Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata

IGD

Agus Pramono • Jumat, 19 September 2025 - 09:55 WIB
Agus Pramono
Agus Pramono

 

Oleh; Agus Pramono

IGD, tempat yang enggak diharapkan orang untuk dikunjungi. Jangankan berbaring di ranjang perawatan, menengok saja kalau bisa jangan. Bulan lalu, saya menginjakkan kaki di sana. Di instalasi gawat darurat RSUD dr Doris Sylvanus.

Kebetulan anak saya sakit. Demam berdarah. Berstatus pasien rujukan. Sebelumnya, dirawat di rumah sakit swasta. Satu minggu lamanya.

Alhamdulillah, sekarang sudah sembuh. Kembali ke sekolah. Dan kembali juga ke rutinitas lama: Berantem kecil sama ibunya gara-gara lupa nyapu kamar.

Nama IGD sudah enggak asing bagi saya. Tapi, tempatnya masih asing bagi kaki dan mata. Dulu, IGD masih berada di bangunan lama. Pintu masuk menghadap ke jalan. Dari Jalan Tambun Bungai terlihat jelas.

Periode 2014 sampai 2015, hampir tiap hari ke sana. Cari berita. Saat awal jadi wartawan. Sekarang, bangunannya sudah berubah. Pintu masuk ada di sisi kanan. Tulisan IGD tidak kelihatan dari jalan. Tidak buat seram pengguna jalan. Ruangannya juga besar. Bisa menampung lebih 30 pasien.

Beragam pasien sudah dijumpai ketika saya jadi wartawan. Mulai kecelakaan, pembunuhan, penyakit dalam, sampai kejadian unik untuk diberitakan.

Karakter keluarga pasien juga bermacam-macam. Ada yang enak diajak ngobrol. Ada yang cuek ketika mulai disapa. Tak jarang juga dimarahi. Maklum, orang kena musibah malah ditanya-tanya dari A sampai Z.

Saya dulu nongkrongnya di depan pintu IGD. Jika penat, pindah ke belakang. Ada kursi panjang berjejer. Dipakai duduk keluarga pasien seraya menunggu kabar.

Di deretan kursi inilah saya banyak memutar otak bagaimana cara menggali cerita dari keluarga.
Cara wawancara juga harus sabar. Tidak asal nodong handphone ke depan mulut keluarga pasien.

Diawali dengan nada pelan bertanya, sakit apa keluarganya? Dari jawaban pertama yang keluar dari mulutnya, saya harus paham karakter narasumber. Jika jawabannya cuma satu kata, iya am. Rasanya kayak nanya ke tembok.

Jikalau keluarga pasien menjawab dengan dibumbui wajah yang enak dipandang, saya juga tidak langsung menggelontorkan pertanyaan.

Wartawan kriminal diasah untuk bersabar. Pintar mengatur ritme pertanyaan. Kalau keburu nafsu, malah bisa dikira debt collector.

Untungnya, IGD tidak seketat sekarang. Dulu, tidak ada satpam lalu lalang. Kalau sekarang, ada dua orang menemani pasien, satu disuruh keluar ruangan.

Satu pasien satu orang penunggu. Wartawan kriminal yang cari berita di rumah sakit harus memanfaatkan momen emas. Kapan momen emas itu datang? Ya, ketika awal pasien datang.

Di saat pasien ditangani oleh tim medis, pihak keluarga pasti ditanya-tanya oleh perawat. Lalu, ditanya lagi oleh polisi, yang biasanya tiba belakangan. Di momen itulah bisa menggali data. Telinga harus tajam mendengar. Daya ingat diperkuat sambil memalingkan pandangan mata seolah-olah tak memperhatikan.

Jika di momen itu tidak dapat, ya kembali lagi ke kursi panjang belakang IGD tadi. Bisa menunggu berjam-jam. Buang-buang waktu. Maka dari itu, momen emas tadi adalah kunci.

Saat itu, saya tak bisa melihat ambulans lewat. Jika melihat, bawaannya pengen ngikut aja. Pernah, waktu jalan sama istri, berpapasan dengan ambulans. Saya memilih balik, dan ngikuti sampai IGD. Meski, kadang-kadang berujung kecewa. Ambulans itu membawa pasien sakit gula.

Di saat anak saya sakit bulan lalu, posisi saya berubah: dari wartawan jadi keluarga pasien. Hampir 10 jam anak saya di IGD. Belum dapat kamar. Tidak ada lagi mode cari berita, meski pikiran ini dirundung penasaran ketika ada pasien datang. Bawaannya pengen nanya aja.

Namun, ada dokter muda dari Universitas Palangka Raya. Baru dua bulan praktik. Saya dan istri sedang panik-paniknya ketika baru tiba.

Meski mulai mereda, ketika anak tampak baik-baik saja. Dokter senior tak banyak tanya. Cukup membaca rekam medis dari rumah sakit sebelumnya. Tapi, ada wartawan dadakan. Siapa dia? Dokter muda.

Dokter muda yang pertama kali bertanya itu laki-laki. Saya lupa namanya. Padahal sempat saya catat. Kucari-cari tak ketemu. Dia dari Medan. Badannya sedikit tambun. Berkaca mata. Kalau saja dia pindah profesi, saya yakin cocok jadi wartawan pos rumah sakit. Cara bertanyanya lembut, ritmenya pas. Enggak nyerocos.

Sempat pula saya melihat dia membantu pasien kritis, dua langkah dari ranjang anak saya. Dokter muda tampak cekatan memegang kantong oksigen. Meski akhirnya, pasien itu meninggal.

Usai bantu, dia balik lagi. Tanya-tanya lagi. Terakhir pipis jam berapa? Banyaknya berapa? . Usai dia selesai, tak lama datang dokter muda yang lain. Tanya-tanya lagi.

Saya pun membuka hati saat diwawancara. Toh, enggak diberitakan juga. Kalau pun diberitakan, judulnya mungkin begini; Pasien DBD Berstatus Anak Wartawan, Ayahnya Panik Takut Diberitakan.(*)

 

*) Penulis adalah Redaktur Pelaksana Kalteng Pos

Editor : Agus Pramono
#dbd #dokter muda #wartawan #igd