PALANGKA RAYA – Produksi kelapa sawit Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan hingga akhir 2026 akibat kemarau panjang, suhu panas, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di sisi lain, permintaan crude palm oil (CPO) di pasar domestik dan global diproyeksikan tetap meningkat.
Pengamat Ekonomi dan Perkebunan sekaligus Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalteng, Rawing Rambang, memperkirakan produksi kelapa sawit pada triwulan III 2026 dapat turun sekitar 20 hingga 25 persen akibat kondisi cuaca tersebut.
Baca Juga: Industri Sawit Hadapi Tekanan Menuju 2027, Ekspor Satu Pintu dan EUDR Jadi Sorotan
Menurut Rawing, tekanan paling besar berpotensi dirasakan perkebunan kelapa sawit rakyat yang memiliki keterbatasan dalam pemeliharaan tanaman, termasuk penyiraman dan pemupukan.
“Karhutla yang terjadi di daerah penghasil sawit tentunya sangat berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit. Terlebih kondisi kemarau yang cukup panjang menyebabkan ketersediaan air menjadi terbatas,” kata Rawing, Senin (28/9/2026).
Ia mengatakan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat termasuk wilayah yang mengalami kondisi sangat kering dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, di sejumlah daerah, hujan disebut tidak turun hampir selama dua bulan.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman kelapa sawit karena ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung produksi tandan buah segar (TBS).
Selain kekurangan air, peningkatan suhu juga dinilai memberikan tekanan terhadap produktivitas tanaman. Berdasarkan perhitungan yang disampaikan Rawing, kenaikan suhu sekitar 0,5 derajat Celsius dapat berdampak terhadap penurunan produksi sekitar 21 hingga 33 persen.
Sementara kenaikan suhu hingga 1 derajat Celsius disebut berpotensi menurunkan produksi sekitar 33 hingga 44 persen.
“Yang sangat terdampak terutama kebun-kebun kelapa sawit rakyat, karena pemeliharaan, penyiraman, dan pemupukan masih sangat terbatas. Kondisi suhu yang meningkat dan kekurangan air tentu akan berpengaruh terhadap produksi TBS,” ujarnya.
Baca Juga: Walhi Beberkan Potensi Kalteng di Ambang Kekeringan, dan Penyebab Sungai Besar Mulai Surut
Permintaan CPO Tetap Tinggi
Tekanan terhadap produksi sawit tersebut terjadi ketika kebutuhan CPO justru diperkirakan terus meningkat.
Di dalam negeri, salah satu pendorong utama permintaan CPO adalah kebijakan biodiesel. Sementara untuk pasar ekspor, India, Jepang, dan China masih menjadi sejumlah negara tujuan penting produk kelapa sawit Indonesia.
Menurut Rawing, apabila penurunan produksi berlangsung dalam waktu cukup panjang, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan CPO.
Meski demikian, ia masih optimistis kebutuhan CPO sepanjang sisa 2026 hingga 2027 dapat dipenuhi apabila kondisi cuaca segera membaik.
Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera menjadi harapan untuk memulihkan kondisi perkebunan sawit.
“Kalau pada awal Oktober 2026 hujan sudah turun secara merata di daerah-daerah penghasil sawit di Kalimantan dan Sumatera, kita optimistis kebutuhan CPO, baik untuk dalam negeri maupun luar negeri, masih dapat dipenuhi,” katanya.
Rawing berharap karhutla dan kemarau panjang yang terjadi di sejumlah daerah segera berakhir. Curah hujan yang merata dinilai penting untuk mengembalikan ketersediaan air di lahan perkebunan sekaligus membantu tanaman sawit kembali ke kondisi pertumbuhan dan produksi yang lebih baik.
Pemulihan tersebut tidak hanya berkaitan dengan produksi TBS petani dan perusahaan perkebunan, tetapi juga dengan keberlangsungan pasokan bahan baku CPO ketika kebutuhan dalam negeri dan permintaan pasar global tetap tinggi.
Karena itu, penanganan karhutla dan pemulihan kondisi lingkungan di wilayah sentra perkebunan sawit menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesinambungan produksi kelapa sawit.
Jika kondisi cuaca membaik dan pasokan air kembali tersedia, tekanan terhadap produktivitas sawit diharapkan berangsur berkurang hingga memasuki periode produksi berikutnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana