SAMPIT-Musim kemarau mulai terasa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Cuaca panas terik dan berkurangnya intensitas hujan menjadi tanda musim kering tahun ini.
Musim kemarau kali ini diprediksi bakal lebih panjang dan kering akibat fenomena El Nino. Selain ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), kekeringan dan krisis air bersih juga menghantui sejumlah wilayah.
Baca Juga: Kemarau Ekstrem Mengintai Kotim, BPBD Ingatkan Warga Antisipasi Karhutla
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim sendiri belum menerima laporan terkait kekeringan maupun krisis air bersih. Namun, kondisi tersebut diprediksi mulai terjadi pada pertengahan Juli 2026 mendatang.
“Untuk kekeringan, prediksi kami akan mulai terjadi pada pertengahan atau akhir bulan Juli,” katanya, Sabtu (27/6/2026).
Dari sejumlah wilayah di Kotim, beberapa titik biasanya menjadi langganan kekurangan air bersih. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, hingga sebagian wilayah pesisir lainnya.
Masyarakat di wilayah tersebut masih banyak yang mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, saat musim kemarau tiba, air sungai di wilayah tersebut berubah menjadi payau dan asin.
Baca Juga: Kemarau Panjang Picu Ancaman Air Bersih dan Produksi Pertanian di Kotim
“Wilayah selatan selalu menjadi perhatian kami. Di sana sebagian masyarakat masih mengandalkan air hujan untuk kebutuhan,” bebernya.
Saat ini, cadangan air yang dimiliki masyarakat di sejumlah wilayah masih dinilai cukup. Namun, apabila curah hujan terus berkurang, ancaman kekeringan dan krisis air bersih bisa terjadi.
BPBD Kotim saat ini masih melakukan pemantauan kondisi di lapangan serta berkoordinasi dengan pihak terkait. Antisipasi tersebut penting mengingat kesulitan air bersih dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Baca Juga: Kecamatan Teluk Sampit Jadi Wilayah Berisiko Tinggi Terjadi Karhutla
Pemkab Kotim sendiri telah menyiapkan strategi untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah yang mengalami krisis air.
“Nanti ada kemungkinan kita harus menyalurkan air bersih ke daerah selatan dan wilayah lain yang mengalami kesulitan air,” imbuhnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana