sudah siap mengikuti seleksi program Youth Exchange and Studies ke US,” kata Leli. Ketika Yasmin akhirnya bersekolah di SMA 2, hubungan itu makin dekat.
Leli menyebut Yasmin sebagai siswi dengan tingkat mindful learning yang sangat berkembang, disiplin, terarah, dan memiliki soft skill komunikasi yang matang.
“Dia selalu rajin memberi kabar tentang langkah dan progres kerjanya. Kemampuannya secara tulis dan lisan luar biasa, kegigihannya menjadi kebanggaan saya,” ungkapnya.
Sekolah pun memberikan dukungan penuh. Bimbingan, dispensasi kegiatan, hingga publikasi video resensi Yasmin dibantu dan diapresiasi oleh guru-guru. “Video resensinya kami share di grup sekolah dan grup siswa,” jelas Leli.
Tantangan Yasmin bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga konsistensi. Namun bagi Yasmin, literasi sudah menjadi bagian dari dirinya. “Semoga bisa tetap disiplin dan terus berkembang,” ujarnya pelan.
Untuk pelajar lain di Kalimantan Tengah, Yasmin punya pesan sederhana namun kuat. “Jangan cuma termotivasi, tapi disiplin. Motivasi bisa hilang, tapi disiplin yang akan membawa kamu sampai tujuan,” katanya.
Dari coretan polos di masa kecil hingga panggung nasional di Jakarta, Yasmin menunjukkan bahwa literasi adalah jalan yang bisa membawa siapa saja termasuk anak daerah melihat dunia dari jendela yang lebih luas. (*/ala)
Editor : Ayu Oktaviana