Di tengah minimnya minat riset di kalangan anak muda, Mahda justru tertarik menggeluti bidang itu. Tidak sekadar menulis, ia menjadikan riset sebagai cara membaca realitas sosial, merekam nilai-nilai keislaman, dan mendorong perubahan nyata di masyarakat Kalteng.
DHEA UMILATI, Palangka Raya
MAHASISWA Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya ini menjadikan riset bukan sekadar kewajiban akademik. Ia mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada dunia penelitian berangkat dari minatnya terhadap kajian keislaman, khususnya bagaimana nilai-nilai Islam hadir dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Bagi saya, nilai keislaman itu tidak hanya ada dalam teks, tapi hidup di tengah masyarakat. Menarik untuk diteliti bagaimana nilai itu dijalankan, dipahami, bahkan diuji dalam realitas sosial,” ujarnya, Minggu (1/2/2026).
Ia terpilih menjadi salah satu finalis Duta Peneliti Kalimantan. Ketertarikan perempuan yang lahir dan besar di Kota cantik ini pada riset sejatinya bermula dari lomba karya tulis. Ia mengira seleksi hanya akan menilai siapa yang memiliki tulisan terbaik. Namun proses tersebut justru membawanya melangkah lebih jauh, hingga terpilih sebagai finalis Duta Peneliti Kalimantan.
“Awalnya saya hanya tertarik ikut lomba karya tulis. Saya tidak menyangka bisa sampai masuk sebagai finalis duta peneliti,” katanya.
Salah satu penelitian yang pernah ia lakukan mengangkat tema moderasi beragama, fenomena sosial-keagamaan yang sempat viral dan menuai beragam respons di ruang publik. Meski dampaknya diakui masih sederhana, menurutnya riset tersebut memiliki nilai penting sebagai media edukasi masyarakat, khususnya dalam menyikapi perbedaan pandangan dan praktik keagamaan.
“Setidaknya penelitian itu bisa menjadi bahan refleksi dan edukasi, bahwa perbedaan adalah realitas yang perlu dipahami, bukan dipertentangkan,” jelasnya.
Baginya, penelitian yang baik tidak boleh hanya berangkat dari teori. Ia menekankan pentingnya turun langsung ke lapangan, melihat kondisi masyarakat, mendengar keluhan, serta memahami kebutuhan mereka secara nyata.
“Penelitian harus berangkat dari lapangan. Kita perlu mendengar langsung suara masyarakat, bukan hanya mengandalkan data sekunder,” tegasnya.
Mahda menilai, kolaborasi menjadi kunci agar penelitian tidak berhenti sebagai tumpukan laporan. Menurutnya, peneliti, pemerintah, dan masyarakat harus berjalan beriringan.
“Peneliti punya data dan analisis, pemerintah punya kewenangan, masyarakat punya pengalaman. Kalau berjalan sendiri-sendiri, hasil riset sering berhenti di laporan saja,” katanya.
Ia juga melihat penelitian sebagai sarana penting untuk mendokumentasikan potensi lokal dan kearifan masyarakat adat di Kalimantan Tengah. Dengan ditulis dan diteliti, nilai-nilai lokal tidak hanya tersimpan, tetapi juga lebih dihargai dan dipertimbangkan dalam kebijakan maupun pembangunan.
“Kalau tidak ditulis, perlahan bisa hilang. Padahal kearifan lokal punya nilai besar,” ujarnya.
Untuk mendorong minat riset di kalangan anak muda, Mahda mengatakan, perlu adanya contoh nyata dan ruang yang mendukung. Anak muda, katanya, perlu melihat bahwa riset adalah sesuatu yang mungkin dilakukan dan relevan dengan kehidupan mereka, apalagi jika didukung komunitas dan pendampingan.
Tidak kalah penting, Mahda menekankan bahwa hasil penelitian harus disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Ia berharap riset tidak hanya hadir dalam jurnal ilmiah, tetapi juga melalui tulisan populer, diskusi terbuka, atau forum publik agar manfaatnya lebih luas. “Penelitian harus bisa dibaca dan dipahami masyarakat,” ucapnya.
Mahda berharap penelitian di Kalimantan Tengah tidak berhenti sebagai dokumen akademik semata, melainkan benar-benar menjadi dasar perubahan sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Harapan saya, riset di Kalimantan Tengah bisa menjadi pijakan untuk perubahan yang lebih baik, bukan hanya menjadi arsip,” pungkasnya. (*/ala)
Editor : Agus Pramono