Dulu transaksi uang berpindah lewat tangan, kini lewat layar telepon genggam. Faidah Masruroh, pedagang di Pasar Besar Palangka Raya, merasakan langsung pergeseran itu — dari uang kertas ke uang digital.
GILANG RAHMAWATI, Palangka Raya
PASAR Besar Kota Palangka Raya menjadi tempat banyak orang menggantungkan hidup. Aktivitas di dalamnya seolah tak pernah berhenti. Saat pedagang pagi menutup lapak, pedagang sore sudah bersiap menggantikan.
Bau sayur segar dan suara tawar-menawar berpadu dalam satu irama. Di tengah hiruk-pikuk itu, cara bertransaksi perlahan ikut berubah.
Dulu, para pedagang dan pembeli hanya mengandalkan uang tunai. Kini, perlahan, mereka mulai akrab dengan cara baru: pembayaran digital melalui QRIS.
Salah satunya Faidah Masruroh, pemilik toko sayur dan buah Putri Elsa di Jalan Jawa, Palangka Raya. Sudah lima tahun ia berjualan di pasar ini. Dua lapaknya berdiri bersebelahan, satu menjual sayuran seperti kol, labu siam, wortel, dan kentang, sementara lapak satunya dipenuhi buah segar seperti alpukat dan mangga.
“Di awal saya bingung, ini untuk apa, manfaatnya apa. Soalnya mempelajari teknologi baru itu kan butuh waktu, tapi setelah dijelaskan oleh pihak BRI, akhirnya saya mau saja pakai.” Ungkap Faidah.
Keputusan sederhana itu ternyata membawa perubahan besar. Salah satunya, ia tak lagi khawatir tertipu uang palsu, sesuatu yang kerap menghantui pedagang pasar.
“Saya pernah dengar pedagang lain tertipu uang palsu. Takut juga kalau kejadian ke saya. Tapi kalau pakai QRIS kan Insyaallah aman,” katanya, tersenyum lega.
Bagi sebagian pembeli muda, QRIS justru jadi bagian gaya hidup.
“Anak-anak muda sekarang malah lebih sering bilang, ‘bayar itu ya pakai digital, bukan uang tunai. Ya saya senang, jadi lebih cepat dan tidak ribet kembalian,” ucap Faidah sambil tertawa kecil.
Bukan hanya transaksi yang berubah, cara Faidah mengelola pemasukan pun ikut bertransformasi. Setelah memiliki barcode dari BRI, ia otomatis tergabung di aplikasi BRI Merchant, fitur yang memudahkan pedagang memantau transaksi, mencatat omzet, hingga mencetak bukti digital.
“Kalau dulu saya butuh waktu buat hitung uang satu-satu, sekarang tinggal lihat di aplikasi. Langsung tahu berapa hasil hari ini,” ujarnya, sambil memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan 30 transaksi siang itu.
Bagi wanita kelahiran Malang, Jawa Timur ini digitalisasi bukan hanya soal efisiensi, tapi juga soal rasa aman dan percaya diri. Ia merasa usahanya kini lebih tertata dan modern. “Dulu saya pikir teknologi itu buat orang-orang kota besar. Sekarang saya tahu, ternyata pedagang kecil kayak saya juga bisa pakai,” katanya mantap.
Faidah bukan satu-satunya. Di lorong-lorong lain Pasar Besar, perlahan pedagang lain mulai meniru langkah serupa. Sebagian sempat ragu, tapi akhirnya merasa terbantu dan kini jadi alat bertahan.
Mantri BRI Unit Palangka Raya Kota, Agryd Wyanndari, mengatakan proses mengenalkan QRIS kepada para pedagang memang butuh kesabaran.
“Awalnya banyak yang belum tahu apa itu QRIS. Jadi kami pendekatan dulu, kenalan, jelaskan manfaatnya, sampai mereka mau mencoba. Sekarang banyak yang sudah terbiasa,” ujarnya.
Menurut Agryd, QRIS bukan sekadar cara baru bertransaksi. Di balik kode hitam putih itu, tersimpan keyakinan bahwa pedagang kecil juga bisa maju bersama teknologi. (*)