RATUSAN pelajar dari tingkat SD, SMP, hingga SMA di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi hidangan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Insiden ini terjadi pada Rabu (17/9/2025), dengan sebagian besar korban berasal dari Kecamatan Kadungora.
Kronologi Kejadian
Kasus ini bermula setelah para siswa menyantap menu MBG yang disiapkan dapur SPPG Yayasan Al Bayyinah 2 Garut di Desa Karangmulya.
Hidangan yang disajikan berupa nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, serta buah stroberi.
Tak lama usai makan, sejumlah pelajar mulai mengeluhkan mual, muntah, dan pusing pada Selasa (16/9) sore.
Gejala tersebut terus berlanjut hingga keesokan harinya, sehingga belasan siswa harus dilarikan ke fasilitas kesehatan.
Kepala Seksi Humas Polres Garut, Ipda Adi Susilo, menjelaskan bahwa 19 pelajar yang membutuhkan penanganan lebih lanjut terdiri atas 12 siswa MA Maarif Cilageni, 3 siswa SMP Siti Aisyah, 1 siswa SMA Siti Aisyah, serta 3 siswa SDN 2 Mandalasari.
Langkah Polisi dan Medis
Polisi telah turun langsung ke lokasi kejadian dengan melakukan pendataan korban, memeriksa saksi, serta mengirimkan sampel makanan dan muntahan korban ke laboratorium.
“Kami juga menghimpun bahan keterangan tambahan untuk memastikan jumlah korban dan mencari tahu penyebab pasti,” jelas Adi.
Pihak sekolah mengungkapkan sebagian siswa tetap masuk kelas meski dalam kondisi lemah. Kepala SMA Siti Aisyah, Hari Triputuharja, mengatakan sedikitnya 30 siswa di sekolahnya terdampak, dengan empat di antaranya harus mendapat perawatan di puskesmas.
Respons Pemerintah Daerah
Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, meninjau langsung para pelajar yang tengah menjalani perawatan.
Ia menyebut 15 siswa dari SMA Maarif Kadungora dan SMA Siti Aisyah mendapat penanganan medis lebih lanjut.
“Alhamdulillah kondisi mereka sudah membaik, meski sebelumnya mengeluhkan sakit perut, pusing, dan lemas,” ujarnya. Pemkab Garut memastikan seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung.
Investigasi Penyebab
Dinas Kesehatan Garut telah mengambil sampel makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan. Namun, hasil laboratorium belum bisa dipastikan. “Ada indikasi kontaminasi, tetapi belum bisa dipastikan penyebab pastinya,” kata Wakil Bupati Putri.
Kepala Bidang P2P Dinkes Garut, Asep Surachman, menambahkan pihaknya juga menyiapkan formulir daring untuk mendata kemungkinan adanya tambahan korban. (jpg/abw)
Editor : Ayu Oktaviana