SAMPIT-Polemik pembangunan gereja di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini berbuntut panjang.
Surat keterangan yang mencantumkan izin pembangunan gereja di wilayah tersebut tidak dapat dikeluarkan karena beberapa hal itu kini menyita perhatian publik.
Kepala Desa (Kades) yang menanda tangani surat itupun tak luput dari perhatian.
Terbaru, kades wilayah tersebut diminta agar meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Kalimantan Tengah.
Reaksi keras muncul dari akun Facebook bernama Andreas Junaedy ApankBontang, yang menyuarakan kritik tajam melalui unggahan di media sosial Facebook, Senin (21/7/2025).
Sambil menampilkan screenshoot chat WhatsApp miliknya bersama Kades Sumber Makmur, Andreas menyebut telah menghubungi langsung kepala desa tersebut terkait surat penolakan pembangunan gereja.
Dalam unggahannya, ia menilai kepala desa bersikap berbeda saat dihubungi langsung, dan mendesaknya untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka di Palangka Raya.
"Kita beri waktu orang untuk meminta maaf ke masyarakat Kalteng secara langsung di tengah bundaran besar, depan Istana Gubernur di Palangka Raya secara langsung," tulis Andreas.
Ia mengingatkan, jika permintaan maaf tidak dilakukan, maka kepala desa dan warga yang terlibat penolakan bisa menghadapi konsekuensi sosial yang lebih besar.
Hal ini dianggap penting mengingat sensitivitas isu penolakan pendirian rumah ibadah di wilayah Kalimantan Tengah.
"Kalau tidak, dia dan warganya akan bermasalah besar dengan warga Kalteng akibat penolakan pendirian rumah ibadah (gereja) di Desa Sumber Makmur," tegasnya.
Andreas juga menyuarakan bahwa apabila tidak ada itikad baik dari kepala desa, masyarakat siap mengambil langkah lebih lanjut, termasuk mendatangi langsung rumah kepala desa dan membawa permasalahan ini ke ranah hukum serta instansi pemerintah provinsi.
"Kalau memang orang ini tidak ada itikad baik, mari kita jemput ke rumahnya, kita bawa ke Polda Kalteng dan Kantor Gubernur Kalteng," tambahnya.
Postingan itu sontak dibanjiri komentar warganet. Sebagian besar mendukung aksi permintaan permohonan maaf tersebut.
“Mantap pak,, tidak ada ruang bagi intoleran bibit2 terorisme agama,” komentar akun Ridwan Hakim.
Komentar lain juga menunjukan hal senada. Menurutnya, Kalteng memiliki falsafah Huma Betang yang kental dengan toleransi.
“Di Kalteng warga asli orang Dayak falsafah huma betang… Toleransi umat beragama no 1,” tulis akun Ny Liza Kurniawan. (mif)
Editor : Agus Pramono