PALANGKA RAYA–Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng terus menjadi persoalan serius memasuki puncak musim kemarau. Hingga pertengahan September 2026, luas area yang terdampak kebakaran telah mencapai 12.566,55 hektare.
Besarnya luasan tersebut tercatat berdasarkan laporan lapangan dan interpretasi citra satelit Landsat 8 OIF/IRIS. Dari akumulasi kejadian yang tercatat, terdapat 3.692 kasus karhutla yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Kalteng.
Baca Juga: Dinkes Kalteng Sebut Orang Kena ISPA Tak Serta-merta Dikaitkan dengan Kabut Asap
Kondisi ini tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mulai terasa pada kesehatan masyarakat. Data posko penanganan mencatat sebanyak 91.342 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta 22.533 kasus diare selama periode penanganan karhutla dan musim kemarau.
Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi salah satu daerah dengan luasan lahan terbakar terbesar, yakni mencapai 2.579 hektare. Disusul Kotawaringin Barat dengan 2.321 hektare dan Pulang Pisau sebanyak 1.573 hektare.
Di wilayah Seruyan, luasan lahan yang terdampak mencapai 1.371 hektare. Sementara itu, Kabupaten Kapuas mencatat 984,3 hektare, Barito Selatan 957,6 hektare, Sukamara 643,7 hektare, serta Kota Palangka Raya mencapai 581,1 hektare.
Daerah lainnya juga tidak luput dari kebakaran. Gunung Mas tercatat 356,2 hektare, Katingan 324,1 hektare, Lamandau 288,9 hektare, Barito Utara 230,9 hektare, Barito Timur 190,2 hektare, dan Murung Raya 165,9 hektare.
Baca Juga: Ada 22 Rumah dan Ruang Oksigen yang Tersebar di Palangka Raya
Selain luasan lahan terbakar, sebaran titik panas juga menunjukkan tingginya aktivitas kebakaran di berbagai wilayah. Berdasarkan data harian dan infografis akumulasi karhutla per 17 September 2026 pukul 18.00 WIB, jumlah hotspot di Kalteng tercatat mencapai 134.242 titik.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, pemerintah bersama satuan tugas gabungan masih terus melakukan penanganan di lapangan. Pemadaman dilakukan untuk menekan meluasnya kebakaran sekaligus mengurangi dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat.
"Kami mengerahkan seluruh sumber daya yang ada, termasuk dukungan personel gabungan sebanyak 10.700 orang, serta menyiagakan 6 unit helikopter dan 1 unit pesawat patroli (OMC) untuk memaksimalkan operasi pemadaman darat maupun udara," ujar Ahmad Toyib, Kamis (17/9/2026).
Baca Juga: Trauma Kabut Asap 2015 Terulang, Eni Kini Cemas Melihat Anaknya Sesak Napas
Menurut Toyib, sejumlah daerah dengan sebaran hotspot dan kejadian karhutla cukup tinggi mendapat perhatian lebih dari tim satuan tugas. Kotawaringin Timur dan Kapuas menjadi beberapa wilayah yang membutuhkan penanganan intensif karena tingginya aktivitas kebakaran.
Penanganan karhutla juga tidak hanya dilakukan melalui pemadaman. Pemerintah bersama aparat penegak hukum melakukan langkah hukum terhadap dugaan pembakaran lahan.
Hingga data tersebut dihimpun, aparat gabungan telah memproses 39 kasus penegakan hukum atau law enforcement terkait karhutla.
Di sisi lain, dampak terhadap kesehatan menjadi perhatian karena peningkatan kasus ISPA terjadi bersamaan dengan kondisi kemarau dan karhutla. Puluhan ribu kasus tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebakaran tidak berhenti pada kerusakan lahan, tetapi juga berimbas pada masyarakat yang terpapar kondisi lingkungan akibat karhutla.
Baca Juga: BTT Tersedot, Pemko Palangka Raya Kewalahan Biayai 360 Personel Karhutla
Toyib mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, pencegahan kebakaran tidak hanya bergantung pada kemampuan pemerintah dan satgas dalam memadamkan api, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak munculnya potensi kebakaran.
"Peran aktif dari masyarakat dalam menjaga lingkungan dan tidak membakar lahan sangat penting dalam mencegah terjadinya pelonjakan kasus Karhutla. Mari bersama-sama kita wujudkan Kalteng yang aman, sehat, dan bebas kabut asap," tegasnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana