SAMPIT – Kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga beberapa bulan ke depan tidak hanya berdampak pada potensi karhutla, tetapi juga mulai mengancam ketersediaan air bersih dan sektor pertanian di Kotawaringin Timur (Kotim).
Bupati Kotim, Halikinnor, menyebut wilayah selatan menjadi daerah yang paling rentan mengalami krisis air.
“Di daerah selatan, air bisa menjadi payau karena tidak ada hujan, sehingga perlu disuplai dari daerah yang memiliki sumber air,” ujarnya Selasa (21/4/2026).
Ia menegaskan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk kemungkinan distribusi air bersih.
“Nanti ada kemungkinan kita harus mendropping air bersih ke daerah selatan, bahkan mungkin juga ke wilayah lain yang mengalami kesulitan air,” katanya.
Menurutnya, seluruh OPD juga diminta bersiap, termasuk dari sisi anggaran dan peralatan.
Selain itu di sektor pertanian, dampak kemarau panjang dipastikan akan terasa, terutama pada produksi hasil tani.
“Penurunan produksi pasti ada, tapi kita harapkan tidak signifikan karena sudah diantisipasi dengan varietas tanaman yang tahan terhadap kemarau,” ujarnya.
Ia berharap langkah antisipasi yang dilakukan sejak awal dapat menekan dampak kemarau agar tidak meluas.
“Harapannya semua bisa kita siapkan sejak dini, sehingga dampaknya tidak terlalu besar bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana