SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sejumlah titik api masih menyala, bahkan kebakaran di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentaya Hulu, telah berlangsung selama 11 hari dan masih terus dipantau melalui patroli udara.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengatakan kondisi paling mengkhawatirkan masih terjadi di Desa Eka Bahurui yang terbakar sejak 3 Juli lalu. Hingga Selasa (14/7/2026), api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
“Desa Eka Bahurui sejak tanggal 3, sekarang tanggal 14, memang 11 hari, masih terbakar. Visual melalui patroli udara BNPB tetap memonitor wilayah tersebut,” ujarnya saat dikonfirmasi Kaltengpos.jawapos.com.
Menurut Multazam, upaya pemadaman dari udara telah dilakukan sebanyak dua kali menggunakan helikopter water bombing.
Sempat terlihat adanya penurunan intensitas asap, namun kobaran api kembali muncul karena karakteristik lahan gambut yang sulit dipadamkan hingga ke bagian bawah permukaan tanah.
“Sudah dua kali helikopter water bombing ke lokasi tersebut. Kemarin sebenarnya sudah mulai menipis asapnya, tapi hari ini kembali terbakar lagi. Memang kalau kebakaran gambut ini yang paling efektif adalah pasukan darat, cuma problemnya pada ketersediaan air pemadam,” katanya.
Ia menjelaskan, medan menuju titik kebakaran menjadi tantangan tersendiri. Tim bahkan harus membuka jalur baru agar selang pemadam dapat menjangkau lokasi api yang berada jauh dari sumber air.
“Di lokasi tersebut kami sudah lakukan pengecekan. Jarak antara sumber air di sistem drainase Eka Bahurui sampai titik api cukup jauh. Beberapa hari lalu kami harus membuat jalan rintisan dulu. Jarak dari sumber air ke titik kebakaran bagian belakang sekitar 750 meter atau kurang lebih membutuhkan 26 selang,” jelasnya.
Selain Eka Bahurui, kebakaran di Desa Soren juga masih berlangsung memasuki hari keenam. Meski intensitas api mulai menurun, petugas gabungan tetap berupaya melakukan pemadaman agar kebakaran tidak kembali membesar.
“Desa Soren hari ke-6 masih on fire, walaupun sudah mengecil, mudah-mudahan bisa diatasi dalam beberapa hari terakhir,” katanya.
Di tengah upaya memadamkan kebakaran yang sudah terjadi, BPBD juga dihadapkan dengan munculnya sejumlah titik api baru. Salah satunya terjadi di kawasan Lembur Kuring yang penanganannya terkendala akses menuju lokasi.
Meski demikian, tim yang diterjunkan dengan membawa pompa portabel berhasil menghambat penyebaran api hingga sebagian besar area dapat diamankan.
“Ada banyak lokasi kebakaran baru, di antaranya Lembur Kuring. Hambatannya tidak bisa dilewati kendaraan roda enam. Tapi tim yang masuk dengan pompa portable sudah kembali dan api bisa kita padamkan. Kurang lebih 90 persen sudah berhasil kita blokir,” jelasnya.
Titik kebakaran baru juga terkonfirmasi di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 11.
Proses pemadaman dilakukan menggunakan kendaraan roda empat dan mesin pompa portabel karena lokasi tidak memungkinkan dijangkau armada yang lebih besar.
Sementara itu, kebakaran lahan di Jalan MT Haryono Barat juga berhasil dipadamkan.
Multazam mengungkapkan, dua malam sebelumnya petugas juga menangani kebakaran di lokasi yang sama yang diduga dipicu aktivitas pembakaran sampah di pinggir jalan.
“Orang membakar sampah di pinggir jalan itu dan sudah mulai membesar, tapi Alhamdulillah bisa segera kita tangani dan padam,” ungkapnya.
Karhutla juga dilaporkan terjadi di Desa Ramban, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Namun karena keterbatasan armada dan personel, BPBD meminta bantuan pemerintah kecamatan untuk melakukan penanganan awal di lapangan.
Multazam mengakui personel yang dimiliki saat ini mulai kelelahan karena harus menangani banyak lokasi kebakaran secara bersamaan, sekaligus tetap bersiaga menghadapi potensi munculnya titik api baru pada malam hari.
“Kami terbatas sekali, baik personel maupun armada. Personel juga dalam kondisi stamina sudah habis. Sementara malam mereka harus standby lagi secara bergantian,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Pramono