Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

PDAM Katingan Macet Total, Warga Bertahan Empat Bulan Tanpa Air, Pembayaran Terus Mengalir

Agus Pramono • Senin, 9 Februari 2026 | 11:30 WIB
Penyaluran air bersih.JERI/KALTENG POS
Penyaluran air bersih.JERI/KALTENG POS

KASONGAN–Kesabaran ribuan pelanggan PDAM Katingan berada di titik nadir. Krisis distribusi air bersih yang melanda wilayah Katingan tak kunjung teratasi.

Memasuki bulan kedua tahun 2026, layanan air bersih dilaporkan macet total (Jalur jembatan Katingan arah Sampit).

Kondisi ini memaksa warga memutar otak demi memenuhi kebutuhan dasar air bersih.

Keluhan nyaring terdengar dari para ibu rumah tangga yang paling merasakan dampak langsung. Ensi, salah satu warga Kasongan, mengungkapkan bahwa kesulitan air bersih sejatinya sudah dirasakan sejak Oktober 2025. Namun, kondisi kian parah sejak awal tahun 2026.

"Kami sudah hampir empat bulan sulit mendapatkan air. Paling parah sejak Januari kemarin, layanan PDAM benar-benar macet total ditempat kami," keluh Ensi saat ditemui Kalteng Pos di kediamannya, Sabtu (7/2/2026).

Bagi Ensi dan warga lainnya, air adalah urusan penting yang tidak bisa ditawar. Dia membandingkan kondisi ini dengan pemadaman listrik yang menurutnya masih bisa ditoleransi. "Kalau listrik mati, kita masih bisa santai. Tapi kalau air, itu sudah tidak bisa. Ini kebutuhan pokok setiap saat" tegasnya dengan nada kecewa.

Ironisnya, meski kran air di rumah warga mengering, kewajiban membayar tagihan tetap berjalan. Ensi mengaku masih rutin menyetor biaya beban sekitar Rp 40 ribu per bulan kepada PDAM. Padahal, jika distribusi normal, rata-rata pengeluaran rumah tangganya mencapai Rp 100 ribu sebulan untuk air. "Kami tetap bayar meski airnya tidak ada," tuturnya.

Kekesalan warga kian memuncak saat mencoba mengadu. Ensi sempat mendatangi kantor PDAM Katingan di Jalan Kelud, Kota Kasongan, untuk meminta penjelasan. Namun, dia harus gigit jari karena kantor tersebut justru tutup saat ingin ditemui.

Untuk menyambung hidup, warga kini bergantung pada penampungan air hujan dan bantuan distribusi air bersih. Meski personel TNI, PMI, BPBD, dan relawan mulai turun tangan menyalurkan air. Warga menilai tidak setiap hari bisa mendapatkan air dari bantuan sosial. Apalagi tempat penampungan yang dimiliki juga terbatas.

Masyarakat pun kini mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Katingan untuk tidak menutup mata. Mereka menuntut solusi konkret dan percepatan perbaikan infrastruktur PDAM agar krisis ini tidak berlarut-larut. "Kami sangat kecewa dengan lambatnya penanganan ini. Pemerintah harus segera turun tangan," pinta Ensi.

Selain itu tak sedikit warga yang mengalah dan membuat sumur bor pribadi. Meskipun dengan kondisi air berkarat, dan bau.

"Mau tidak mau. Jika kita mengandalkan bantuan terus. Tidak akan cukup memenuhi kebutuhan setiap hari. Kita juga kadang tidak enak juga dengan petugas di lapangan. Makanya kadang, ada yang ngasih uang juga. Kasihan juga mereka di lapangan. Bahkan ada yang rela beli. Karena memang ada juga yang jual air satu tandon jika tidak salah isi 1200 liter, harganya Rp 100 ribu,” ujar Delela warga Kasongan seberang.

“Tapi saya tidak pernah beli. Tidak sanggup jika beli air secara terus menerus seperti itu. Pengeluaran kita akan semakin besar. Lebih baik mengalah buat air bor saja. Bisa untuk selamanya, meskipun airnya juga tidak sesuai yang diharapkan," tambahnya.

Untuk membuat sumur bor lanjutnya, upahnya mencapai Rp 800 ribu. Itu diluar harga pipa dan mesin Hitachi. "Kita tidak tahu sampai kapan krisis air bersih di Kasongan ini. Keluhan kami ini, sepertinya diabaikan," tuturnya.(eri/ram)

Editor : Ayu Oktaviana
#kasongan #katingan #air bersih #Layanan Air Bersih #tagihan #krisis air bersih #bantuan sosial #pdam #PDAM Katingan #distribusi air bersih #Kabupaten Katingan #pemkab katingan #penampungan air hujan #layanan pdam #kesulitan air bersih #sumur bor #kebutuhan pokok