Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Sawit di Tengah Sorotan Global: Tetap Jadi Penopang Ekonomi, tapi Butuh Kepastian Regulasi dan Keberlanjutan

Agus Pramono • Senin, 2 Maret 2026 | 14:20 WIB

Rawing Rambang berbicara terkait sisi positif sawit yang banyak orang tidak tahu.
Rawing Rambang berbicara terkait sisi positif sawit yang banyak orang tidak tahu.

PALANGKA RAYA-Di tengah tekanan isu lingkungan global dan ketatnya persaingan pasar internasional, kelapa sawit masih berdiri sebagai salah satu penopang utama perekonomian Indonesia.

Produktivitasnya yang tinggi dan daya serap tenaga kerja yang besar membuat komoditas ini bukan sekadar penyumbang devisa, tetapi juga penggerak ekonomi daerah, terutama di kawasan tropis seperti Kalimantan dan Sumatera.

Pengamat perekonomian dan perkebunan, Rawing Rambang, menilai posisi strategis sawit saat ini tak lepas dari perubahan peta kekuatan minyak nabati dunia sejak dekade 1990-an.

“Sekarang hampir 60 persen minyak nabati dunia dikuasai sawit. Inilah yang membuat sawit kemudian dianggap mengancam dan dipersoalkan,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

Produktivitas Tinggi, Lahan Lebih Sedikit

Secara global, luas perkebunan sawit tercatat sekitar 16,83 juta hektare, jauh lebih kecil dibandingkan total tanaman minyak nabati lain yang mencapai sekitar 130 juta hektare.

Namun justru dari luasan yang relatif kecil itu, sawit mampu menjadi pemasok utama kebutuhan minyak nabati dunia.

Produktivitas yang tinggi dan harga yang kompetitif membuat sawit menjadi pilihan pasar internasional.

Keunggulan ini sekaligus memicu dinamika geopolitik dan ekonomi, terutama dari negara-negara yang tak memiliki kondisi agroklimat ideal untuk menanam sawit.

Tanaman ini hanya tumbuh optimal di wilayah tropis dengan kelembapan tinggi dan paparan sinar matahari memadai. Itulah sebabnya Kalimantan dan Sumatera menjadi kawasan strategis dalam rantai pasok global.

Dampak Nyata di Daerah

Di tingkat regional, khususnya Kalimantan Tengah, sawit telah mengubah lanskap ekonomi secara signifikan.

Perputaran uang dari aktivitas perkebunan memicu tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, mulai dari perdagangan lokal, jasa transportasi, hingga usaha mikro masyarakat.

Secara teoritis, satu hektare kebun sawit menyerap sekitar 0,2 tenaga kerja. Dengan jutaan hektare lahan di Kalimantan Tengah, ratusan ribu pekerja terlibat langsung di sektor ini, belum termasuk efek berantai pada sektor pendukung lainnya.

Fenomena tersebut terlihat jelas pada akhir pekan, ketika para pekerja perkebunan membelanjakan penghasilannya di pusat-pusat kota, menggerakkan roda ekonomi lokal.

Tantangan Investasi dan Kepastian Regulasi

Meski berkontribusi besar, industri sawit menghadapi tantangan struktural yang tak ringan. Investasi pengembangan kebun tergolong mahal dan berjangka panjang.

Biaya bisa mencapai sekitar Rp80 juta per hektare hingga fase awal produksi, dengan titik impas yang baru tercapai sekitar 12 tahun.

Karena itu, kepastian regulasi menjadi faktor krusial. Inkonsistensi kebijakan dan ketidakstabilan pemerintahan dapat menghambat minat investor.

“Investor melihat konsistensi aturan dan stabilitas. Mereka ingin usaha yang cepat, tepat, dan aman, tapi tetap patuh pada regulasi,” tegas Rawing.

Di Persimpangan Ekonomi dan Lingkungan

Isu lingkungan menjadi tantangan lain yang tak bisa diabaikan. Di satu sisi, tuntutan keberlanjutan semakin menguat di pasar global. Di sisi lain, kebutuhan ekonomi daerah tetap mendesak.

Rawing menilai praktik budidaya sawit saat ini telah berkembang dengan mempertimbangkan aspek teknis dan ekologis, mulai dari menghindari lahan rawa dan kawasan berkemiringan ekstrem, hingga mempertahankan area tertentu sebagai ruang konservasi.

Menurutnya, masa depan sawit bergantung pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.

“Kalau masyarakat sejahtera dan lingkungan terjaga, usaha juga akan berjalan baik. Sawit harus dilihat sebagai investasi jangka panjang bagi daerah dan negara,” pungkasnya.

Dengan tantangan global yang terus berkembang, pekerjaan rumah industri sawit bukan hanya mempertahankan produksi.

Lebih dari itu, memastikan komoditas strategis ini tetap relevan, berdaya saing, dan diterima dunia, tanpa mengorbankan kepentingan generasi mendatang.(ovi/ram)

Editor : Ayu Oktaviana
#penggerak ekonomi #kalimantan tengah #sawit #roda ekonomi #rawing rambang #kelapa sawit #Perdagangan lokal #geopolitik #pasar internasional