PALANGKA RAYA–Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam paling istimewa dalam bulan Ramadan yang sangat dinantikan umat Islam.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Tengah Prof. Dr. H. Khairil Anwar, menjelaskan bahwa malam tersebut memiliki makna mendalam yang tidak hanya berkaitan dengan pahala ibadah, tetapi juga perubahan spiritual dalam kehidupan seorang muslim.
Menurutnya, secara umum Lailatul Qadar dipahami sebagai malam yang memiliki kemuliaan luar biasa. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa ibadah pada malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan.
Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam itu memiliki nilai pahala yang sangat besar dibandingkan ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun.
“Karena itu, jika seseorang melaksanakan ibadah seperti salat tarawih, membaca Al-Qur’an, atau berdoa pada malam tersebut, maka pahalanya dilipatgandakan dan nilainya lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan,” jelasnya, Senin (9/3/2026).
Ia menambahkan, makna kedua dari Lailatul Qadar adalah sebagai malam penetapan atau malam ketentuan. Pada malam tersebut, seseorang dapat mengalami kesadaran batin yang mendalam.
Kesadaran itu muncul melalui proses introspeksi diri yang kemudian mendorong seseorang untuk memperbaiki kehidupannya.
Prof. Khairil mengatakan, orang yang merasakan pengalaman spiritual pada malam tersebut biasanya mengalami perubahan sikap dalam hidupnya. Ia menjadi lebih rajin beribadah, lebih sering menghadiri majelis ilmu, serta lebih dekat dengan masjid.
“Orang yang bertemu dengan malam Lailatul Qadar biasanya merasakan perubahan batin. Ia semakin rajin salat, lebih aktif mengikuti majelis taklim, dan lebih dekat dengan kegiatan keagamaan. Itu menandakan adanya kesadaran spiritual yang kuat dalam dirinya,” ujarnya.
Makna lainnya dari Lailatul Qadar adalah malam yang disebut sebagai malam yang sempit. Hal ini karena pada malam tersebut para malaikat turun ke bumi dalam jumlah yang sangat banyak sehingga bumi seolah-olah menjadi sempit oleh kehadiran mereka.
Ketua MUI Kalteng itu menjelaskan, turunnya para malaikat ke bumi membawa keberkahan serta bisikan-bisikan kebaikan kepada manusia. Bisikan tersebut mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan buruk dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Pada malam itu malaikat turun membawa kebaikan. Mereka membisikkan hal-hal baik kepada manusia sehingga hatinya terdorong untuk melakukan kebaikan dan menjauhi godaan setan maupun hawa nafsu,” katanya.
Karena keistimewaan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah selama bulan Ramadan, khususnya pada sepuluh malam terakhir. Banyak ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar berada pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.
Namun, katanya, waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tetap menjadi rahasia Allah SWT. Oleh karena itu umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan setiap malam Ramadan dengan ibadah agar tidak melewatkan malam yang penuh kemuliaan tersebut.
“Karena kita tidak tahu kapan tepatnya malam Lailatul Qadar terjadi, maka sebaiknya setiap malam Ramadan dihidupkan dengan ibadah. Terutama pada sepuluh malam terakhir,” tuturnya.
Ia juga mengibaratkan perjalanan ibadah di bulan Ramadan seperti sebuah kompetisi. Sepuluh hari pertama diibaratkan sebagai babak penyisihan, sepuluh hari kedua sebagai babak semifinal, dan sepuluh hari terakhir sebagai babak final yang menentukan.
“Kalau sudah masuk sepuluh malam terakhir, itu ibarat babak final. Di situlah umat Islam seharusnya meningkatkan ibadah secara maksimal agar mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar,” jelasnya.
Dalam praktiknya, umat Islam dapat menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai amalan seperti membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat tahajud, salat tasbih, salat hajat, memperbanyak zikir, serta berdoa memohon ampunan kepada Allah SWT.
Ia juga mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW memberikan teladan dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan. Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa beliau memperbanyak ibadah, membangunkan keluarganya untuk beribadah, dan mengurangi aktivitas duniawi agar lebih fokus mendekatkan diri kepada Allah.
“Rasulullah SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan benar-benar menghidupkan malamnya dengan ibadah. Bahkan beliau membangunkan keluarganya agar turut beribadah,” katanya.
Menurutnya, tujuan utama dari semua ibadah tersebut adalah agar umat Islam memperoleh ampunan dari Allah SWT serta kembali kepada kesucian saat Hari Raya Idulfitri.
“Harapannya ketika Ramadan berakhir dan kita memasuki hari raya, kita kembali dalam keadaan suci karena dosa-dosa telah diampuni oleh Allah SWT,” pungkasnya. (zia/ala)
Editor : Ayu Oktaviana