Karhutla di Kabupaten Kotim Bertambah Hampir 20 Hektare dalam Empat Hari

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 13:30 WIB
Pemadaman karhutla di Kotim.(BPBD)
Pemadaman karhutla di Kotim.(BPBD)

 

SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menunjukkan tren peningkatan. Dalam rentang empat hari, luas lahan yang terbakar bertambah hampir 20 hektare, seiring munculnya belasan kejadian baru di sejumlah wilayah.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim per Sabtu (18/7/2026) mencatat total lahan yang terdampak karhutla mencapai 171,39 hektare. Angka itu bertambah 19,67 hektare dibandingkan data Selasa (14/7/2026) yang tercatat seluas 151,71 hektare.

Baca Juga: Hadew, Sudah Tahu Lagi Musim Karhutla, Alat Pemantau Kualitas Udara di Kotim Kok Rusak

Pada periode yang sama, jumlah kejadian karhutla juga meningkat dari 72 menjadi 84 kasus. Sementara itu, titik panas (hotspot) naik dari 372 menjadi 412 titik.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla masih jauh dari selesai. Terlebih, musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung cukup lama.

“Melihat prediksi BMKG, musim kemarau masih akan berlangsung sekitar empat sampai lima bulan ke depan. Apabila langkah antisipasi tidak diperkuat, potensi karhutla diperkirakan akan terus meningkat,” ujarnya, Senin (20/7/2026).

Berdasarkan pemetaan BPBD, Kecamatan Baamang menjadi wilayah yang mengalami peningkatan paling signifikan. Luas lahan terbakar di kecamatan tersebut melonjak dari 24,02 hektare menjadi 43,69 hektare hanya dalam waktu empat hari.

Baca Juga: Karhutla Mulai Bermunculan di Kalteng, DPRD Ingatkan Ancaman Kabut Asap, Minta Kolaborasi dan Pencegahan Diperkuat

Secara keseluruhan, kawasan tengah Kotim masih menjadi wilayah dengan dampak karhutla terluas, yakni mencapai 97,60 hektare atau sekitar 56,95 persen dari total area terbakar. Wilayah selatan menyusul dengan luas 72,33 hektare atau 42,21 persen, sedangkan wilayah utara tercatat 1,45 hektare atau 0,85 persen.

Multazam menjelaskan, proses pemadaman di lapangan menghadapi berbagai kendala. Sebagian besar titik api berada di lahan gambut yang mudah menyimpan bara, sementara sumber air di sekitar lokasi mulai mengering akibat musim kemarau.

“Mayoritas kebakaran terjadi di lahan gambut. Kondisi itu diperparah karena sumber air di sekitar lokasi pemadaman sudah sangat terbatas,” katanya.

Selain keterbatasan air, akses menuju lokasi kebakaran juga menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Banyak titik api berada jauh dari jalan yang dapat dilalui kendaraan pemadam sehingga penanganan harus dilakukan menggunakan sambungan selang dalam jarak yang sangat panjang.

Baca Juga: Karhutla di Bagian Selatan Kabupaten Kotim Bisa Berdampak Kabut Asap Menyelimuti Kota Sampit

“Pernah ada titik api yang berjarak sekitar 750 meter dari posisi kendaraan. Untuk menjangkaunya kami harus menyambung sekitar 26 hingga 30 selang, bahkan dalam proses itu satu pompa air sempat mengalami kerusakan,” ungkapnya.

BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api, agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
kebakaran karhutla musim kemarau pemadaman bpbd kotim