PALANGKA RAYA-Di tengah gambut yang mengering dan rentan terbakar, ada satu kawasan di Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, yang tetap hijau. Namanya Jumpun Pambelom, atau dalam bahasa Dayak berarti Hutan Sumber Kehidupan.
Di balik hutan itu berdiri Januminro Bunsal, salah satu tokoh Dayak Kalteng yang sejak 1998 mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk memulihkan sekaligus melindungi lahan gambut dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Perjuangan itu mengantarkannya meraih Kalpataru kategori Pengabdi Lingkungan pada 2015, yang diserahkan Presiden RI Joko Widodo. Ia juga tercatat menerima Satya Lencana Wira Karya atas pengabdiannya di bidang lingkungan.
Baca Juga: Dua Relawan Karhutla di Kalteng Meninggal Dunia, Gugur Setelah Berjuang Padamkan Api
Bagi Januminro, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan. Hutan adalah sumber kehidupan yang harus dipertahankan.
Kawasan yang kini hijau tersebut memiliki sejarah panjang. Sebagian lahannya pernah mengalami kebakaran hebat. Sejak 1998, Januminro mulai mengelola dan memulihkan kawasan tersebut melalui penanaman kembali serta berbagai sistem perlindungan dari kebakaran.
Hasilnya terlihat kontras. Ketika kawasan di sekitar Jumpun Pambelom mengalami kerusakan akibat kebakaran, vegetasi di dalam kawasan yang dikelola Januminro tetap mampu bertahan. Sistem pertahanan api menjadi salah satu kunci untuk menjaga kawasan tersebut.
Salah satu kekuatan utama Jumpun Pambelom adalah keberadaan sumur bor. Sumur-sumur tersebut digunakan untuk memasok air ketika musim kemarau tiba dan sumber air permukaan mulai berkurang.
Januminro dan tim membangun sumur bor di sejumlah titik dengan jarak tertentu untuk membasahi kawasan yang rawan terbakar.
Sistem ini dipadukan dengan parit dan sekat kanal untuk mempertahankan kelembapan lahan gambut. Sumber-sumber sebelumnya mencatat adanya puluhan sumur bor di kawasan Jumpun Pambelom serta sekat kanal sebagai bagian dari sistem pertahanan api.
Baca Juga: Kisah Muhammad Rizky Mubarak, Relawan Damkar Asal Kotim yang Pingsan saat Padamkan Karhutla
Namun, sumur bor hanyalah alat. Di baliknya terdapat manusia yang harus bergerak cepat ketika api muncul.
Januminro membentuk Tim Serbu Api yang melibatkan masyarakat sekitar untuk melakukan pemantauan dan penanganan kebakaran. Tim tersebut tidak hanya menjaga Jumpun Pambelom, tetapi juga membantu menangani kebakaran di wilayah sekitarnya.
“Seberapa banyak sumur bor tak ada fungsinya kalau tak ada tim yang memfungsikan sumur bor itu,” demikian prinsip yang pernah disampaikan Januminro dalam laporan mengenai sistem pertahanan api Jumpun Pambelom.
Di atas hamparan gambut yang kering dan rentan, lanjut Januminro, sejengkal tanah berdiri sebagai benteng ketahanan yang menolak tunduk pada amukan api. Ketika gempuran kebakaran hutan datang menghantam tanpa kenal waktu, kawasan Jumpun Pambelom berhasil bertahan berkat sebuah sistem pertahanan yang teruji dan terorganisir di garis depan.
“Urat nadi perlawanan ini digerakkan oleh sumur bor yang memompa air tanpa henti siang dan malam, menjaga kelembapan tanah agar tetap basah dan membentengi area dari jilatan api,” ujar Januminro yang rutin membuat konten penanganan karhutla di Jumpun Pambelom.
Kekuatan air tersebut semakin berlipat ganda berkat penggunaan cairan suplemen nabati khusus oleh Relawan JP yang dicampurkan ke dalam semprotan. “Inovasi alami ini berfungsi mempercepat pemadaman, meresap jauh ke dalam struktur gambut, serta melumpuhkan bara api tersembunyi hingga tuntas sampai ke akarnya,” ucapnya.
Namun, kata Januminro, teknologi dan formula terbaik tidak akan berjalan sendiri tanpa jiwa di baliknya. Keberhasilan ini sepenuhnya ditopang oleh solidnya dukungn dari tim relawan Tim Jumpun Pambelom, Tim Brimob Polda Kalteng, Tim Dishut Provinsi Kalteng, Tim BPBD Provinsi Kalteng, dan Relawan lainnya) yang bahu-membahu menghadapi asap pekat dan panasnya medan tanpa kenal lelah.
“Perpaduan antara sumur bor yang tak pernah berhenti berdenyut, keampuhan suplemen nabati pemadam, dan ketangguhan mental para pejuang lapangan membuktikan bahwa sejengkal lahan ini tidak hanya bertahan, tetapi juga merawat asa kehidupan di atas tanah hitam,” tegasnya.
Tidak berhenti pada upaya mencegah kebakaran. Januminro juga melakukan pemulihan lahan melalui suksesi alami dan pengayaan jenis tanaman.
Berbagai jenis vegetasi khas rawa gambut kemudian tumbuh di kawasan tersebut. Januminro mengubah lahan gambut yang pernah terbakar menjadi hutan sekunder dengan kerapatan pohon yang baik. Pohon-pohon seperti jelutung, ramin, pasak bumi, ulin, gemor hingga gaharu pernah tercatat tumbuh di kawasan Jumpun Pambelom. Kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai jenis satwa.(*)
Editor : Ayu Oktaviana