SAMPIT – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ternyata belum terlalu mengguncang pasar emas perhiasan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Meski kurs mata uang asing mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir, harga emas di sejumlah toko perhiasan di Sampit masih bergerak relatif landai.
Di kawasan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM), aktivitas jual beli emas mulai terlihat ramai menjelang Hari Raya Iduladha. Warga berdatangan untuk membeli berbagai jenis perhiasan, mulai dari cincin hingga gelang emas.
Salah seorang pelaku usaha emas di Sampit, Muliana Sari, mengatakan perubahan harga emas belakangan ini tidak terlalu ekstrem. Kenaikan maupun penurunan harga disebut hanya bergerak dalam kisaran puluhan ribu rupiah per gram.
“Kalau dibanding beberapa waktu lalu, naik turunnya sekarang masih tergolong normal. Perubahannya paling sekitar Rp20 ribu sampai Rp30 ribu per gram,” katanya, Selasa (26/5/2026).
Saat ini, emas kadar 999 atau emas murni dipasarkan sekitar Rp2.450.000 per gram. Angka tersebut mengalami kenaikan tipis dibanding harga sebelumnya.
Sementara emas kadar 750 berada di kisaran Rp2.050.000 per gram, emas kadar 700 dijual sekitar Rp1.900.000 per gram, dan emas kadar 375 berada di angka Rp1.100.000 per gram.
Menurut Sari, pola pergerakan harga emas sekarang mulai berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Jika sebelumnya perubahan kurs dolar sangat mempengaruhi harga emas, kini kondisi geopolitik internasional justru dianggap lebih dominan menggerakkan pasar logam mulia.
“Sekarang pengaruh dolar tidak terlalu terasa seperti dulu. Biasanya harga emas lebih cepat bergerak kalau ada situasi politik dunia yang memanas,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah dinamika politik global sempat membuat harga emas melonjak dalam waktu singkat.
Pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping, termasuk berbagai pernyataan kontroversial dari tokoh dunia, disebut ikut memicu gejolak harga di pasar internasional.
“Kalau ada isu besar dari luar negeri atau pernyataan yang bikin situasi memanas, biasanya harga emas langsung ikut bergerak,” tuturnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas di Sampit sempat menyentuh angka sekitar Rp2.550.000 per gram. Bahkan pada periode tertentu tahun lalu, harga logam mulia itu pernah melonjak hingga mendekati Rp3 juta per gram.
Namun menariknya, ketika konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas, harga emas justru tidak terus meroket. Pasar disebut bergerak fluktuatif dan cenderung sulit diprediksi.
Di tengah kondisi tersebut, minat masyarakat membeli emas menjelang Iduladha justru mulai meningkat. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah pembeli disebut lebih dominan dibanding warga yang datang untuk menjual emas mereka.
“Kalau sebelumnya pembeli dan penjual hampir seimbang, sekarang yang membeli jauh lebih banyak. Sekitar 70 persen beli dan 30 persen jual,” ungkapnya.
Lonjakan pembeli mulai terasa sejak tiga hari terakhir. Banyak warga memanfaatkan momentum hari besar keagamaan untuk membeli perhiasan baru maupun menyimpan emas sebagai investasi.
“Biasanya makin mendekati Iduladha pembeli makin ramai. Kemungkinan puncaknya besok atau sehari sebelum lebaran,” katanya lagi.
Dari berbagai jenis perhiasan, cincin emas menjadi model yang paling banyak diburu masyarakat. Selain dipakai untuk menunjang penampilan, emas juga masih dianggap sebagai aset aman untuk simpanan jangka panjang.
“Sebagian memang untuk dipakai, tapi banyak juga yang membeli karena dianggap investasi yang nilainya tetap kuat,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Pramono