Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Kecamatan Bagian Selatan Kotim Masuk Zona Merah Karhutla

Agus Pramono • Jumat, 25 Juli 2025 | 11:05 WIB

Petugas melakukan pemadaman karhutla.
Petugas melakukan pemadaman karhutla.
SAMPIT - Pada penghujung Juli 2025 membawa peringatan serius bagi Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).


Di tengah musim kering, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menunjukkan tren peningkatan, terutama di wilayah-wilayah yang dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran.


Fenomena ini tidak datang tiba-tiba. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, menuturkan bahwa pihaknya telah mengamati lonjakan potensi kebakaran sejak dasarian ketiga bulan Juli.

 

“Memang harapan kita tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Namun, data yang kami kumpulkan menunjukkan gejala peningkatan di beberapa kawasan rawan. Risiko mulai meningkat,” ujar Multazam, Jumat (25/7/2025).


Ia menjelaskan bahwa tantangan utama dalam penanganan karhutla di Kotim terletak pada luasnya cakupan wilayah yang harus dijangkau tim pemadam.


Untuk memperkuat respons di lapangan, BPBD mendapat dukungan dari Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Provinsi Kalimantan Tengah melalui pembentukan delapan pos lapangan. Pos-pos ini diperkuat oleh Tim Masyarakat Peduli Api (MPA) yang telah mendapat pelatihan khusus.


“Tim terbagi dua, ada yang berasal dari kelompok MPA terlatih, dan ada pula perwakilan desa. Meskipun berjalan secara paralel, tujuannya tetap sama: membangun kesiapsiagaan,” jelasnya.


Sejumlah kecamatan di bagian selatan Kotim disebut sebagai zona merah karhutla. Beberapa daerah dengan tingkat risiko tertinggi antara lain Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Utara, Seranau, Kotabesi, dan Cempaka Mulia Timur.


“Kalau kita petakan berdasarkan arah, wilayah selatan itu memang paling tinggi kerawanannya,” katanya.


Meski potensi ancaman meningkat, ada perkembangan positif yang disorot BPBD: keterlibatan masyarakat dalam pencegahan kebakaran dinilai lebih cepat dan proaktif.
Respons langsung terhadap kemunculan asap, bahkan yang hanya berasal dari pembakaran sampah, menjadi kebiasaan baru di beberapa desa.


“Begitu ada asap, warga langsung turun cek ke lapangan. Bahkan ketika hanya melihat tumpukan daun dibakar, mereka tidak segan menegur pelakunya dengan cara yang humanis,” tuturnya.


Ia menegaskan bahwa penanggulangan bencana, khususnya karhutla, tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Partisipasi aktif masyarakat menjadi penentu utama keberhasilan pengendalian.


“Kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Dan itu sangat kita harapkan, karena menghadapi bencana tidak bisa sepihak. Perlu kolaborasi seluruh elemen, termasuk masyarakat,” pungkasnya.(mif/ram)

Gambaran pilihan formasi Massimiliano Allegri di AC Milan yang butuh sejumlah pemain inti dengan harga yang tak sedikit.
Gambaran pilihan formasi Massimiliano Allegri di AC Milan yang butuh sejumlah pemain inti dengan harga yang tak sedikit.
Gambaran formasi AC Milan 2025-2026 yang diprediksi sejumlah pihak.
Gambaran formasi AC Milan 2025-2026 yang diprediksi sejumlah pihak.
Editor : Anisa Bahril Wahdah
#Karhutla 2025 #Zona Merah Karhutla #masyarakat peduli api #kalimantan tengah #kotim #kesiapsiagaan bencana #kebakaran hutan #Cempaka Mulia #Teluk Sampit #musim kemarau #Ujung Pandaran #bpbd kotim