Bundaran Besar Palangka Raya kembali menjadi magnet keramaian saat gelaran Huma Betang Night (HBN) berlangsung meriah pada Sabtu malam (27/7). Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan aksi panggung dua bintang nasional, Marion Jola dan King Nassar, yang berhasil menghipnotis penonton dengan penampilan memukau dan penuh energi. Tak sekadar pesta musik, HBN juga menjadi panggung budaya dan motor penggerak ekonomi lokal melalui kehadiran pelaku UMKM, menjadikannya momentum kolaboratif antara seni, tradisi, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
ILHAM ROMADHONA, Palangka Raya
MALAM cerah menyelimuti langit Kota Cantik. Awan tipis membentuk gurat di cakrawala, seolah turut merayakan gemuruh antusiasme yang menggema dari jantung kota — Bundaran Besar Talawang. Sorot lampu menari-nari di antara sorak penonton yang memadati area, menciptakan atmosfer pesta rakyat yang hangat dan penuh warna.
Sabtu malam itu bukan sekadar akhir pekan biasa. Ia menjelma menjadi malam istimewa, tempat seni, budaya, hiburan, dan denyut ekonomi rakyat menyatu dalam satu panggung spektakuler bertajuk Huma Betang Night (HBN).
Suasana makin semarak kala dua musisi papan atas tanah air, Marion Jola dan King Nassar, tampil membakar semangat ribuan penonton. HBN seolah menjadi ruang temu antara budaya lokal dan industri hiburan nasional.
Sebelum panggung utama menyala, sajian budaya lokal dan band-band daerah membuka malam dengan alat musik tradisional. Sebuah penegasan bahwa akar budaya tetap dijaga meski musik modern mendominasi.
Tepat pukul 21.00 WIB, panggung mulai bergetar oleh kehadiran Marion Jola. Dengan paras memesona dan suara yang lembut namun bertenaga, jebolan Indonesian Idol ini berhasil membuat penonton larut dalam suasana penuh rindu dan haru.
Membawakan deretan lagu-lagu andalannya seperti Rayu, Overthinking, hingga lagu terbarunya, Marion Jola memadukan sisi glamor dengan kelembutan yang menghipnotis.
Di tengah penampilan, Lala sapaan akrabnya, ia mengajak salah satu penonton untuk naik ke atas panggung. Mereka berdansa dan bernyanyi bersama dalam balutan cahaya lampu sorot yang temaram. Momen itu sontak membuat penonton bersorak, dan beberapa bahkan tampak iri dengan keberuntungan penonton yang diajak bernyanyi oleh sang idola.
Usai tampil, Lala tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya. “Terima kasih saya ucapkan kepada Gubernur, Wakil Gubernur serta seluruh jajaran OPD Pemprov Kalteng, dan saya sangat bersyukur karena disambut hangat oleh masyarakat Kota Cantik Palangka Raya,” ujarnya dengan senyum hangat.
Malam belum usai. Riuh penonton kembali memuncak saat nama King Nassar dipanggil bersama. Dengan kostum nyentrik bermotif nanas, penyanyi yang dikenal dengan gaya flamboyan itu langsung memanaskan suasana.
Lagu-lagu dangdut penuh energi dilantunkan. Penonton pun tak segan ikut bergoyang, mulai dari anak-anak muda hingga orang tua yang tak ingin ketinggalan euforia. Nassar, seperti biasa, tampil dengan totalitas panggung yang memukau.
Meski Gubernur Kalteng, H. Agustiar Sabran, tak hadir di lokasi acara, Nassar tetap menyapa melalui sambungan video call. Sebuah momen unik terjadi saat mereka bernyanyi dan berjoget bersama melalui layar ponsel.
“Pak, terima kasih sudah undang saya ke Palangka Raya. Sayang kita belum bisa senang-senang bareng ya, pak. Tapi saya tetap akan hibur bapak,” ujar Nassar disambut tepuk tangan penonton.
Penonton di belakang tak luput dari pandangan Nassar. Melihat kerumunan di bagian belakang yang sulit melihat panggung, Nassar dengan spontan turun dari panggung dan berjalan ke tengah penonton di belakang. Sebuah aksi yang mengundang gelombang teriakan bahagia dan membuat suasana semakin hidup.
Dan puncaknya, saat lagu “Seperti Mati Lampu” menggema dari panggung, semua penonton seperti larut dalam euforia. Lagu pamungkas itu menjadi penutup yang membara bagi sebuah malam yang tak terlupakan.
Di tengah hiruk pikuk acara, antusiasme masyarakat terlihat nyata. Amos, salah satu penonton yang hadir bersama kerabatnya, berharap HBN terus berlanjut dengan kejutan-kejutan baru.
“Senang sekali ada hiburan seperti ini. Semoga terus berlanjut dan artis-artis top lainnya bisa diundang. Kalau bisa sih, Blackpink datang ya,” ujarnya sembari tertawa lepas.
Huma Betang Night bukan hanya milik penyanyi, pejabat, atau pedagang. Ia telah menjelma menjadi denyut kota, menjadi ajang silaturahmi, dan jembatan budaya serta ekonomi. Di balik dentuman musik dan lampu-lampu panggung, ada harapan, ada kebanggaan, dan ada mimpi warga Kalteng untuk berdiri sejajar dengan kota-kota besar lainnya.
Dan malam itu, mimpi itu terasa sangat dekat. Bahkan, mungkin, sudah mulai menjadi nyata.
Tak hanya sebagai panggung hiburan, HBN telah menjelma menjadi ruang hidup bagi masyarakat. Di sekeliling bundaran, ratusan pelaku UMKM membuka lapak makanan, kerajinan, dan berbagai produk lokal.
Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, H. Edy Pratowo, menggarisbawahi pentingnya acara ini sebagai stimulus ekonomi rakyat.
“Biasanya warga Kalteng saat akhir pekan itu ke Banjarmasin, Dutamall, dan banyak sekali kendaraan ber-plat KH. Nah, Pak Gubernur berkeinginan bahwa di Kalteng ada alternatif agar masyarakat bisa menikmati suasana malam minggu di daerah sendiri,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, satu malam pelaksanaan HBN mampu menciptakan perputaran ekonomi hingga Rp500 juta. Lonjakan ini terasa langsung oleh para pedagang kecil.
“Pedagang biasanya hanya dapat Rp500 ribu semalam. Tapi dengan HBN ini bisa naik jadi Rp2 juta. Dampaknya luar biasa untuk ekonomi kerakyatan,” tambahnya penuh semangat.
Lebih dari itu, Edy menyatakan bahwa HBN juga membawa citra baru bagi Kalimantan Tengah. “Event HBN ini jadi sorotan nasional, bahwa Kalteng itu tidak lagi sepi. Mari kita hilangkan kesan 'Kurang Hiburan (KH)' menjadi 'Kalteng Hebat dengan Hiburan',” tutupnya.(*)