PANGKALAN BUN – Memasuki musim kemarau di wilayah Kalteng. Kekeringan kini melanda sebagian wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), kondisi ini menyebabkan ratusan warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBPK Kalteng Alpius mengungkapkan, kekeringan terjadi di Desa Natai Baru, Kecamatan Arut Selatan, sejak 24 Maret 2026 dan berlangsung hingga awal April.
Baca Juga: Kemarau Panjang Mengintai, Pemko Palangka Raya Sudah Aktifkan 21 Pos Lapangan untuk Pantau Karhutla
"Laporan kekeringan ini berasal dari Kotawaringin Barat, berasal dari pemerintah daerah setempat setempat yang mulai merasakan dampak musim kemarau lebih awal," katanya, Senin (6/4/2026).
Diketahui selama kurang lebih 12 hari, sebanyak 252 kepala keluarga atau 712 jiwa terdampak akibat menurunnya debit air pada sumber-sumber air warga.
Ia menjelaskan, penyebab utama kekeringan adalah minimnya curah hujan yang berdampak langsung pada sumber air masyarakat seperti sumur dan embung. "Kondisi ini membuat debit air menyusut drastis, bahkan mulai mengering di beberapa titik," tuturnya.
Akibatnya, warga di Desa Natai Baru harus berjuang ekstra untuk memenuhi kebutuhan air bersih, baik untuk konsumsi maupun keperluan rumah tangga lainnya.
Baca Juga: BMKG Sarankan Petani Pilih Varietas Tahan Kering, Antisipasi Kemarau Panjang
Menyikapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Barat langsung turun tangan.
Penyaluran bantuan air bersih dilakukan secara rutin untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
“Pemerintah melalui BPBD Kobar rutin menyuplai air ke masyarakat terdampak,” kata Alpius.
Tidak hanya itu, BPBD bersama instansi terkait juga melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu (1/4/2026).
Baca Juga: Mentan Andi Amran: Stok Pangan RI Aman hingga 11 Bulan ke Depan, Siap Menghadapi El Nino Godzilla
"Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan koordinasi dengan pemerintah desa serta Dinas PUPR di Kantor Desa Natai Baru guna menyusun langkah penanganan. Tim juga meninjau langsung embung di RT 04 yang menjadi sumber air utama warga, namun kini mengalami penyusutan debit yang signifikan," paparnya.
Selain itu, tim turut mengecek lokasi bekas sumur bor di RT 06 yang sudah tidak digunakan, serta sumber air alternatif berupa galian parit di RT 10. Dari hasil pemantauan, hampir seluruh sumber air tersebut tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, proses penanganan di lapangan berjalan lancar tanpa kendala berarti. Pemerintah daerah memastikan langkah cepat terus dilakukan, terutama untuk penanganan jangka pendek melalui distribusi air bersih.
“Untuk jangka pendek sudah ditindaklanjuti BPBD dan Dinas PUPR dengan menyuplai air bersih ke lokasi terdampak,” jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Sesumbar! Tegaskan Berpengalaman Hadapi El Nino Godzilla, Terparah di Tahun 2015
Sementara itu, untuk penanganan jangka menengah dan panjang, pemerintah akan melakukan pembahasan lebih lanjut di tingkat pimpinan guna mencari solusi permanen atas persoalan kekeringan yang berpotensi berulang setiap musim kemarau.
Menurutnya, kondisi ini menjadi peringatan dini bagi wilayah lain di Kalimantan Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan. "Masyarakat agar bijak dalam menggunakan air serta menjaga sumber daya air yang ada, terutama di tengah ancaman musim kemarau yang diperkirakan masih akan berlangsung," ucapnya.
Menyikapi kekeringan yang terjadi di wilayah Kobar ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) melakukan penyaluran air bersih. Dengan mengirimkan dua tangki sesuai dengan permintaan yang dilakukan setiap harinya. Hal ini disampaikan oleh Plt Kepala Dinas PUPR Kobar Suryadi, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, Dinas PUPR Kobar melalui tim satgas langsung respon cepat dengan adanya kejadian kekeringan di Desa Natai Baru dan Desa Bungur. Pihaknya bersama jajarannya langsung menyalurkan air bersih dengan menggunakan mobil tangki.
"Kami tentunya melakukan upaya membantu masyarakat dengan menyalurkan air bersih. Kami gandeng PDAM Tirta Arut yang nantinya bisa diberikan kepada masyarakat,"katanya.
Suryadi menambahkan, nantinya untuk memperluas jangkauan pipanisasi pada desa desa yang masuk rawan kekeringan pada saat memasuki musim kemarau. Pihaknya juga menambahkan bahwa air baku merupakan air mentah yang belum melalui proses pengelolaan dan menjadi sumber utama dalam penyediaan air bagi masyarakat. Dimana ketersediaan air baku yang memadai dan berkualitas menjadi pondasi penting dalam menjamin ketahanan air bersih bagi masyarakat.
"Kami terus upayakan pembangunan infrastruktur pembangunan sumber daya air bersih,"ucapnya. (zia/son/ala)
Editor : Ayu Oktaviana