Wilayah Pesisir Kotim Rawan Diare di Musim Kemarau Panjang, Dinas Kesehatan Beberkan Penyebabnya

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi diare
Ilustrasi diare

 

SAMPIT – Memasuki musim kemarau, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memberi perhatian khusus terhadap wilayah pesisir yang dinilai paling rentan mengalami peningkatan kasus diare. Berkurangnya cadangan air bersih dan berubahnya kualitas air menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko penyakit tersebut.

Berdasarkan data Dinkes Kotim, sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026 tercatat 3.852 kasus diare di berbagai wilayah. Meski kenaikannya belum tergolong signifikan, pemantauan terus diperketat seiring berlangsungnya musim kemarau.

Baca Juga: Kemarau Datang, Krisis Air Bersih Menghantui Sejumlah Wilayah di Kabupaten Kotim

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan daerah selatan menjadi kawasan yang paling diwaspadai setiap musim kemarau.

“Kalau wilayah selatan memang setiap musim kemarau pasti rawan. Persediaan air hujan menipis, kemudian air laut naik sehingga kandungan garam masuk ke sungai,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat yang mengandalkan air hujan harus mencari sumber air alternatif yang kualitasnya belum tentu layak dikonsumsi. Situasi itu berpotensi meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman.

“Ketika ketersediaan air bersih berkurang, risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman juga bisa meningkat. Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kebersihan air yang digunakan,” katanya.

Baca Juga: Kemarau Panjang Picu Ancaman Air Bersih dan Produksi Pertanian di Kotim

Selain wilayah pesisir, Dinkes mencatat jumlah kasus diare terbanyak masih ditemukan di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Baamang, dan Cempaga. Pemantauan di daerah-daerah tersebut juga terus dilakukan selama musim kemarau.

Nugroho menjelaskan, diare dapat menyerang semua kelompok usia. Namun, bayi dan balita menjadi kelompok yang paling rentan karena lebih mudah mengalami dehidrasi.

Karena itu, masyarakat diminta segera melakukan penanganan awal apabila mengalami diare dengan mengganti cairan tubuh yang hilang menggunakan oralit atau larutan gula garam.

“Setiap diare harus segera ada penggantian cairan. Bisa dengan oralit atau larutan gula garam. Jangan menunggu sampai kondisinya berat,” bebernya.

Baca Juga: Empat Desa yang Ada di Kabupaten Kotim Mulai Krisis Air Bersih

Ia juga mengimbau masyarakat segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami buang air besar cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam waktu singkat, terutama jika disertai tubuh lemas, rasa haus berlebihan, atau tanda-tanda dehidrasi.

Di samping itu, Dinkes terus mengingatkan pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan makanan, serta menggunakan air yang aman untuk dikonsumsi sebagai langkah sederhana untuk mencegah diare selama musim kemarau. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
larutan gula garam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) air bersih musim kemarau diare