Puisi bisa menjadi salah satu sarana bagi seniman untuk menyuarakan mengenai berbagai isu sosial, termasuk menggambar kondisi lingkungan sekitar. Suasa tersebut disampaikan melalui Puisi Raya bertajuk Nyanyian Sunyi Hutan Kalimantan.
M RIFQI PADILA, Palangka Raya
LANTUNAN musik tradisional dan derap langkah para penari Mandau membuka malam Puisi Raya yang digelar di Museum Balanga, Minggu malam (19/10/2025). Dengan aura khidmat seolah menjadi penghormatan bagi rimba yang kini mulai kehilangan suaranya.
Setelah denting musik dan gerak tari Mandau berakhir, suasana berganti menjadi lebih hening dan reflektif. Cahaya temaram masih menyoroti panggung sederhana itu ketika Abdi Rahmat, pegiat sastra dan lingkungan, melangkah maju membawakan orasi budaya bertajuk “Kearifan Dayak dalam Sastra Indonesia Hari Ini.”
“Dalam sastra, kita bisa menemukan kembali suara hutan yang hilang, suara tanah yang terampas, dan kebijaksanaan yang pernah dijunjung tinggi oleh leluhur,” ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin yang memenuhi halaman museum.
Usai orasi yang penuh refleksi itu, suasana kembali bergelora dengan penampilan dua pelajar muda, Agnes Adonnara dari SMAN 3 Palangka Raya dan Aurelia Arfianda P. dari SMAN 4 Palangka Raya. Keduanya tampil membacakan puisi berjudul “Asa Tuk Sang Borneo” sebuah karya yang menyuarakan harapan agar hutan dan kehidupan Dayak tak lagi menjadi nyanyian sunyi di tanah sendiri.
Setelah pembacaan puisi itu, suasana perlahan berubah hening. Mohammad Alimulhuda melangkah ke depan panggung, membawa sebuah monolog bertajuk “Suara yang Tak Didengar.” Dalam temaram cahaya lampu, ia berdiri tegak dengan ekspresi penuh makna. Suaranya pelan, namun tajam menusuk ruang malam.
“Kembalilah air, kembalilah hutan. Kan, kembali burung, kembali ikan. Kutaburkan kembali abu dan tanah ini ke bumi agar membenah diri dari yang telah tersakiti” ucapnya.
Kata-kata itu mengalir seperti doa dan peringatan sekaligus. Penonton terdiam, beberapa menunduk, hanyut dalam makna yang disampaikan. Monolog itu menutup segmen dengan keheningan yang panjang hening yang tidak kosong, melainkan sarat renungan tentang luka yang ditinggalkan alam Kalimantan.
Usai monolog itu, panggung kembali hidup dengan alunan petikan gitar dan denting lembut alat musik tradisional. Raya, sebagai ketua regu, bersama rekan-rekannya menampilkan musikalisasi puisi berjudul “Ini Rimba Borneo” karya sahabat mereka sendiri, Usmatul Nabila.
Nada-nada mengalun pelan, berpadu dengan pembacaan puisi yang lirih namun penuh daya gugah. “Rimba ini bukan sekadar pepohonan, tapi nafas yang menjaga kita dari kehausan,” ucap Raya di tengah irama yang menggetarkan. Penonton terdiam, sebagian larut, sebagian lagi menatap panggung dengan mata yang basah.
Penampilan mereka bukan sekadar pertunjukan seni, tapi juga bentuk cinta pada hutan dan identitas Dayak yang melekat kuat pada setiap bait puisi. Di balik suara dan nada itu, terselip pesan sederhana: bahwa menjaga hutan sama artinya dengan menjaga kehidupan.
Setelah denting gitar terakhir berhenti, suasana panggung berubah lebih dramatis. Lampu diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang jatuh ke tengah panggung. Di sanalah Junior Jose Jolihan, salah satu peserta dua puluh besar, muncul bersama kelompoknya membawakan teaterikal puisi karya Sita Stefanny, berjudul “Hutan yang Sunyi.”
Dengan ekspresi penuh emosi, Junior memerankan sosok manusia yang menyesali kehancuran hutan akibat ulahnya sendiri. Setiap dialog dan gerak tubuhnya mencerminkan penyesalan, ketakutan, sekaligus harapan.
“Manusia itu menebang pohon, menambang tanah, dan kini menyesali kesepiannya sendiri,” ucapnya lantang di tengah kepulan asap panggung.
Menurut Junior, dorongan tampil dalam pementasan itu datang dari pesan moral dalam puisi temannya sendiri. “Kami ingin menyampaikan pesan tersirat kepada manusia agar jangan merusak hutan. Karena akibatnya akan kembali ke manusia sendiri,” ujarnya usai tampil.
Pementasan itu menjadi salah satu bagian paling kuat malam itu menyentuh, menggugah, dan menyadarkan. Hutan yang sunyi benar-benar terasa bersuara lewat lantunan puisi dan akting para remaja yang berusaha menjaga warisan alam mereka sendiri.
Malam semakin larut, namun semangat di halaman Museum Balanga tak kunjung redup. Suara tepuk tangan penonton masih bergema setiap kali lampu panggung berganti warna. Di penghujung acara, seluruh peserta dan penampil kembali naik ke panggung berdiri berdampingan dalam semangat kebersamaan, seolah menutup malam dengan satu suara: suara yang lahir dari rimba, dari tanah yang ingin didengar kembali.
Ketua Lembaga Lentera Bahijau, Yusy Marie, menutup acara dengan pesan reflektif. Ia menyebut bahwa Puisi Raya “Nyanyian Sunyi Hutan Kalimantan” bukan sekadar pertunjukan, tetapi bentuk perlawanan terhadap lupa dan diam atas kerusakan lingkungan.
“Lewat puisi, kita belajar peka terhadap luka alam dan menjaga warisan budaya Dayak yang bersumber dari hutan. Semoga suara ini tidak berhenti di sini, tapi tumbuh menjadi gerakan bersama,” ujarnya disambut tepuk tangan hangat hadirin. (*/ala)