KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Bagi sebagian ibu, proses melahirkan bukan hanya tentang perjuangan fisik, tetapi juga meninggalkan pengalaman emosional yang mendalam.
Rasa takut, lelah, hingga trauma pasca melahirkan menjadi hal yang kerap dialami para ibu, terutama karena tubuh dan mental harus terus beradaptasi tanpa jeda, mulai dari masa kehamilan, persalinan, hingga fase menyusui.
Menurut penjelasan dr Nadhira Afifa, SpGK, trauma setelah melahirkan itu termasuk wajar, karena secara medis ngeri melahirkan itu skalanya cukup tinggi, bahkan bisa mencapai maksimal.
“Namun, pengalaman setiap ibu bisa berbeda-beda, tergantung kondisi fisik dan mental,” katanya, dikutip melalui akun TikTok dr Nadhira Afifa, SpGK.
Menurutnya, dari hamil sampai melahirkan, tubuh hampir tidak memiliki jeda untuk istirahat. Terlebih usai melahirkan, ibu harus memasuki fase menyusui.
“Meksi demikian, setiap ibu harus selalu belajar untuk masuk ke fase baru yang mungkin selalu ada rasa ngeri di pengalamannya,” tegasnya dr Nadhira.
Melansir https://poltekkespenajampaserutara.org , trauma setelah melahirkan itu nyata dan banyak dialami ibu, namanya birth trauma. Ini tips yang bisa bantu pelan-pelan memprosesnya:
1. Akui dan namai perasaannya. Jangan dipaksa “move on” atau merasa bersalah karena “kan bayinya sehat”. Katakan ke diri sendiri: “Ya, yang aku alami itu berat dan wajar kalau aku merasa takut/sedih/marah”. Menolak perasaan justru bikin trauma nyangkut lebih lama.
2. Cerita ke orang yang aman.Cari 1-2 orang yang bisa dengerin tanpa menghakimi. Bisa pasangan, teman, atau ibu lain. Kalau belum siap cerita, tulis di jurnal. Tujuannya biar pengalaman itu keluar dari kepala, nggak dipendam terus.
3. Cari bantuan professional atau berteman dengan ibu-ibu lain. Dengerin cerita ibu lain yang pernah ngalamin hal mirip sering bikin merasa “nggak sendirian”. Cari komunitas postpartum support di IG atau FB yang moderasinya bagus.(*)
Editor : Agus Pramono