Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Elena dan Ilonka, Pelajar SMPN 1 Sampit Menyulap Daun Gelinggang Jadi Obat Antiinflamasi

Ayu Oktaviana • Senin, 22 September 2025 | 19:00 WIB
Elena Giselle Lantang dan Ilonka Rezky Hyzkia, dua pelajar SMP Negeri 1 Sampit berhasil ciptakan obat antiinflamasi.MIFTAH/KALTENG POS
Elena Giselle Lantang dan Ilonka Rezky Hyzkia, dua pelajar SMP Negeri 1 Sampit berhasil ciptakan obat antiinflamasi.MIFTAH/KALTENG POS

 

SAMPIT - Kecil-kecil cabe rawit. Ungkapan itu rasanya cocok untuk Elena Giselle Lantang dan Ilonka Rezky Hyzkia, dua pelajar asal Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Sampit. Pasalnya, dua siswa yang baru duduk di kelas 8 itu mampu menyulap daun gelinggang menjadi obat kulit yang ampuh.

Mereka mengaku mendapatkan ide dari Tambi (nenek dalam bahasa Dayak, red), Elena yang merupakan orang asli suku Dayak. Dahulu, masyarakat Dayak kerap menggunakan daun gelinggang sebagai obat kulit. Daun tersebut diracik kemudian dioleskan ke kulit yang terkena infeksi jamur atau gatal-gatal.

“Kata Tambi, dulu banyak orang Dayak yang mencari daun gelinggang untuk obat tradisional. Karena bisa menyembuhkan penyakit kulit,” ujar Elena saat keduanya dibincangi Kalteng Pos, di sekolahnya, beberapa waktu lalu.

Dari situlah, kedua anak yang masih berusia 13 tahun itu akhirnya tertarik untuk menguji dan mengolah kembali tanaman bernama latin Cassia Alata L itu.

Keduanya mengaku mengumpulkan daun gelinggang yang banyak terdapat di Kota Sampit, lalu menjemurnya hingga kering selama tiga hari. Aroma daun gelinggang kering bak teh matcha menandakan daun tersebut siap diolah.

Usai dikeringkan, daun gelinggang kemudian diracik dengan cara diblender. Jika sudah halus, daun itu lalu disuling untuk diambil sarinya. Hasil penyulingan itu kemudian dicampurkan dengan zat kimia dan didiamkan hingga lima hari.

Setelah didiamkan, produk jadi itu dikemas dalam bentuk obat oles untuk gatal-gatal dan semprotan untuk antiketombe.

Daun gelinggang dicuci, lalu dikeringkan selama tiga hari. Kemudian dimasukkan ke wadah khusus, dicampurkan maserasi etanol 96 persen dan didiamkan selama lima hari.

“Untuk 100 gram daun gelinggang digunakan 800 mililiter etanol. Lalu dimasukkan ke evaporator untuk disuling. Dapatlah ekstraknya,” kata keduanya.

Dari hasil penyulingan itu, dua siswa tersebut menemukan zat fitokimia di dalam daun gelinggang.

Senyawa itu merupakan zat bioaktif non-nutrisi yang terdapat secara alami pada tumbuhan, seperti buah, sayur, dan biji-bijian, yang memberikan manfaat kesehatan bagi manusia dengan melindungi dari penyakit.

“Di dalam daun gelinggang isinya ada alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan steroid. Sudah kami uji juga dengan bahan kimia pereaksinya dan hasilnya positif,” beber mereka.

Zat-zat tersebut diketahui berguna untuk antiinflamasi dan gatal. Dari hasil itu, lahirlah produk yang mereka beri nama Gelinglen, diambil dari penggabungan nama mereka berdua. Produk itu lalu diikutsertakan dalam kompetisi Lomba Peneliti Belia (LPB) Center for Young Scientist (CYS). Tak disangka, mereka berhasil mengalahkan peserta lain dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Keduanya kemudian berhak mewakili Indonesia dalam ajang serupa tingkat internasional yang akan digelar di Cyberjaya, Malaysia akhir bulan mendatang. Mereka mengaku sudah mempersiapkan segala hal untuk mengikuti lomba itu, mulai dari pembuatan poster hingga persiapan presentasi saat lomba.

“Nanti tanggal 24–28 September ini lombanya,” jelas mereka.

Mereka memang dikenal sebagai siswi yang cerdas. Elena sendiri sudah pernah mengikuti lomba serupa tahun lalu hingga tingkat nasional, sementara Ilonka baru pertama kali.

Meski baru pertama kali mengikuti perlombaan, ia berharap bisa memberikan hasil terbaik bagi Indonesia.

“Semoga bisa lancar lombanya dan bisa membawa pulang juara,” imbuhnya.
Ke depan, keduanya ingin mengembangkan kembali olahan yang sudah diteliti tersebut hingga dipatenkan. Sehingga, obat tradisional yang sejak dulu digunakan itu bisa lebih dikenal masyarakat luas. Produk mereka sudah pernah diuji ke orang terdekat mereka.

Hasilnya, luka bakar dapat sembuh dalam waktu yang terbilang singkat.

“Ibu saya (Ilonka, red.) ada luka bakar. Diaplikasikan dua kali sehari pagi dan malam. Hasilnya sembuh dalam 3 sampai 5 hari. Kalau untuk penyakit kulit seperti panu juga sama,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 1 Sampit, Suyoso, mengatakan beberapa siswa memang sudah pernah melakukan penelitian, namun baru penelitian Elena dan Ilonka yang berhasil dikembangkan menjadi produk jadi yang bisa diaplikasikan.

“Memang sudah ada yang melakukan penelitian. Tapi baru mereka yang sudah menjadi produk. Salah satu dari mereka juga pernah ikut lomba nasional dulu, jadi portofolionya sudah ada,” katanya.

Suyoso menambahkan, keberhasilan siswinya hingga bisa menembus ajang internasional menjadi motivasi besar bagi sekolah. Pihaknya juga akan terus mendukung pengembangan minat dan bakat siswa di bidang penelitian agar semakin banyak karya inovatif lahir dari SMPN 1 Sampit.

“Karya ini sudah siap dipresentasikan. Selain memiliki nilai ilmiah, gelinggang punya potensi besar dikembangkan secara luas. Harapannya, penelitian ini tidak hanya untuk lomba, tapi juga bisa bermanfaat bagi masyarakat,” tukasnya. (mif/ram)

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
Editor : Ayu Oktaviana
#penelitian #kesehatan #suku dayak #daun gelinggang #obat #sampit #penyakit kulit #infeksi jamur #obat tradisional #antiinflamasi