Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Juli Menjadi Bulan Terparah Karhutla di Kotim, Hotspot Tembus 115 Titik

Miftahul Ilma • Jumat, 17 Juli 2026 | 19:30 WIB
Kebakaran lahan di Sampit.(BPBD)
Kebakaran lahan di Sampit.(BPBD)

 

SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menunjukkan tren mengkhawatirkan. Baru memasuki pertengahan Juli 2026, jumlah hotspot yang terdeteksi sudah mencapai 115 titik. Angka itu menjadi kemunculan titik panas terbanyak sepanjang tahun ini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam mengungkapkan, secara kumulatif sejak Januari hingga pertengahan Juli, jumlah hotspot telah melampaui 300 titik. Namun, lonjakan paling signifikan terjadi pada Juli.

“Kalau Juli sendiri sudah 115 hotspot. Ini menjadi yang paling tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya, bahkan sudah melampaui Januari,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, peningkatan hotspot sejalan dengan memburuknya kondisi musim kemarau. Berdasarkan perkiraan BMKG, kondisi itu masih akan berlangsung selama empat hingga lima bulan ke depan. 

Selain meningkatnya jumlah hotspot, luas lahan yang telah terbakar dan berhasil ditangani petugas hingga kini juga mencapai sekitar 145 hektare.

“Luasan yang sudah tertangani sekitar 145 hektare,” katanya.

Multazam menjelaskan, titik panas yang terpantau satelit tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Pada kebakaran lahan gambut, api kerap terus menyala di bawah permukaan tanah meski tidak lagi terdeteksi sebagai hotspot.

“Hotspot itu sifatnya fluktuatif. Satelit membaca panas atau asap. Padahal banyak kebakaran gambut yang apinya masih ada di bawah, tetapi tidak lagi terbaca sebagai hotspot,” jelasnya.

Ia mencontohkan kebakaran di Desa Eka Bahurui yang lebih dari sepekan masih menyala di dalam lapisan gambut. Proses pemadaman pun membutuhkan upaya ekstra karena sumber air berada sangat jauh dari lokasi api.

“Kami sampai membentangkan selang sekitar 750 meter atau 26 sambungan hanya untuk menjangkau titik api. Bahkan satu unit pompa sempat rusak karena dipaksa bekerja dalam jarak sejauh itu,” ungkapnya.

Di tingkat provinsi, Multazam menyebut Kotim saat ini menempati peringkat kedua daerah dengan luas kebakaran terbesar setelah Kabupaten Pulang Pisau. Namun, jika dilihat dari frekuensi kejadian, Kotim menjadi daerah dengan jumlah kebakaran terbanyak.

“Kalau dari sisi luasan memang nomor dua setelah Pulang Pisau. Tapi kalau frekuensi kejadian, terbanyak ada di Kotim,” imbuhnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
gambut kebakaran bmkg karhutla bpbd kotim