SAMPIT – Produksi telur ayam petelur lokal di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat. Meski demikian, pemerintah daerah masih bisa mendorong agar peternak lokal dapat berkembang dan menjaga kestabilan harga pangan.
Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan, saat ini jumlah peternak lokal belum sebanding dengan kebutuhan pasar yang terus berjalan.
Baca Juga: Peternak Ayam Petelur Lokal Keluhkan Harga Telur Anjlok, Pemkab Kotim Turun Tangan
“Kalau ini tidak mampu. Karena untuk se-Kalimantan Tengah itu aja baru 500 ribu ayam petelur yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan distributor satu saja bisa sampai memiliki 2 juta ekor ayam petelur,” ungkapnya, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Kotim masih membutuhkan pasokan dari luar daerah. Namun, keberadaan peternak lokal tetap penting agar harga telur tidak mudah mengalami lonjakan.
“Kita bisa mengimbangi dalam hal ini, mengimbangi agar harga tidak naik, jadi tidak menyebabkan inflasi, otomatis harga pembelian bisa dijangkau oleh masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan, pemerintah ingin telur menjadi salah satu komoditas yang mampu membantu menjaga inflasi daerah, bukan justru menjadi penyebab kenaikan harga.
Baca Juga: Inflasi Kotim 4,18 Persen, Wabup Ajak Warga Laporkan Jika Ada Penimbunan Elpiji dan Minyakita
“Telur bisa menjadi penyumbang deflasi di Kabupaten Kotawaringin Timur karena banyaknya peternak ayam petelur lokal yang ada saat ini,” ujarnya.
Irawati menambahkan, jika peternak lokal tidak mendapat perlindungan dari sisi harga, keberlangsungan usaha mereka dapat terganggu. Kondisi itu dikhawatirkan akan berdampak pada ketersediaan telur di daerah.
Pemkab Kotim pun akan melakukan evaluasi bersama seluruh pihak terkait agar harga telur tetap berada pada titik yang wajar bagi peternak, pedagang, maupun masyarakat. (*)
Editor : Ayu Oktaviana