PALANGKA RAYA – Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalimantan Tengah menegaskan bahwa hampir seluruh kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah ini dipicu oleh aktivitas manusia, meski berlangsung di tengah musim hujan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPB-PK Kalimantan Tengah, Indra Wiratama, menyebut faktor manusia menjadi penyebab dominan karhutla, sementara kondisi cuaca panas hanya berperan sebagai pemicu.
“Kalau saya katakan, karhutla itu 99,99 persen adalah ulah manusia. Cuaca panas hanya memantik, tapi sumber apinya dari aktivitas manusia,” kata Indra, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, pada kondisi basah atau dingin, aktivitas pembakaran cenderung tidak berkembang menjadi kebakaran besar. Sebaliknya, saat suhu meningkat dan lahan mengering, api mudah meluas dan sulit dikendalikan.
Pembakaran Tidak Terkontrol Jadi Pemicu
Indra menjelaskan, dalam banyak kasus, pembakaran dilakukan untuk membuka atau membersihkan lahan, namun tanpa pengamanan yang memadai. Hal inilah yang kemudian menyebabkan api menjalar ke area lain.
“Kadang masyarakat mengaku tidak menduga api bisa membesar. Artinya, awalnya memang ada aktivitas membakar, tapi tidak terkontrol,” ujarnya.
Secara teori, pembakaran seharusnya disertai sekat bakar dan pengamanan di sekeliling lokasi. Namun di lapangan, prosedur tersebut sering diabaikan.
“Kalau sudah api, sangat sulit dikendalikan. Seharusnya sebelum membakar itu siap dan melapor, tapi itu yang sering tidak dilakukan,” tegas Indra.
Awal 2026 Tercatat 16 Kejadian
Sepanjang awal 2026, BPB-PK Kalimantan Tengah mencatat sedikitnya 16 kejadian karhutla di sejumlah daerah. Namun hingga kini, belum ada pelaku yang tertangkap langsung di lokasi kejadian.
“Kami datang biasanya apinya sudah terjadi. Orangnya tidak ada di tempat, sehingga belum bisa dipastikan apakah disengaja atau tidak,” katanya.
Indra juga menepis anggapan bahwa puntung rokok menjadi penyebab utama karhutla. Menurutnya, kebakaran umumnya terjadi pada lahan yang sudah ditebas dan dibiarkan kering.
“Kalau puntung rokok kecil kemungkinannya. Biasanya lahan sudah ditebas, kering, lalu terbakar dan apinya menjalar,” jelasnya.
Kearifan Lokal yang Mulai Ditinggalkan
Ia menyinggung praktik pembukaan lahan secara tradisional yang dikenal masyarakat sebagai disimpuk. Dalam praktik ini, bahan bakar dikumpulkan dan dibersihkan kiri-kanannya sebagai sekat bakar agar api tetap terkendali.
“Itu sebenarnya kearifan lokal. Bukan asal menyalakan api. Tapi sekarang sering tidak dilakukan dengan benar,” ungkap Indra.
Ketika prosedur pengamanan diabaikan, pembakaran yang awalnya berskala kecil berpotensi berubah menjadi kebakaran besar, terutama di lahan gambut.
Kabut Asap Belum Masuk Ambang Batas
Meski sejumlah kejadian telah terjadi, BPB-PK memastikan belum ada laporan resmi terkait kabut asap yang melampaui ambang pencemaran udara. Pemantauan dilakukan menggunakan mobil pengukur Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
“Secara standar, kabut asap belum tercapai. Tapi memang di beberapa lokasi sudah terlihat asap tipis,” katanya.
Ia mengingatkan, jika kebakaran tidak terkendali, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kabut asap yang berdampak luas.
Pulang Pisau Paling Rawan
Indra menegaskan, wilayah paling rawan karhutla di Kalimantan Tengah adalah Kabupaten Pulang Pisau karena karakteristik gambutnya yang dalam
“Di sana ada kubah gambut. Kalau sudah terbakar sampai ke bawah, sangat sulit dipadamkan. Kedalamannya bisa sampai 36 meter,” ujarnya.
Selain Pulang Pisau, daerah selatan Kalimantan Tengah juga dinilai rawan karena ketebalan gambut. Sementara daerah dengan tanah mineral, seperti Barito Utara, relatif lebih mudah dipadamkan jika terjadi kebakaran.
Pada awal 2026, kejadian karhutla tercatat di Kotawaringin Timur, Sukamara, Kotawaringin Barat, dan Palangka Raya. Pulang Pisau hingga kini masih relatif aman.
Dampak Bisa Ganggu Ekonomi dan Penerbangan
Indra mengingatkan, kebakaran di Pulang Pisau berpotensi berdampak hingga Palangka Raya karena pola arah angin.
“Kalau terbakar di Pulang Pisau, asapnya bisa ke Palangka Raya dan mengganggu penerbangan. Kalau penerbangan terganggu, ekonomi juga terdampak,” katanya.
Karena itu, BPB-PK menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan kesadaran masyarakat sebagai kunci pencegahan karhutla.
“Percuma kita padamkan kalau pembakaran tidak terkendali masih terjadi. Kucinya ada di kesadaran bencana masyarakat,” pungkas Indra. (*rif/ram)
Editor : Agus Pramono