PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Tengah.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalteng, Jumat (9/8/2025), tercatat enam kejadian Karhutla dalam sehari dengan total luas lahan terbakar mencapai 7,22 hektare.
Kalaksa BPBD-PK Provinsi Kalteng Ahmad Toyib, menyampaikan bahwa data harian menunjukkan satu titik hotspot terpantau pada 9 Agustus 2025.
Dari enam kejadian Karhutla tersebut, beberapa titik berhasil dipadamkan, namun ada yang masih berasap karena sulitnya akses menuju lokasi.
“Sejak 1 Januari hingga 9 Agustus 2025, total akumulasi hotspot di Kalteng mencapai 1.422 titik, dengan 350 kali kejadian Karhutla dan luas kebakaran mencapai 477,86 hektare,” ungkapnya, saat dikonfirmasi oleh Kalteng Pos, Minggu (10/8/2024).
Karhutla yang terjadi pada Jumat (9/8/2025) ini yakni di Kota Palangka Raya, Barito Selatan, Seruyan, dan Kapuas.
Di Palangka Raya, api melanda Kelurahan Bereng Bengkel, Jl. G. Obos 8B Menteng, dan Jl. Delly Bangkan Bukit Tunggal. Semua berhasil dipadamkan oleh tim gabungan Manggala Agni, BPBD, Dishut, dan TSAK setempat.
Di Kabupaten Barito Selatan, kebakaran terjadi di Desa Tampulang, Kecamatan Jenamas, dengan luas lahan terbakar 1 hektare. Api belum sepenuhnya padam akibat sulitnya akses jalan menuju lokasi.
Sementara itu, di Kabupaten Seruyan, kebakaran di Jalan Bahaur, Desa Pembuang Hulu 1, Kecamatan Hanau, berhasil dipadamkan dengan cepat.
"Untuk di Kabupaten Kapuas, tim memanfaatkan helikopter water bombing jenis MI-8-MVT-1 untuk memadamkan api di kawasan Mentangi. Sebanyak 26 kali water bombing dilakukan dengan total 2.326 liter air.
Namun, hotspot di lokasi masih terpantau berasap," tuturnya.
Selain pemadaman darat, operasi patroli udara Satgas Udara BNPB terus dilakukan menggunakan helikopter AS365-N2 dan AS355-F2.
Patroli tersebut memantau area di Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Pulang Pisau, Kapuas, Barito Timur, hingga Barito Selatan. Beberapa titik ditemukan masih berasap, seperti di Mantangai, Teluk Betung, Karau Kuala, dan Jenamas.
"Upaya modifikasi cuaca (TMC) juga telah dilaksanakan menggunakan pesawat Thrush S2R-T34, dengan dua sortie penerbangan yang menaburkan total 2.000 kg garam (NaCl) di wilayah Pulang Pisau, Katingan, Kapuas, dan Barito Utara," sebutnya.
Selain Karhutla, Toyib juga menyebut berdasarkan laporan BPBD Kalteng juga mencatat tiga kejadian kebakaran pemukiman dalam dua hari terakhir, masing-masing di Kabupaten Katingan dan Barito Selatan.
"Di Desa Petak Bahandang, Kecamatan Tasik Payawan, empat rumah hangus terbakar. Sedangkan di Desa Tewang Kampung, Kecamatan Mendawai, api menghanguskan dua rumah dan tujuh gedung walet. Kebakaran rumah juga terjadi di Jalan AMD 1, Kabupaten Barito Selatan," ungkapnya.
Saat ini, katanya, status siaga darurat Karhutla masih diberlakukan di Provinsi Kalteng dan beberapa kabupaten/kota, di antaranya Sukamara, Palangka Raya, dan Kotawaringin Timur. "Untuk banjir sudah nihil tidak ada lagi," pungkasnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Prakirawan Ika Priti menyampaikan bahwa sebagian wilayah di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) telah memasuki musim kemarau sejak awal Juli 2025. Meski demikian, hujan dengan intensitas cukup tinggi masih berpotensi terjadi merata di banyak daerah akibat kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan.
"Berdasarkan analisis curah hujan Dasarian III Juli 2025, awal musim kemarau terpantau mulai terjadi pada Dasarian I Juli di Zona Musim (ZOM). Ini meliputi sebagian besar Kabupaten Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas bagian selatan, sebagian besar Pulang Pisau, Seruyan bagian selatan, dan Kotawaringin Timur bagian tengah," sebutnya.
Adapun untuk wilayah lain di Kalteng, BMKG mencatat curah hujan masih tergolong tinggi sehingga secara umum masih berada pada periode musim hujan.
Ika menjelaskan, tingginya potensi hujan dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh adanya daerah belokan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Kalteng.
“Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah ini. Faktor lain yang mendukung adalah kelembapan udara yang cukup basah serta labilitas lokal yang kuat, yang memicu proses konvektif skala lokal,” jelasnya. (zia/ala)
Editor : Ayu Oktaviana