SAMPIT – Lantunan selawat dan semarak peringatan Maulid Nabi kembali menggema di berbagai tempat. Bagi umat Islam, bulan Rabiul Awal tak sekadar menghadirkan suasana religi, melainkan juga kesempatan untuk merenungi makna kehadiran Nabi Muhammad SAW dalam lintasan sejarah dan kehidupan sehari-hari.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kotawaringin Timur (Kotim), Kiai Achmad Robita, menegaskan bahwa Maulid Nabi bukan hanya kegiatan seremonial.
Menurutnya, perayaan ini seharusnya menjadi momentum untuk meneladani sosok Rasulullah dalam seluruh aspek kehidupan.
"Maulid Nabi adalah momen kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah. Kelahirannya menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta," ujar Kiai Robita, Jumat (5/9/2025).
Ia menjelaskan, kelahiran Rasulullah SAW menjadi titik balik besar dalam sejarah peradaban manusia. Di tengah gelapnya masa jahiliyah, Nabi hadir membawa cahaya Islam yang menuntun umat menuju kemuliaan.
"Nabi Muhammad hadir laksana oase di tengah padang pasir kejahiliyahan, yang menghapus dahaga di tengah kebobrokan zaman menuju gemilangnya peradaban Islam," tegasnya.
Kiai Robita juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada peringatan yang hanya sebatas rutinitas. Ia menekankan, esensi Maulid Nabi adalah menjadikan teladan Rasulullah sebagai pedoman hidup nyata.
"Jangan sampai peringatan Maulid Nabi hanya menjadi ritual seremonial yang kering makna. Maulid harus menjadi refleksi nyata dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menghadirkan sosok Nabi SAW sebagai panutan sepanjang masa. Dengan begitu, setiap generasi akan selalu memiliki teladan akhlak yang mulia.
"Peringatan Maulid Nabi juga harus mampu menghadirkan sosok Nabi SAW sebagai idola di seluruh lapisan generasi, sehingga kita takkan pernah mengalami krisis keteladanan," pungkasnya. (mif)
Editor : Agus Pramono